Literature

[CERPEN]: FIKSI

cerita-fiksi
source: google.com

Set: Theater!Universe
Genre: Coming-of-age/Drama/Romance
Mereka hanyalah aktor—menyampaikan kalimat-kalimat dalam sebuah skenario fiksi.

Warning! Ahead

ACT I. DRUPADI 

Scene I. Teater Koma

Hari ini adalah hari yang menyenangkan.

Langit-langit teater disepuh emas dan merah menggebu. Seperti pesta perayaan musim panas yang menghangatkan kalbu. Ribuan pasang mata itu mengikuti langkah para pemain di atas panggung kayu, menunggu dengan hati berdesir, mulut ternganga pada tiap kalimat yang meluncur tak ternyana. Bintang-bintang telah terlempar dari angkasa menghujani teater yang terselubungi kabut kental berduri merah kelabu.

Kristal adalah seorang aktris yang baik.

Serbuk bintang itu menyusup ke dalam bola matanya yang seperti kacang almond. Ia mengenakan kain sari berwarna merah, kulitnya yang cerah dibiarkan demikian adanya selain pulasan gincu yang menyala sama dengan kostum yang dikenakan. Menggambarkan dirinya sebagai Drupadi: putri kerajaan Panchala yang terlahir dari api. Suaranya bulat, di antara alto dan soprano, dan pastilah terdapat sihir dalam tiap melodi yang ia lantunkan. Sekalipun ia tidak bernyanyi. Kristal mengucapkan nada-nada.

Dan malam itu wajahnya bak rembulan. Delta tidak ingat kapan Kristal terlihat lebih cantik dari momen dimana ia melangkah ke atas panggung, membawakan monolog pertamanya.

Malam itu bukan hanya penonton yang tersihir. Delta yakin sepotong jiwa telah terbelenggu mantranya.

Drupadi telah jatuh cinta pada Arjuna—dirinya, tetapi apapun yang dimiliki seorang Pandawa maka menjadi miliki saudara Pandawa yang lain.

Penonton pun terbelenggu mantra yang sama. Para kritikus memuji mereka setinggi singgasana dewa-dewa. Mereka sudah mementaskan adaptasi ini di kota besar seluruh negeri. Dan Kristal pantas mendapat sorotan utama karena ia adalah seorang aktris yang baik.

Delta menatap kakak sulung yang ditakdirkan sebagai raja di antara raja, Yudhistira—mempertaruhkan harta, takhta, bahkan adik-adiknya di atas meja judi. Termasuk dirinya sendiri.

Sekelibatan jiwa yang tak biasa itu timbul tenggelam dari tingkap oval milik sang kakak sulung—Kai tidak pernah tampil lebih baik daripada malam ini. Delta hampir yakin bahwa itu bukanlah topeng belaka.

Yudhistira hanya memiliki satu pertaruhan terakhir: Drupadi. Segalanya atau tidak sama sekali.

Drupadi diseret bagai seekor kuda dan dipermalukan di istana terhormat itu. Sementara kelima suaminya serta para tetua hanya bisa terdiam. Ia berontak—memperjuangkan harkatnya sebagai seorang wanita yang dipertaruhkan oleh suaminya sendiri di meja judi. Apakah Yudhistira yang bahkan telah menggadaikan dirinya sendiri masih mempunyai hak atas dirinya?

Lolongan wanita itu memecah keheningan malam—sedetik kemudian para penonton tersentak. Kain yang membelit tubuhnya secara ajaib tidak habis tatkala para Kurawa berusaha menelanjanginya.

Mungkin penderitaan adalah jalan sunyi menuju keindahan yang lebih abadi…

Tirai beludru merah melingkupi panggung dalam bayangan gelap. Ketika pertunjukkan benar-benar akhir, para penonton berdiri memberikan standing ovation dan bersuit heboh. Puncakan auditorium itu nyaris bergetar oleh gema tepukan tangan yang kian tinggi desibelnya. Delta menempatkan diri di antara pemain lain sementara pemeran tambahan dan ekstra mulai mengular ke tengah panggung  saling beradu bahu.

“ Luar biasa. “ Kulitnya seraya beledu yang meluncur melewati bahunya yang resap oleh keringat eksitasi. Delta lebih dari sekadar mendengarnya—entitas Kai seolah hantu yang mengusap ujung kepalanya. Suaranya sarat runcing ujung anak panah dan seringai.

Tatkala tirai kembali terbuka, mereka membungkuk sekali lagi kepada penonton yang masih bertepuk tangan membahana.

Kai adalah supernova. Pertunjukan ini adalah tentang Drupadi. Tapi dia adalah bintangnya, setidaknya bagi Delta.

“ Terima kasih, “ Ia bergumam hingga hanya Kai yang mampu mendengarnya. Telapak tangannya meluncur hingga jemari mereka bertautan di antara kain yang membalut.

Para pemain memberikan satu bungkukan terakhir. Dan tatkala Delta mengangkat pandangannya ia yakin bahwa malam itu ia jatuh cinta.

Arjuna telah menemukan cintanya. Pada sang putri yang terlahir dari api.

Scene II. Jalanan Ibu Kota

Mereka sengaja memilih jalanan pinggiran kota.

Pseudo-Jakarta tidak pernah tidur. Jalan raya menjadi sirkuit kendaraan bermotor berdesing ke empat arah mata angin, streamline mereka tergambar jelas pada peta, dengan gurat-gurat jalur yang dengan mudah terdeteksi dari sisa emisi yang knalpot mereka tinggalkan.

Delta selalu yakin bahwa tidak ada persahabatan di dunia hiburan, terlebih dalam seni peran.

Kata itu seperti asap kelabu yang dapat terlihat wujudnya namun ia buyar seketika jemari mencoba menggenggamnya. Ia bahkan lebih rapuh daripada air. Ilusi rasa nyaman itu bisa dirasakan namun mencekik—kau tidak bisa mengharapkan dosis tinggi dalam sebuah persahabatan.

Ia hanya melakukan apa yang dirinya sukai. Apakah ia seorang prodigi dengan talenta laten? Delta hanya gemar mengenakan topeng-topeng yang terpasang di dinding bernama emosi dan ekspresi. Mungkin kadang ia terlalu bagus dalam memilih dan mengenakan topeng tersebut.

Setelah malam ini, ia semakin yakin bahwa inilah yang memang ia sukai. Yang ia inginkan. Yang bakal tetap membuat jiwanya tak pernah kering karena dahaga untuk menjadi dirinya sendiri. Karena inilah dia, seorang aktor.

Itulah yang Delta yakini hingga Kai memasuki panggung kehidupannya dalam tarian berima.

Seperti sebuah persamaan aljabar yang sulit untuk diselesaikan. Atau seperti menemukan bilangan polinomial untuk diterjemahkan ke dalam diagram Cartesian. Bahwa dia adalah kesetimbangan dalam hukum aksi-reaksi. Atau sebuah reaksi kimia yang irreversible.

Kai, Kai, Kai…

Mereka merayakannya hanya dengan sekaleng soda dan sekantong besar kentang goreng.

Bagi Delta, malam itu ada serbuk bintang sungguhan yang menghiasi manik matanya. Dengan tarian lidah api. Sekelibat jiwa yang tak biasa.

ACT II. KSATRIA, PUTERI, DAN BINTANG JATUH

Scene I. Jembatan Gantung Ibu Kota

Ia menghisap rokoknya dalam satu tarikan napas.

Udara yang dihembuskan begitu tipis dalam gradasi kuning dan baru diantara lampu sodium yang menjulang lima meter di atas mereka. Udara yang lebih tipis dari kepengapan suasana di balik layar, menggulung menerjang aliran air sungai. Kai adalah supernova karena serbuk bintang itu sekali lagi menghiasi tingkap ovalnya.

Jemarinya mendetakkan ritme statis di atas pembatas baja. Satu dua, satu dua. Panggungnya kali ini adalah jalanan beraspal yang dingin.

Mungkin itu tidak benar-benar serbuk bintang. Delta mengedipkan matanya lagi, itu adalah serbuk kilap dari riasan yang ia kenakan untuk pertunjukan tadi malam. Kenapa pekerjaan membersihkan sisa riasan ia selesaikan dengan tak beraturan? Tiap kali ia mengedip glitter itu berguguran menghinggapi tulang pipinya yang impresif seperti lucutan mimpi buruk yang hendak bermain di latar panggung.

“ Kau tahu apa yang kita miliki dan bagi sekarang ini?” Ia bertanya seraya menghembuskan cincin asap berisikan tar dan nikotin ke udara terbuka yang lembab. Dalam interval waktu, ia memainkan pangkal rokok itu di antara jemarinya.

Delta tidak menyukai pertanyaan itu. Sangat. Karena ia tidak memiliki jawaban atasnya. Dan tidak mengetahui ataupun tidak memiliki adalah dua hal yang sangat ia benci.

Delta dan Kai nyaris tidak banyak mengobrol selain di luar teater dan pertunjukan seperti sekarang ini. Dan sekalipun mereka terlibat pembicaraan itu adalah dalam sebuah dialog tertata, kalimatnya pasti, tertuang dalam skrip, terencana. Apa yang mereka miliki di luar teater lebih dari sekadar itu semua.

“ Apakah itu jadi masalah?” Delta menatap puntung rokok yang selip dari jemari ramping si pemilik dan ujungnya yang menyala jingga padam dalam celupan air sungai kelam.

Sosok itu menghembuskan asap terakhir dari rokoknya, membiarkan butiran kerlip itu kembali berjatuhan dan menari terefleksi lampu jalanan. Delta tidak tahu apakah ia harus merasa kagum atau jengkel dengan Kai yang sama sekali tidak terikat dengan realita, selama hal tersebut bukan menyangkut dirinya ia benar-benar tak acuh. Tetapi antara realita dan cerita, bagi beberapa orang, batas itu begitu kabur seperti tinta yang larut dalam rembesan air.

“ Kau tahu apa itu schadenfreude?”

“ Kebahagian di atas penderitaan orang lain, “ Delta menjawab seketika. “ Hei, apa maksud pertanyaanmu itu—?”

“ Kebahagiaan di atas penderitaan orang lain, “ Ia mengutip seraya bersandar pada dinding jembatan, menghadap sosok yang lain. “ Bukankah itu yang kita punya? Menunggu-nunggu jikalau yang lain dalam grup pertunjukan tergelincir satu silabel kata, agar mereka melakukan satu langkah keliru, dan bersorak dalam batin ketika mereka mendapat kritik yang merendahkan. Hm, kenapa kau tak berpikir bahwa saya pun meloncat kegirangan mengetahui ratingmu jatuh menghantam tanah?”

Improvisasi yang menakjubkan. Atau benarkah?

 

Scene II. Teater Koma

Kristal terlihat begitu gugup.

Sedari tadi siang, ia terduduk di sudut panggung sendirian dengan skrip pertunjukan di atas lantai berlapis kayu. Ia memperhatikan perempuan muda itu bergerak maju mundur seperti sebuah pendulum. Para pemain memiliki kebiasaan—buruk sebelum tampil ke atas panggung. Dari situlah Delta belajar untuk mengatasi demam panggungnya. Untuk sesaat ia tidak berkedip hingga matanya berair.

Di sudut yang lain Kai memulai pemanasan dengan suaranya sementara buku skrip lecek di tergenggam di tangannya dipenuhi lembaran Post-it berwarna yang menyembul. Ia mengangkat matanya dan tatkala tatapan mereka bertemu suaranya mendarat di tangga C minor sebelum ia kembali menyunggingkan senyumannya yang khas. Yang mengisyaratkan semoga beruntung sementara sisi yang lain mengatakan sebaliknya.

Delta segera menghampiri Kristal tatkala sang sutradara mulai menggonggong di balik layar sementara pertunjukan akan dibukan satu jam dari sekarang. Itu adalah kepingan kebenaran, ia memang tampil untuk menyaksikan yang lain jatuh. Tetapi lampu sorot itu tengah mengikuti kemanapun langkah Kristal di atas panggung pertunjukan, mereka selalu mengharapkan lebih darinya karena penonton menganggap dialah simbol kebangkitan dunia teater setelah sekian lama membisu. Dan ia takut. Terlukis jelas di wajahnya.

Tetapi para penonton tidak memperhatikan sang supernova yang melahirkan ribuan bintang lain, bukan?

“ Kau bakal baik-baik saja, “ Delta menyelipkan anak rambutnya di balik telinga. Gestur yang setidaknya benar-benar menenangkan demamnya. Kristal terlihat berusaha untuk menghirup oksigen dalam-dalam untuk dirinya.

Malam itu ia bukanlah siapa-siapa untuk sang Puteri yang menemukan gairah cintanya pada seorang Ksatria. Delta tidak tahu apakah para penonton bisa melihatnya segamblang itu: sorot jiwa yang tak biasa kembali naik ke permukaan. Satu matanya berbicara cinta dan rayuan manis manja sementara yang lain adalah antagonis yang siap mendorong dan membiarkannya jatuh ke dasar jurang.

Tetapi sepasang merpati yang mabuk kepayang itu berbicara dengan bahasa perasaan, berupa ayat-ayat cinta. Siapapun pasti tak akan tega memisahkan mereka berdua. Sementara ia adalah seorang suami yang buruk bagi sang istri yang harus menerima kebohongan tiap harinya sekalipun fakta itu telah terpampang jelas di hadapan.

Jangan pergi. Tetaplah disana, wahai engkau yang sedang jatuh cinta.

“Apa ini semua? Pasar malam kasih sayang? Cinta diobral dan dicuci-gudang? “ Suara Kai berada pada tangga nada yang terombang-ambing, bergetar, seolah seseorang bisa meraba guratan yang tidak pernah merasakan perihnya luka. Kai melarikan pandangannya ke arah para penonton, memarahi mereka dalam monolognya yang membilas jiwa-jiwa itu bak zat analgesik kuat. Selama satu momen yang serasa terseret pasir waktu, tatapan mereka bertemu. “ Yang kudamba juga sederhana. Bukan cinta antik dan berukiran rumit. “

Semua perjalanan hidup adalah sinema. Bahkan lebih mengerikan. Darah adalah darah, dan tangis adalah tangis. Tak ada pemeran pengganti yang akan menanggung sakitmu.

Delta tampil untuk menyaksikan yang lain terjatuh. Tetapi mengapa hatinya seolah tertusuk tatkala adegan demi adegan perselingkuhan itu merambahi pandangannya dan para penonton? Ia adalah Delta yang mengidap perasaan Arwin, sang suami yang ditinggal berselingkuh isterinya. Mungkinkah seorang aktor merasakan perasaan karakternya dengan sebegitu nyata? Ataukah hanya karena dia aktor yang baik?

“ Kau benar, Puteri. “ Tatapan mereka kembali bertemu. “ Perasaan itu sudah mengkristal. Dan akan kusimpan. Selamanya. “

 

Scene III. Bar

Perayaan besar-besaran. Luar biasa. Magnificient.

Ulasan para kritikus film yang memberikan rating di atas delapan dari skala sepuluh. Media massa menjadikan pertunjukan mereka pokok berita di halaman pertama. Mereka adalah sensasi di lembar hiburan. Seluruh penjuru negeri mengakui kemampuan dan talenta para pemain. Rumah produksi berlomba untuk menarik mereka ke layar perak, menjanjikan ketenaran dan pundi-pundi bayaran.

Trio aktor muda yang paling dibicarakan pada tahun ini.

Klik.

Lembaran kertas foto itu mulai menunjukan resolusi dan piksel gambar dua orang yang tersenyum lebar ke arah kamera. Kristal mengenakan jumper  dan kaus lengan panjang dengan rambutnya yang panjang disatukan dalam buntut kuda. Masa demam panggung itu seolah tidak pernah mampir karena Kristal terlihat begitu hidup malam itu. Ia tertawa dengan tetesan ketulusan yang jarang Delta dengar sebelumnya.

Sebelum subuh menjelang, sepupunya datang untuk menjemput. Betapa dia bakal merindukan busur senyumnya, seolah sebuah anak panah cinta meluncur menembus jantungnya.

Sepanjang sisa malam itu, Kai mengabaikan sekelilingnya dan hanya tenggelam bersama benang kusut di dalam benak dan gelas-gelas vodka. Delta tidak pernah tahu tentang kebiasaannya itu. Mereka telah bergabung dalam grup pertunjukan yang sama selama lebih dari tiga tahun dan Kai selalu sukses dalam membuatnya merasa terkejut—dan jengkel.

“ Saya tidak tahu kau suka minum—apa kau sudah cukup umur?” Dari penampilannya, jelas tidak.

Kai mengaduk kubus es di dalam gelasnya. Lagi-lagi ia berantakan dalam urusan merapikan diri usai pertunjukan. Di ujung garis wajahnya terdapat sisa riasan yang terlihat aneh di bawah sinar lampu bar yang redup. Ia terlihat begitu palsu, seperti sebuah manekin. Sebuah karakter.

Tatapannya tertuju pada bartender yang tengah merapikan gelas-gelas kaca dan menggantungnya terbalik, membiarkan mereka beradu dalam frekuensi rendah yang sulit diterima telinga biasa. “ Pertanyaan saya adalah, kenapa kau bertanya seolah kau peduli? Memangnya kau tidak tahu? “

Seolah dia peduli? “Saya adalah temanmu. “

“ Teman?” Ia mendengus. Bahkan Delta tahu bahwa ia sama sekali tidak tahu poin apa yang coba ia buktikan dengan berkata demikian. Ia merasa teralu banyak ketidakjujuran dalam kalimatnya. “ Siapakah yang bilang bahwa hal itu bukan masalah? Jika saya adalah temanmu, mengapa kau bahkan tidak tahu berapa usia saya?”

Baiklah. Delta benar-benar tidak bisa mengutarakan apapun.

Kai menenggak sisa minuman di dalam gelasnya. Ia terlihat sangat terbiasa dengan alkohol. Sekian gelas dan ia masih bisa terlibat pembicaraan dengan kelima inderanya.

“ Teman? Saya tidak butuh teman. “ Kai meludahkan kalimat itu seolah makanan yang berubah menjadi arang di dalam mulutnya.

Dan sejujurnya, Delta tidak tahu apa yang mereka miliki dan bagi.

ACT III. ARISAN!

Scene I. Teater Koma.

Pada percobaan ketiga seperti sebuah adiksi.

Adegan ini begitu familiar. Seperti yang terkatakan, yang pertama adalah sebuah kebetulan. Jemari yang saling bertaut mencari di antara kegelapan panggung di atas permukaan kulit yang telah mengakrabi satu sama lain.

Sensasi yang dirasakan selalu sama seolah pertama kali. Penonton menahan napas dan teater itu terselubung kesunyian yang menyumbat kerongkongan. Sementara Delta menghirup tiap partikel karbon yang melewati garis mulutnya yang terbuka dalam seringai. Ia menatap di balik bulu mata pada si pemuda. Kehadiran dirinya bak tinta permanen di atas perkamen kehidupan.

Para penonton hanya melihat sepasang pemuda yang saling melepas kalor bagi jiwa yang membeku. Tetapi bagi Delta ini adalah satu-satunya kebenaran yang mampu ia pungut dari jalanan, tidak ada keraguan di dalamnya.

Dalam kisah Laila dan Majnun, mereka tidak saling mencinta seperti yang mereka lakukan. Mereka tidak tergila-gila pada cinta sehingga menjadi gila karenanya. Kata itu terasa begitu asing bagi telinga dan degup jantung mereka. Lalu apa yang bisa dikatakan pada selembar benang tipis yang menghubungkan di bawah rusuk mereka?

Entahlah.

Delta hanya tahu untuk menghirup substansi nikotin itu ke dalam paru-parunya. Ia pernah memimpikan dirinya dengan warna-warna yang tidak pernah eksis sebelumnya. Sungguh sesuatu yang absurd, apa yang mereka miliki lebih dari sekadar apa yang mereka bagi. Mereka tidak pernah ragu dengan frasa to be or not to be.

Bagaimana ia bisa tahu bahwa ini semua bukan bagian dari skrip sialan itu? Bagian dari skrip dimana Kai telah melatih dan menghafalnya secara diam-diam dan berusaha mengujikannya pada dirinya, atau mungkin ia melakukan itu hanya karena dorongan impulsif semata.

Aktor yang baik tidak pernah melenceng dari skrip, Delta telah habis menceramahi dan diceramahi dengan kalimat demikian. Kai hanya menyahut dengan tak acuh bahwa aktor yang baik melenceng untuk skenario yang lebih baik.

Terkadang ia mendapati pemuda itu menatapnya dari jarak sekian hasta, di ujung koridor teater, di balik layar, di antara sorot lampung panggung, sebuah tatapan yang diberikan Rangga untuk Cinta atau ketika sang Kstaria begitu mendamba Tuan Puteri dalam hidupnya.

Tetapi Kai adalah seorang aktor yang baik. Dan aktor yang baik tidak pernah melenceng dari skrip.

Scene II. Studio

Kai adalah seorang penari.

Seperti dirinya, seni telah mendarah syaraf bagi mereka. Karena seperti itulah mereka dibesarkan.

Di hadapan cermin yang terpasang dari lantai hingga langit-langit menciptakan ilusi seribu bayangan bagi siapapun yang di dalamnya. Kai tidak pernah membiarkan siapapun menyaksikan dirinya menari. Dirinya terlihat begitu hidup dengan rona matahari, sekalipun itu hanya terekam dalam rol film memori, tapi ia begitu sempurna. Hanya ada mereka, dengan limit menuju tiada batas, terkristalisasi dalam momen tersebut. Tersimpan di dalam kotak rahasia di belakang kepala.

Sepasang mata hitam seperti jurang pemisah antara jiwanya yang tak biasa dan sekelilingnya—mungkin itulah alasan mengapa ia seperti tak pernah terikat dengan realita. Kai mencipta kronik cerita miliknya sendiri. Ia menatap Delta seolah menguncinya di atas permukaan bumi dimana ia berpijak. Sejurus kemudian ia menyunggingkan seringainya yang telah terabadikan di setiap surat kabar dan lembar hiburan.

Delta merefleksikan dengan lengkung bibirnya.

Sementara Delta sangat menyukai musik.

Di sudut ruangan terdapat grand piano dimana ia biasa menghabiskan sisa waktu selepas gladi kotor sebelum kembali ke apartemennya. Teater biasanya sudah kosong sebelum tengah malam, namun di ruangan lain ada jiwa yang menolak untuk tunduk pada rasa kantuk dan sendi-sendi yang menjerit lemas. Malam itu memiliki kualitas yang pekuliar: hening, terurai bak tinta yang larut, nyaris membisukan di antara keheningannya.

Pada malam-malam seperti ini tercipta sinkronitas yang memperkuat benang tak terlihat yang menghubungkan rusuk mereka. Derajat jam dinding kian bergeser sementara jemari bergerak dalam irama dari adagio terus menanjak menuju andante terus mencapai allegro, menari dengan ritme berima, nada-nada yang menyapu sisa-sisa serbuk bintang di sepasang matanya. Sang supernova. Inilah yang mereka sebut sebagai koreografi dari sebuah musik. Delta dapat mendengar not balok itu, ia bisa melihat alunan melodinya. Mereka mencipta, adakah yang lebih sempurna dari ini?

Di sana mereka terduduk, bahu saling beradu seperti saat tirai beludru menyembunyikan mereka dari pandangan yang menuntut dan penasaran. Pandangan mereka hanya terisi not balok hitam putih di antara jemari hingga sejurus kemudian sekeliling hanyalah garis blur monokrom. Gerakan itu begitu gemulai dan mengundang seperti sebuah tarian dari satu potongan menuju lainnya, kanan kiri, atas bawah, tempo tak beraturan. Tapi inilah yang membuatnya terdengar begitu berbeda. Mereka selalu memulai dengan Petite Suite, moderat dan sederhana seperti sebuah konversasi bahasa pikiran.

Satu dua tiga. Satu dua tiga.

En bateau: Andantino. Garis tawanya, sorot yang menembus sepasang jendela hatinya, waktu berhenti apabila ia menjatuhkan pandangan pada dirinya. Mengaggumkan. Melemahkan siapa saja yang melihat perwujudan dirinya. “ Ini adalah duniaku, yang kuciptakan hanya bagi kita. Dan hanya kita yang mampu mengerti segala isinya, hanya kita yang berada di dalamnya. “

Cortége: Moderato. Ia pernah memimpikan dirinya dengan warna-warna yang tidak pernah eksis sebelumnya. Sungguh sesuatu yang absurd, apa yang mereka miliki lebih dari sekadar apa yang mereka bagi.

Menuet: Moderato. Jika kau mencintai dua orang di saat yang bersamaan, kau tidak bisa memilih diantaranya. Mungkinkah jika kau mencintai yang pertama kau tidak pernah akan jatuh pada yang kedua? Jadi apakah rasa cinta itu merupakan realita bagi yang pertama atau hanya cerita semata bagi yang kedua?

Ballet: Allegro giusto. Inilah realita yang nyata. Panggung yang menampilkan kisah mereka. Mereka adalah aktor yang baik karena mereka tidak pernah melenceng dari skrip.

Empat lima enam tujuh.

Kai telah menekan tuts pertama dalam Fantasia tatkala Delta mengeluarkaan sesuatu dari saku celananya. Sebuah kotak mungil berlapis velvet dengan warna semenyala api. Lengkung senyumnya begitu lebar dari kuping ke kuping. Di ruang dengan ilusi seribu bayangan. Kali ini mereka yakin bahwa ini bukanlah bagian dari skenario itu. Tetapi, dialog apa yang harus mereka utarakan? Para audiensi selalu mengamati, mereka tidak mungkin hanya membisu di atas panggung ini kan?

“ Saya pikir saya telah jatuh cinta. Saya akan datang dan melamarnya malam ini. Bagaimana menurutmu?”

ACT IV. GIE

Scene I. Teater Koma, dibalik layar.

Mereka tidak melihat masalah seperti yang saya lihat. Mereka tidak tahu kesedihan yang rasakan.

Inilah penampilan terbaik Kai. Mungkin arwah dari sang demonstran merasukinya malam itu. Ini adalah pertunjukan pertama dimana mereka tidak berbagi panggung tapi aktingnya begitu sempurna seolah ia merasa tertarik bersama di bawah lampu sorot.

Makhluk kecil kembalilah. Dari tiada ke tiada. Berbahagialah dalam ketiadaanmu.

Suatu kali mereka pernah mencoba obat itu bersama. Dalam jumlah yang benar-benar melempar mereka ke ujung belahan dunia lain.

Kai bereaksi lebih parah dibanding Delta, bukan berarti karena ia terbiasa. Bisa jadi karena kandung alkohol di dalam tubuhnya. Saat itu Delta berpikir bahwa Kai menjadi hantu daripada seorang manusia.

Saat itu dia ambruk dan untuk sesaat Delta mengira bahwa ia baik-baik saja. Dia terlihat bahagia—jauh dibanding sebelumnya seolah ia tidak pernah. Dan Delta hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan seorang teman: ia membawanya ke kursi depan mobil dan menyetir ke tempat sepi. Menunggu ia pulih dari kondisinya yang melayang-layang.

Namun deru napasnya memompa adrenalin bersamaan dengan detak jantung yang tak beraturan. Bagaimanapun itu adalah idenya. Dia hanya bisa berharap fase itu akan segera lewat. Delta tidak tahu apa yang ia rasakan—kasihan ataukah bersalah, atau tidak ada perbedaan berarti dari keduanya.

Dan sekarang, Delta penasaran apakah Kai memakai obat itu lagi. Mereka telah bersumpah untuk tidak menggunakannya di tengah pertunjukan, ngeri pada efek yang bakal ditinggalkan di otak mereka. Sama sekali bukan prospek yang menyengkan jika mereka lupa dialog atau bahkan berhalusinasi di atas panggung di tengah adegan.

Atau justru obat itu yang mendenyar membangunkan syaraf-syarafnya.

“ Tapi sekarang aku berpikir sampai di mana seseorang masih tetap wajar, walau ia sendiri tidak mendapatkan apa-apa. Seseorang mau berkorban buat sesuatu, katakanlah, ide-ide, agama, politik atau pacarnya. Tapi dapatkah ia berkorban buat tidak apa-apa?”

Hatinya mencelos sampai ke perut. Ia nyaris bangkit dari tempatnya menunggu di balik layar, mengira bahwa obat itu memang bereaksi begitu parah bagi Kai. Bahwa ia berhalusinasi dan dialog tersebut diteriakan dalam gema yang menggaung di bawah kursi para audiensi, membangkitkan bulu kuduk mereka. Itu adalah bagian dari skenario. Tidak ada yang bakal mengira bahwa mungkin sang pemain tengah berteriak lantang pada dunia. Bahwa ia tidak bisu, dan memiliki cukup hati untuk merasa.

Tetapi Kai adalah aktor yang baik. Dan ia tidak pernah melenceng dari skrip. Kecuali untuk membuat jalan cerita menjadi lebih baik dan menarik.

Seorang filsuf Yunani pernah berkata bahwa nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan tersial adalah umur tua.

Seluruh isi teater bertanya-tanya, apakah arwah Gie memang merasuki sang aktor, ataukah sang aktor yang mencurahkan sebagian jiwanya bagi karakter tersebut? Bagi Delta sama saja. Obat itu hanya tengah mempengaruhinya.

ACT V. MODUS ANOMALI

Scene I. Jembatan Gantung Ibu Kota

Kai mengisap puntung rokok terakhirnya.

Satu panggilan telepon membuat Delta melaju dengan sepeda motornya. Pastilah telah terjadi sesuatu, Kai tidak pernah menelepon jika hanya ingin bertemu. Malam telah benar-benar turun, tanpa bulan ataupun bintang, pencahayaan di atas jembatan gantung itu hanyalah dari lampu jalanan. Ia menemukan Kai tengah bersandar di sisi mobil dengan kedua tangan tersembunyi di balik kantong celana denim. Kulitnya yang pucat sangat kontras dengan kondisi sekitarnya.

Delta menstandarkan motor tepat di belakang mobilnya, bahkan dalam jarak satu meter pemuda itu menguarkan aroma alkohol yang membuatnya bergidik. Tapi ia sama sekali tidak kolaps.

“ Pertunjukan akan dimulai tiga jam lagi. Sutradara siap menggigit siapapun di hadapannya—“

Ia sungguh ingin memuntahkan kata-kata yang menyakitkan agar dia menyadari tingkahnya. Kai memotong ucapannya dengan hembusan asap rokok tepat di wajahnya dengan seringai tanpa humor. Delta ingin melempar kalimat itu tepat di hadapannya seperti sebuah pukulan dari seorang teman yang pasti bakal terasa memuaskan.

Jemarinya gemetar, ia membuang buntut rokok dan menggerus dengan ujung sepatunya.

Kai bangkit, memutari bodi mobil sedannya, dan Delta menganggap sebagai gestur untuk mengikutinya.

Delta sama sekali tidak tahu harus mengharapkan apa. Mabuk sebelum pertunjukan, dan ia yakin bahwa ia tengah di bawah pengaruh obat itu. Lagi. Delta mengira bahwa Kai menyuruhnya untuk menempati kursi penumpang—atau sekadar memberikan satu kecupan singkat jauh dari pandangan para penonton di panggung pribadi mereka.

“ Saya tidak melihat dia. “ Kai mengucapkan kalimat itu seperti terseret.

Jon menatap Delta dengan sisa-sisa ekspresi di wajahnya yang membeku dan pucat. Layar smartphone di tangannya retak, mengedip lemah di antara kegelapan. Seolah tidak yakin dengan apa yang ia lihat, Delta menjulurkan satu jari di bawah hidungnya hanya untuk merasakan ketiadaan.

“ Kau. Tidak. Melihat. Dia. “ Delta menatap pemuda itu. “ Kai, dia sudah tidak bernyawa. “

“ Ya, saya bisa melihatnya dengan jelas. “ Tak ada perubahan apapun dari kompleksitas stoik wajahnya. “ Sekarang bisa kau bantu untuk memasukkan dia ke dalam bagasi mobil? Saya tidak ingin telat di hari pertunjukan.”

Begitu pula dengan Jon. Mereka berdua seharusnya sudah hadir di teater sejak tadi sore untuk mempersiapkan segalanya. Tapi salah satu dari karakter cerita terbaring di dalam bagasi yang sesak, tetesan darah membasahi kaus yang ia kenakan hingga ke ujung jemarinya.

Bajingan. Delta hanya bisa menyumpah. Sekarang kemana lagi Kai akan menyeretnya?

 

Scene II. Teater Koma

Mereka memanggil pemain pengganti dari peran yang seharusnya dimainkan Jon. Mereka bertanya-tanya dimanakah anak itu? Bukan kebiasaannya untuk telat dari jadwal. Pertunjukan ini adalah batu loncatan menuju karier seni peran yang lebih ajek.

Dan bocah itu telah menyia-nyiakan kesempatan.

Di bangku penonton, Delta berusaha meredam detak jantungnya yang eratik dengan menggenggam tangan Kristal. Tiket pertunjukan terjual habis dalam dua hari. Popularitas dan ekspektasi para penonton atas nama aktor sebagai pemeran tokoh utama menjadi jaminan.

Tangannya pastilah terasa dingin dengan peluh yang membanjiri dahi dan tengkuknya. Tapi sejak pagi dia memang mengalami demam ringan. Apakah rahasia itu tertulis jelas di wajahnya? Kristal hanya mengusap dahinya lembut dengan senyuman kecil. Cincin platina di jari manisnya memantulkan lampu teater terakhir sebelum ruangan menjadi gelap.

Di sanalah. Jiwa yang tak biasa itu memasuki panggung dengan langkah tersuspensi. Akar-akar emosi itu menghunjam menembus lantai berlapis kayu, tingkap ovalnya lebih kelam dari langit malam. Untuk sesaat Delta tidak yakin bahwa dia adalah pemuda yang sama yang baru saja tidak sengaja–mungkinkah?–membunuh rekannya sendiri.

Ia berlari-lari dari kejaran teror yang dibuatnya sendiri. Ia tenggelam dalam permainan kejar-kejaran yang ia ciptakan sendiri. Pembunuh yang dikejar pembunuh. Pembunuh yang takut dibunuh. Suhu udara di dalam ruangan bagai anjlok beberapa derajat, sekali lagi ia merinding menatap pemuda di atas lampu sorot itu. Ketegangan itu menyusup dan terpintal kian tebal di tiap sela bangku penonton. Bagai asap kelabu yang bibir itu hembuskan—dan ia dengan senang hati menghirup tiap substansi ke dalam paru-parunya.

Ekspresi itu tercipta dan dilemparkan mentah-mentah ke hadapan penonton dalam rasa takut yang terpampang jelas di wajahnya. Mungkinkah ia membuat dirinya hilang ingatan agar ketika ia sadar muncul halusinasi bahwa dialah yang dikejar? Tidak ada yang mengetahui bahwa dia adalah aktor dari pesta pembunuhan itu.

Karena Kai adalah seorang aktor yang baik. Meskipun ia telah melenceng dari skrip. Demi jalan cerita yang menarik dan lebih baik.

 

ACT VI. EKSKUL

Scene I. Teater Koma

Mulut pistol tepat terarah pada Kristal. Selama sepersekian detik Delta yakin Kai akan menarik pelatuk dan menembaknya. Tetapi itu tidak bakal sesuai dengan skenario. Toh pistol itu hanyalah properti pertunjukan.

Dari ucapannya, Delta tidak yakin bahwa Kai berada dalam kondisi normalnya.

Seat teater malam itu penuh, tiket-tiket terjual habis di hari yang sama sejak penjualan dibuka. Delta menyampaikan dialognya dengan antusiasme dan eksitasi yang sudah lama tidak ia rasakan. Leburan energi membuncah di dalam dadanya.

Dan Kai mengimbanginya. Dalam setiap kata. Kilat aneh di matanya yang gelap, sesuatu yang tidak bisa Delta terjemahkan baik dengan firasat atau pun akal. Mungkin Kai berusaha berkomunikasi menggunakan bahasa perasaan? Seperti koreografi musikal mereka dahulu?

Adegan itu menyatu dengan pembuluh darahnya tatkala ia berusaha bernegosiasi dengan siswa yang tengah dibendung amarah dan kondisi mental tidak stabil. Delta tidak bermaksud untuk berteriak tetapi urgensi dalam suara Kai membuatnya nyaris berlari melintasi panggung dan meninjunya menjejalkan realita.

Semua ini tentu bukan salahnya, tentu saja mereka peduli. Mereka menghargai kehadirannya. Mungkin ia hanya lelah, bingung, dan merasa tertekan. Delta mencengkeram dinding ruangan, nyaris berteriak dalam dialog dimana seharusnya ia bersikap menenangkan.

Itu adalah kalimat yang harus ia katakan, seperti pada skenario. Namun ia merasa bahwa memang itu adalah kalimat yang ingin ia katakan sejak dulu.

Para penonton terpekik ngeri ketika tubuh seorang tergantung dari langit-langit teater seperti yang tertulis dalam skenario. Delta menunggu Kai untuk menyampaikan dialognya karena interval kesunyian itu terlalu lama—siapa yang bakal mengisinya? Ketegangan? Hatinya kembang kempis berusaha menerjemahkan arti tatapan itu. Kali ini ia benar-benar menghitung detik berjalan.

Dialog itu terucap—ia menghembuskan napas tertahan.

Suara tembakan terdengar sesuai skenario, begitu tiba-tiba dan menggema lantang. Delta bisa merasakan dari ujung jarinya udara bergerak bersamaan para penonton yang terlompat dari kursi mereka.

Interval waktu itu kini bercampur dengan kesunyian dan langkah kaki yang menggedor lantai berlapis kayu. Dan waktu berhenti.

Tirai beludru marun menghalangi pandangan penonton menenggelamkan mereka sekali lagi dalam bayangan. Ia mengira bakal ada sepasang tangan yang meraihnya tapi mereka adalah sang manajer panggung—menyeretnya maju. Dinding panggung yang berlubang dan Kai yang tergeletak di kakinya.

Ujung sepatunya mengenai genangan darah yang kian melebar. Ia jatuh berlutut, menatap lubang tepat di pelipis pemuda itu, mengalirkan sisa-sisa kehidupan dari dalam dirinya. Apa arti hitam dan putih? Mungkin ia memang tidak bisa lagi melihatnya—atau itu hanya penglihatannya yang terkaburkan rembesan air garam.

Jeritan Kristal merobek keheningan.

Kai bukanlah seorang aktor yang baik. Bukan, dia seorang aktor yang hebat.

[EXEUNT]

Started: 30/12/2015

Finished: 31/12/2015

————————————————————-

Note:

Teater Koma bukanlah fiksi. Lokasi terletak di Pesanggrahan. Penamaan diambil hanya sebagai latar.

Ayo cintai dan eksplor lebih jauh karya anak bangsa!

Drupadi

Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh

Arisan!

Gie

Modus Anomali

Ekskul

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s