Islam, Literature

[CERPEN]: LELAKI BERHIJAB

daydreaming
In Frame: H. Trahasdani

Lelaki itu bernama Salman.

Dan dia adalah epitome dari  pengecualian.

Karena dia merupakan lelaki berhijab.

=||=

Kota ini terasa lebih asing setelah bertahun saya tinggalkan. Seperti kota yang semu, seolah hewan yang meluruhkan kulitnya untuk memasuki fase baru dalam hidup. Kota ini terperangkap dalam fase diantara, seperti sedang bingung pula ingin melangkah kemana. Di kanan-kiri tidak jarang pemandangan representatif penduduk kota yang telah mengalami degaradasi moral dan dekadensi mental. Namun saat membaca surat kabar dan berita, berbicara dengan tetangga, bertegur sapa saat berkendara begitu terlihat betapa majunya peradaban negeri ini.

Saya pun tidak mengerti. Apa yang salah dengan kota ini?

Penduduknya mampu mengais pendapatan per kapita yang cukup tinggi. Infrastruktur yang semakin maju, teknologi yang kian mutakhir, semuanya buah hasil pemikiran anak negeri. Itulah salah satu alasan saya kembali. Apa kabar dengan negeri saya? Tetapi hal pertama yang menyambut di bandara adalah delay selama berjam-jam tatkala bencana asap yang melanda pulau di sisi barat negeri. Asap? Saya nyaris terjungkal tertawa.

Tentu saja, saya tidak lagi tertawa setelah tiga hari menetap di ibu kota dan membaca surat kabar yang beredar. Asap itu nyaris menjelma bencana nasional.

Saya membolak-balik halamannya dengan antusiasme yang kian menurun. Negeri yang maju berbanding lurus dengan pejabatnya yang masih korup didampingi segelintir orang-orang idealis yang tidak mampu menjadi katalis negeri yang makin bersih. Tidak hanya bersih dari asap tentunya.

Saya menemukan nama itu di tengah-tengah halaman. Enam huruf tersebut mengirimkan impuls yang tiap mikrosekon menjadi semakin kuat ke seluruh pernadian saya. Kotak di belakang kepala langsung memutar fragmen memori mengenai seorang pemuda berperawakan kurus dengan kulit bersih dan lisannya yang terdengar tulus. Saya tidak tahu dia memilih pekerjaan menjadi aktivis pembela orang kecil.

Sejak awal saya tidak pernah tahu nama lengkapnya. Saya hanya tahu dia bernama Salman, berusia empat atau lima tahun lebih tua dari saya—ia sebaya dengan kakak sulung saya yang telah meninggal dunia dua tahun lalu. Tepatnya, Salman adalah teman masa kecil Pancar—saya memanggilnya dengan Abang. Saya tak mampu menahan senyum ironis tatkala mengingat betapa Abang tidak pernah menyadari kehadiran saya, sebagai adik dari sahabat kecilnya ataupun berbicara pada saya lebih daripada tiga kalimat. Dia akan menengok ketika saya memanggilnya dengan ‘Abang’, dan bahkan di usia saya yang masih kelas lima SD saya dapat merasakan betapa dia selalu menghindar untuk berada di ruangan yang sama dengan saya, hanya melirik saat diajak bicara. Dan ketika Ayah dipindahtugaskan ke negeri Paman Sam, putuslah benang tipis yang menghubungkan kami. Bertahun lamanya—hingga saya memutuskan kembali.

Tetapi saya tidak bisa berbohong. Bahwa Abang akan selalu menempati ruang dalam hati saya, entah itu terisi ataupun tidak—dengan sosok-sosok ataupun perasaan tidak permanen. Beberapa tahun lalu saya baru menyadari perasaan macam apa ini. Seperti ibu pertiwi, perasaan tentang Abang terjebak diantara—diantara sesuatu yang sangat kuat dan menolak pergi dan bersemu menari-nari keluar-masuk rongga hati saya. Tiada hari tanpa wajah Abang yang beranjak puber mampir di kepala saya diiringi limpahan perasaan yang kadarnya tidak pernah berkurang. Saya pun tidak paham karena saya belum pernah merasakan ini sebelumnya.

Abang merupakan teman sebangku Pancar sejak SD, mereka memang teman akrab tapi seperti anak-anak pada umumnya mereka bermain dengan bocah lain di sekitar rumah. Saya ingat betul, seolah seperti kemarin, hari itu adalah hari setelah ulang tahun saya yang ke sepuluh. Pancar berkata sambil lalu bahwa segerombolan teman bakal datang untuk mengerjakan karya seni—kolase ataukah model maket? Untuk yang itu aku tidak ingat—dan menyuruhku untuk berada di kamar saja. Teman-teman sering iseng, mereka pasti bakal menggoda saya sekalipun hanya bercanda. Saya menurut karena ingin membongkar kado dari Tante Aning yang baru kembali dari Jepang—mainan anak perempuan terbaru dari negeri matahari terbit, merchandise Cardcaptor Sakura, boneka menggemaskan, kartu pos cantik.

Saya mendengar celotehan teman-teman Pancar yang mengobrol di ruang TV, riuh heboh karena video game terbaru yang diberikan Om Hendri. Kemudian suara mereka berubah menjadi bisikan saat saya memasuki dapur untuk mengambil camilan. Mereka membicarakan sesuatu tentang nama perempuan Jepang yang belum pernah saya dengar—mereka harus menonton film yang dibintangi perempuan itu. Sedetik berselang kasak-kusuk tersebut, seorang pemuda membuka lemari gelas menyiapkan es soda untuk teman-temannya. Dia terus menunduk seolah tidak menyadari kehadiran saya.

Ia berperawakan kurus, ujung rambutnya yang cepak pun pasti tujuh senti lebih tinggi dari Pancar yang jangkung. Kulitnya kuning dan sangat bersih dengan tulang pipi khas yang menjadi fitur menarik dari wajahnya yang datar tanpa ekspresi—seolah eksitasi teman-teman tidak menularinya.

“Temannya Pancar?” Saya memecah keheningan—seakan benar-benar memecahkan sesuatu karena bahunya tersentak saat mendengar suara saya; saya bisa melihat kupingnya berdiri awas. Itu sudah jelas, tapi saya merasa ia harus mengatakan sesuatu, entah salam ataupun sapa pada tuan rumah. Tidak sopan.

“Ya,” Ia menjawab singkat. Ia kebingungan mencari nampan. Saya menyodorkan nampan kayu terdekat. Ia menggumamkan terima kasih dan hendak berjalan pergi.

“Saya Thalia, “ Tangan saya menggantung di udara karena ia memilih mengabaikannya. Ia hanya melirik sebelum beranjak pergi dengan anggukan sopan. Ia bahkan tidak menyebutkan nama.

Bagaimana saya bisa tahu? Apa dia anak lelaki paling pemalu di seluruh jagat raya sampai uluran tangan dia acuhkan sedemikian rupa? Apakah itu karena sekolah mereka merupakan sekolah khusus anak laki-laki hingga tiap dia bertemu dengan lawan jenis bakal gemetar dari ujung kepala sampai ke kaki? Tapi saya begitu penasaran dengan teman Pancar yang satu itu. Dan saya pun tidak bisa menyanggah, pada usia saya yang beranjak remaja, bahwa pemuda tadi memiliki wajah paling tampan yang pernah saya temui.

Saya tidak memiliki rekoleksi apapun mengenai sang pemuda yang telah menyita sekepingan kecil hati saya sejak bertahun lalu kecuali profil anak lelaki usia belasan dengan kaus oblong putih dan celana yang digulung hingga di atas mata kaki. Hingga saya menemukan namanya di surat kabar dan fotonya di halaman tengah yang telah menjadi seorang lelaki seutuhnya.

==||==

Saya beranjak ke dapur untuk mengambil air lemon yang menjadi minuman rutin—rasa keharusan untuk selalu menjaga berat badan. Mana mungkin ada lelaki yang tertarik dengan perempuan dengan nilai BMI di atas 20?

Rupanya Abang mendirikan sebuah LSM selepas lulus kuliah dari institut di Surabaya dengan beberapa teman dekat dengan visi yang sama. Tetapi tidak ada yang menyebut apapun tentang keluarga. Apakah setelah bertahun menjelang Abang belum juga membangun pernikahan? Rasa penasaran tergelitik untuk mencari tahu lebih jauh. Maka saya mengembalikan surat kabar tersebut ke meja kerja dan mulai membuka laptop. Awalnya saya agak ragu. Apa yang ingin saya ketahui tentang pria ini? Saya hanya punya satu kata kunci tentangnya, hanya satu kata. Sebuah nama, tidak lengkap, dan bisa jadi ada ribuan orang dengan nama sama di negara ini. Saya memutuskan memasukkan namanya dengan nama lembaga tempat ia bekerja.

Puluhan—ratusan artikel.

Saya tidak tahu Abang bisa jadi eksis begini. Dari sosok yang pemalu menjadi pembela hak asasi warga yang tertindas? Kemudian mendirikan lembaga perlindungan anak dan perempuan lima tahun lalu. Dalam artikel dan beberapa blog yang menampilakn riwayat singkatnya menyebut bahwa Abang adalah sosok yang sangat religius dan menjadi pembicara di beberapa acara kajian rohani. Entah mengapa, untuk yang itu saya tidak terkejut.

Seminggu kemudian saya bercerita pada Pancar tentang temannya yang tidak sopan dan saya curigai gagap sehingga tidak bisa membangun pembicaraan dengan baik. Tidak, dia tidak gagap. Karena ketika kawanan itu kembali ke rumah, saya mengintip ke ruang TV dan menyaksikan si pemuda yang berceloteh tentang seorang guru sekolah yang menghukum mereka tadi pagi lantaran telat masuk kelas. Dan bahkan dia mampu tertawa lebar. Itu baru membuat saya terkejut. Suara tawanya bagai lompatan nada seruling kayu yang asing, renyah, naik-turun, seolah saya bisa mendengar aliran udara yang melewati diafragma tiap ia menghela udara karena pastilah kejadian itu lucu sekali. Saya pun tidak mengerti bagaimana deskripsi macam demikian bisa saya pikirkan. Sebegitunyakah saya memikirkan si pemuda misterius?

Tatkala ia mengalihkan pandangan pada saya yang berdiri di balik dinding menuju ruang tamu, ia mengalihkan pandangan dengan topik bahasan baru. Sejak itu saya yakin dia membenci saya.

Teman-temannya, termasuk Pancar, memanggil ia dengan Salman. Apakah itu nama panggilan atau memang nama di akta kelahiran saya tidak pernah tahu. Mereka sering menggoda Abang tentang betapa populernya ia di kalangan gadis-gadis, terutama di sekolah. Apakah ia tidak tertarik dengan mereka? Pancar menuduhnya tidak menyukai perempuan karena sejak dulu ia tidak pernah terlihat bersama perempuan manapun. Yang lain berargumen bahwa mungkin Abang alergi dengan perempuan. Saya tersenyum geli dari balik dinding—tiap kawanan itu mampir saya pasti turun dari kamar dan mengerjakan segala keperluan di ruang tamu, peduli amat dengan mereka yang bakal menggoda saya karena status sebagai adik perempuan teman mereka. Terbersit pikiran bahwa saya masih memiliki kesempatan dengan si pemuda.

Tetapi Abang tidak pernah beranjak dari ruangan tersebut, menyadari bahwa ia bakal bertemu dengan saya kemanapun ia melangkah di luar pagar yang menjadi bentengnya itu. Saya yakin dia pasti menghindari saya. Untuk alasannya, saya pun tidak pernah yakin, hingga hari ini. Mungkinkah karena saat itu saya terlihat seperti mengejarnya? Saya bahkan tidak mengeluarkan satu kata pun sejak pembicaraan singkat di dapur itu. Atau mungkin karena saya tidak memiliki rupa yang cukup cantik sehingga ia bakal mengalihkan pandangan pada saya? Betapa tinggi standar Abang karena banyak anak lelaki di sekolah yang menyatakan suka pada saya.

Suatu hari segerombolan anak datang ke rumah untuk mengerjakan tugas kelompok. Itu jelas bukan lingkaran main Pancar yang biasa ribut di ruang TV. Tapi hanya Pancar, Abang, dan dua orang pemuda yang baru saya lihat. Mereka ada tugas membuat model atom dalam tiga dimensi. Sejam kemudian bel rumah bordering, ternyata sore itu adalah jadwal Pancar untuk les privat. Mata pelajaran yang sama yaitu kimia. Saya melihat dari ujung penglihatan guru privat itu yang biasa datang tiap Kamis, seorang perempuan muda yang masih di bangku kuliah, tidak berbeda usia jauh dari mereka. Perempuan itu mengenakan baju longgar lengan panjang, rok gelap panjang, dan jilbab yang menjulur hingga siku dan menutup dada. Akhirnya si guru malah berakhir dengan membantu mereka membuat model, menggunting karton, sambil menjelaskan pelajaran hari itu.

Saya mendengar Abang bertukar kata dengan si perempuan beberapa kali. Dan sudah jelas lebih dari tiga kalimat. Ketika saya mencuri pandang, Abang terkadang menengok pada si guru, dengan sedikit ragu, sebelum kembali mengalihkan pandangan. Prasangka saat itu adalah pasti Abang tertarik dengan perempuan tersebut. Itu sudah jelas. Mana mungkin ia mencurahkan perhatian seperti itu jika ia tidak tertarik. Sangat berbeda ketika ia berhadapan dengan saya. Atau mungkin penilaian itu karena saya belum pernah menyaksikan Abang bercakap dengan perempuan lain.

Tapi, pikir saya kali itu, apa yang dimiliki dia yang mampu membuat Abang setidaknya berucap kalimat daripada kata padanya? Perempuan itu memiliki wajah yang biasa saja, berkacamata, perawakan pendek, dan kulit yang bahkan tidak lebih bersih daripada Abang. Jadi seperti itu selera pria macam Abang? Nah itu baru membuat saya kaget pula.

Selepas pukul delapan malam, guru itu berpamitan dan tiada yang menyinggung kehadirannya lagi termasuk Abang. Selain betapa beruntungnya mereka si guru datang sehingga ada yang memiliki pengetahuan cukup untuk menjelaskan—dan membantu, pastinya. Sudah begitu saja. Abang dan perempuan tadi tidak pernah bertemu lagi karena Pancar memilih tutor untuk mata pelajaran Fisika dan Matematika saja.

Saya benar-benar kesal, apa yang harus saya miliki agar Abang tertarik pada saya?

==||==

Ternyata itu memang nama sebenarnya Abang. Ia memiliki nama lengkap Muhammad Al-Amin Salman Arrazy.

Setelah meraih gelar sarjana muda di bidang teknik ia melanjutkan untuk mengambil gelar insinyur sambil bekerja sebagai engineer di sebuah perusahaan energi terbarukan milik negara. Selang dua tahun ia mendapat beasiswa untuk gelar magister dengan melanjutkan riset di bidang energi solar di Jerman. Sisanya adalah sejarah.

Dan tidak ada yang menyebutkan tentang pernikahan ataupun keluarga.

Saya pun bertanya-tanya, apakah ia merasakan yang saya rasakan bertahun belakangan tentang rumah tangga yang bisa jadi saya dan dia bina andai saja takdir tidak secepat itu memisahkan kita?

Ketika itu saya akan menghadapi Ujian Nasional. Tapi saya tidak terlalu khawatir, persiapan sudah kelewat matang, dan saya pun sudah diterima di sekolah lanjutan terbaik di kota. Orang tua tidak terlalu menyukai sekolah negeri sehingga saya dimasukkan ke sekolah katolik khusus perempuan. Itu pun saya tidak terlalu khawatir, teman-teman Pancar masih rajin mampir; termasuk Abang. Sekalipun ia tidak pernah beranjak dari tempatnya duduk seperti terbelenggu lem adhesive super lengket.

Kesempatan itu datang dalam bentuk kerja kelompok mata pelajaran fisika. Rupanya Abang sangat jago di bidang itu, Pancar berseloroh. Seharusnya ada tiga teman lain yang datang tapi mereka masih bermain bola di lapangan sekolah rupanya dan Abang berkata dia harus segera pulang sebelum Maghrib. Saya teringat pada kumpulan soal yang masih belum terjawab di kamar, maka saya segera ngibrit mengambil buku-buku tersebut dan menerobos ke ruang TV dengan seanggun mungkin.

Tidak mungkin itu hanya tipuan mata belaka, tetapi Abang memang semakin tampan saja kian harinya. Dan tiba-tiba saja sepasang mata itu adalah fitur paling indah dari wajahnya. Kulitnya semakin bersih, sepasang lengan yang terlihat kokoh, rambut gelap yang mencapai daun telinga. Dan ia hanya mengenakan kaus oblong putih dengan celana digulung di atas mata kaki. Abang seperti pahatan patung yang dikagumi para pecinta seni. Sang David. Bagi saya, Abang seperti mimpi, nyaris suriil, dan definisi ajek dari kesempurnaan. Mental anak usia belasan tahun saya kala itu tidak bisa menemukan kata yang lebih tepat untuk mendeskripsikannya.

Saya dapat melihat sentakan itu lagi di bahunya yang bidang. Tetapi saya meyunggingkan senyum paling manis dan duduk di sebelah Pancar seraya mengeluh tentah tekanan Ujian Nasional bagi anak sekolah. Saya menghadap Pancar dengan akting berkaca-kaca agar ia membantu saya mengerjakan soal. Tidak biasa, Pancar mengambil alih saya untuk mengerjakan tugas tanpa banyak omong.

Ia berkata pada Salman, “Kalau kamu mau pulang duluan nggak apa-apa, Man. Nanti biar saya, Esa, dan yang lain mengerjakan soal sisanya. “

Abang mulai berkemas, tanpa sedikit pun merlirik pada saya. Berbagai gestur sudah saya lakukan, untuk menunjukkan sisi dewasa dari adik seorang teman yang sering digoda karena dianggap masih kecil. Tapi itu telah bertahun lalu. Bagaimana mungkin saya membiarkan kesempatan itu tergelincir begitu saja dari genggaman? Mulai dari mengibaskan rambut, mengetukkan jari dengan irama menyenangkan, bersenandung lagu pop paling hits di masa itu, melontarkan kalimat yang bakal terdengar cerdas karena saya memang anak yang aktif dan pintar di kelas.

Tapi Abang tak bergeming. Ranselnya sudah di pundak dan saya nyaris gigit jari putus asa.

Pancar menoleh pada Abang, meminta tolong tentang satu soal yang agak sulit dipahami. Mereka sepakat bahwa soal itu ada yang salah dan kunci jawabannya pun salah. Aku berbalik pada Abang, memintanya untuk menjelaskan padaku dengan nada seramah mungkin. “Pancar paling nggak sabar kalau ngajarin pelajaran ke saya. “ Itu fakta.

Abang terdiam sesaat sebelum mengambil buku tersebut dan menghadapkan arah duduknya ke saya. Tanpa mengangkat pandangan ia menjelaskan dengan lugas, transfer logika dalam bentuk kalimat efektif yang mudah ditangkap bahkan oleh anak peringkat bawah di kelas. Saya mengangguk-angguk antusias dan sesekali menyahut dengan kalimat yang saya kira cukup pintar untuk menarik perhatiannya. Saya menggeser duduk hingga hanya berjarak sepuluh sentimeter darinya. Itu adalah momen dimana kami paling dekat, secara jasmaniah, dalam sejarah antara saya dan Abang. Saya tidak mampu menangkup jantung saya yang bertalu-talu menggedor rusuk dengan tak tahu malu. Pasti wajah saya sudah semerah kembang sepatu.

Saya memutuskan bahwa saya sangat senang mendengar Abang bicara. Terutama ketika ia bicara dengan saya, pastinya. Dan saya memutuskan bahwa saya harus bisa membuat Abang tertarik dengan saya.

Dengan sengaja, saya menyenggol lengannya ketika menunjuk soal lain yang juga belum terjawab. Kali ini tidak hanya bahunya yang tersentak, tapi seluruh tubuhnya seolah ditarik oleh tangan tak terlihat menjauhi saya hingga satu depa. Ia menyadari ekspresi saya yang terlihat bingung dan terkejut. Abang bergumam tentang pergi ke kamar mandi dan saya kembali diambil alih oleh Pancar. Ia menegur saya agar jangan dekat-dekat dengan Abang.

“Kalau kamu naksir sama dia, sudah lupakan saja. Saya tahu kamu naksir dia. “

Ya ampun, hanya orang yang berpenglihatan buruk yang tidak bisa melihat tanda-tanda itu pada saya. Bahkan saya sangsi Abang juga bukan hanya tidak peka, bahwa dia perlu kacamata tebal untuk menyadari bahwa saya sangat menyukainya.

“Kenapa?”

“Karena kamu nggak mungkin dengan dia. Kamu bakal berakhir seperti gadis-gadis lain yang merasa diberi harapan palsu oleh Salman. Padahal itu hati mereka yang meyakinkan diri mereka sendiri bahwa Salman juga membalas perasaan mereka. “

Omong kosong. Saya tidak merasa Abang memberikan harapan palsu pada saya. Lihat saja, sikapnya yang dingin dan misterius itu pada saya. Harapan palsu apanya. Mengandung harapan saja tidak. Apakah saya bukan tipe Abang? Lalu yang seperti apa perempuan selera Abang? Saya tidak memiliki hal yang tidak dimiliki perempuan lain. Suatu keajaiban jika Abang imun dengan saya.

Tapi memang keajaiban. Karena Abang adalah epitome dari pengecualian. Dia imun dengan saya.

Abang kembali ke ruang TV dengan rambut yang basah oleh percikan air, kemudian ia berpamitan pada Pancar. Tanpa menoleh pada saya ia melangkah keluar dari pandangan. Saat itu saya ingin merentangkan waktu seperti karet gelang agar saya bisa memiliki tujuh menit tadi lebih lama. Jika mungkin, selamanya.

Sejak itu Abang semakin jarang main ke rumah. Dan Pancar makin sering main di luar. Entah bermain bola, berpetualang mendaki gunung dengan teman sebaya, atau sekadar mampir ke rumah Abang yang berjarak tiga blok dari rumah kami.

Saya tidak mengerti mengapa jadi demikian. Saya hanya menginginkan perhatian Abang. Pertukaran kalimat yang lebih berarti dari sekadar F = m. a. Saya tidak butuh logika fisika dalam konversi kalimat jika perasaan saya terperangkap dalam kristal permanen di rongga dada. Apa yang salah dari saya? Saya hanya seorang perempuan yang mendamba seorang lelaki yang merupakan teman kakak saya sendiri. Bertahun berselang saya tidak pernah merasakan keinginan yang lebih kuat daripada ketika saya mendamba Abang.

Saya bahkan tidak menyangka di usia belasan tahun saya memiliki kapasitas untuk memiliki perasaan demikian.

==||==

Saya menemukan sebuah laman blog dengan header bergambar sabana yang tidak familiar. Sabana luas berpohon jarang dengan latar langit cermin lautan tanpa segumpal awan. Rupanya Abang menulis jurnal digital sejak kuliah dan entri terakhir tertanggal tiga bulan lalu.

Bagaimana sebelumnya tidak terpikir untuk mencari nama Abang di search engine browser saya juga tak paham. Mungkin ada dimana fase dimana Abang benar-benar absen dari hidup saya sekalipun dia masih sering menginvasi alam bawah sadar saya. Sehingga saya bertanya-tanya sebesar itu kah saya menginginkan sebuah sosok dalam hidup saya hingga segala tentangnya larut dalam bunga tidur?

Pada masa in absentia itu saya sering melihat Abang. Ia hilir mudik keluar-masuk penglihatan saya seperti orang asing yang sering mampir lalu berpamitan pergi. Hanya sesaat, seperti tanpa arti, tanpa pertukaran kata, tanpa sapa. Tapi hati saya selalu berdesir tiap kali melihatnya.

Begitulah Abang. Dan impak yang ia bawa dalam hidup saya.

Saya yakin Abang tidak mungkin lebih menarik lagi dari detik terakhir saya melihatnya. Ia seperti medan magnet yang terlalu kuat sampai menghasilkan arus yang mengirimkan sinyal impuls voltase tinggi pada lawan jenisnya. Entahlah, saya sampai pada titik yakin bahwa ketampanan Abang bakal membuat lelaki lain tidak hanya iri, tapi juga mendamba dirinya. Agak mengerikan sebenarnya.

Pancar yang semampai tidak ada apa-apanya jika ia bersanding di samping Abang. Sepasang matanya yang dalam memiliki tatapan yang meraup perhatian secara seluruh, garis wajahnya sempurna, profilnya adalah definisi mutlak dari maskulinitas. Jika memiliki keutuhan organ dan indera merupakan kesempurnaan, lalu bagaimana cara harus mendeskripsikan Abang dalam kalimat yang begitu terbatas dan tidak luas? Dan jika ada yang berkata bahwa Abang adalah jelmaan malaikat, saya bakal percaya.

Karena Abang pun memiliki hati seperti malaikat.

Langit yang runtuh itu datang di bulan November berupa berita bahwa kendaraan yang ditumpangi Bunda yang membawanya ke ibu kota terbalik di jalan tol. Sisanya adalah sejarah. Bunda tutup usia saat Pancar bahkan belum mengecap bangku kuliah. Saya belum pernah melihat dua orang lelaki dalam hidup saya, Ayah dan Pancar, sehancur itu. Bunda adalah salah satu perempuan yang mereka cintai selain saya.

Tatkala itu pada hari ke tujuh setelah kepergian Bunda, keluarga kami mengadakan pengajian untuk Bunda dengan mengundang pria sekitar kompleks. Pengajian Bapak-bapak untuk hari ke tujuh dan nanti di hari ke empat puluh bakal ada pengajian Ibu-ibu.

Saya bersembunyi di kamar sepanjang hari. Air mata saya sudah kering rasanya. Dan saya harus terlihat kuat, jika tidak maka siapa yang bakal menyokong kedua pria dalam hidup saya? Bunda pun pasti ingin saya agar setegar beliau.

Senja telah turun, tinta jingga di langit luntur dalam lembayung gelap yang menyelubungi langit kota. Seolah langit benar-benar runtuh. Malam tidak pernah sejanggal itu, tanpa bulan dan bintang, seperti tak berujung, berbeda dimensi. Butiran jarum berjatuhan tak lama kemudian, menempel ada kaca jendela seperti sebuah pertanda. Saya menengok ke luar, pada atap-atap rumah yang berjejer dalam simetri tak sempurna, liukan jalanan beraspal yang tidak cukup kelam dibanding gulungan badai yang membungkus sepetak kota. Di bawah sana Abang berdiri termangu tenggelam dalam pikirannya yang seorang pun tidak bakal pernah tahu. Ia mengenakan gamis sepanjang betis dan menenteng buku Yaasiin.

Impuls itu datang tanpa permisi. Saya segera berderap turun, mengejar sosoknya yang kian menjauh. Kenangan seperti apa yang mampu saya berikan pada sosok yang telah membelenggu sepotong hati? Tidak ada seorangpun yang ingin betegur sapa dengan perpisahan sekalipun tidak terhindarkan.

“Abang!”

Ia telah tercelup butiran air hujan sepenuhnya dan seruan saya membuat ia membatu di tempat.

“ Minggu depan kami bakal pindah, “ saya gemetar hingga ke ujung rambut. Kota tidak pernah sedingin itu. Saya tidak tahu apa yang membuat hati saya seolah diremas cakar tak terlihat hingga saya sulit berucap: perpisahan dengan Abang atau duka karena bakal semakin jauh dari Bunda. Pupil matanya tidak bereaksi yang berarti dia sudah tahu tentang kepindahan keluarga kami ke luar negeri. Ucapan selamat tinggal itu pasti telah terjadi antara ia dan Pancar. Tapi mengapa ia tidak mendatangi saya? Jika dia tidak sebuta itu tentang perasaan terpendam ini tentang dirinya.

Ia tetap tidak bergerak dari tempatnya berdiri menantang hujan. Tidak ada sahutan, ia hanya melirik saya sekali, menunggu kalimat terselesaikan.

“ Saya ingin pamitan. “

“ Ya, “ jawabnya. Singkat. Efektif memutus kesempatan saya untuk berkata lebih jauh. Tapi itu hanya menyulut letupan kembang api emosi saya yang masih hijau.

Entah apa yang merasuk dan membuat saya memiliki keberanian sebesar itu untuk mendatangi Abang hingga jarak kami hanyalah inci. Saya melingkarkan lengan pada pinggangnya yang sempit, bersandar pada abdomen yang dilapisi selembar kain tipis; ia beberapa derajat lebih hangat dari air hujan. Saya hanya memiliki satu detik untuk menikmati kemewahan itu, yang tidak bakal saya rasakan lagi bertahun kemudian, ataupun diregangkan menjadi menit, apalagi selamanya.

“Maafkan saya jika saya ada salah. “ Sepertinya segala dalam diri saya adalah kesalahan. Bagi Abang, mungkin. Jika tidak, pasti ada satu momen dimana Abang melihat pada saya atau setidaknya memberi saya satu senyuman malaikatnya itu. Bagaimana saya bisa menyampaikan bahwa saya tidak ingin berpisah darinya?

“Ya. “ Saya tidak melepaskan rangkulan saya sekalipun ia berusaha membuka kunci yang memagarinya.

“Saya ingin bertemu Abang lagi. Saya tidak mau kehilangan siapa-siapa lagi. “

Akhirnya, dengan paksa namun kelembutan luar biasa yang dimiliki sosok sepertinya, rangkulan itu lepas.

Abang tidak menyahut, ia hanya mengucapkan salam. Satu lirikan dan lekukan kecil mulutnya, ia berlalu. Saya hanya diizinkan menatap punggung.

Hanya sebuah salam. Doa keselamatan. Tidak lebih.

==||==

Rupanya Abang sangat aktif di ranah blogging. Ia pun memiliki banyak pembaca setia. Banyak di antaranya adalah perempuan, sudah jelas. Mereka tidak menaruh banyak pesan selain komentar tentang sang insinyur muda sukses dan tampan. Dan seperti yang saya duga, Abang mengabaikan mereka semua.

Artikel yang ia buat merupakan sesuatu yang orisinal.  Saya tidak menemukan bentuk penjiplakan. Ia mengutip beberapa dan sisanya pasti berasal dari pikirannya yang tidak biasa. Ide-idenya menggelitik cara berpikir para kaum muda, tentang hak dan kewajiban sebagai warga negara, kritik mengenai pemerintahan dan wakil rakyat yang seperti jelmaan makhluk rakus harta, wanita, dan takhta. Abang sangat sering membuat entri tentang sejarah Islam, mengulas tentang kekuatan iman dan doa. Saya tidak menyadari seperti apa sosok Abang hingga saya meng-klik tiap laman artikelnya dengan antusiasme maksimal.

Tidak ada entri dimana ia membuat curahan isi hati. Sangat khas Abang. Ia menyimpan segalanya di dalam. Tetap misterius dan berjarak.

Beberapa kali ia menyinggung tentang pernikahan dan kewajiban menjaga pandangan sebagai seorang Muslim. Harus saya akui, pandangan Abang agak kolot dan terbelakang.

Bagi saya, tidak ada agama di dunia ini. Saya setuju dengan mereka yang berkata bahwa agama adalah karangan manusia belaka, sebutlah konspirasi, atapun alat untuk mencapai kekuasaan. Tetapi Islam bukanlah agama.

Islam adalah jalan hidup.

Jalan hidup yang kita pilih sejak di alam roh. Dimana kita bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah SWT dan agar kita tidak menjadi golongan orang yang melupakan persaksian tersebut.

Islam adalah jalan hidup. Dan Tuhan hanya satu yaitu Allah SWT.

Sejak kapan Abang memiliki pikiran-pikiran demikian? Ataukah saya yang selama ini tidak mengenal dia? Bertahun dalam absentia penuh dan tatkala ia mampir dalam kehidupan saya, ia hadir dalam bentuk keasingan.

Atau mungkin asing itu adalah untuk saya yang tidak pernah dekat dengan agama? Agama yang disebut Abang tidak ada? Mana mungkin saya membuat janji yang tidak mampu saya ingat? Bahwa manusia pernah bersaksi bahwa Tuhan hanya satu?

Saya menemukan laman blog lain berjudul ‘Merah Marun’ yang menceritakan tentang Salman Arrazy, nama populer yang diberikan para netizen dan media.

Sosoknya telah meraup ratusan ribu pengikut yang mendukung ide-idenya. Orang-orang tertarik untuk menjadi relawan di lembaga yang ia dirikan. Abang tidak membawa banyak isu, hanyalah tentang kemanusiaan. Malaikat itu berbicara tentang kemanusiaan agar manusia menjadi lebih manusiawi di bumi ini. Dan betapa seorang Salman Arrazy mampu menggetarkan hati para penduduk negeri.

Abang menjadi sosok yang hebat seiring berjalannya waktu. Mana mungkin seorang pria hebat tanpa didampingi wanita yang hebat pula?

Tanda-tanda hari akhir itu sudah jelas terlihat, tulisnya.

Gelar kian tinggi namun akal sehati semakin rendah.

Penghasilan bertambah tanpa ketentraman jiwa.

Manusia kian banyak  namun rasa kemanusiaan semakin menipis.

Mengenakan jam tangan mahal namun selalu kekurangan waktu.

Ilmu semakin tersebar tetapi adab dan akhlak makin lenyap.

Belajar semakin mudah namun guru justru tidak berharga.

Al-Quran banyak dihafal tetapi sedikit sekali yang mengamalkan.

Penulis ‘Merah Marun’ pastilah pengaggum setia Abang. Dan sudah jelas dia pastilah seorang perempuan. Tulisan-tulisannya mendukung pemikiran Abang dan dia merupakan salah satu relawan lembaga yang didirikan Abang. Ia sejak awal telah bekerja bersama dengan organisasi tersebut untuk negeri ini dan ia mengekspresikan kekecewaannya dengan gula-gula guyonan tatkala berita tentang pria itu telah menikah menyeruak.

Rupanya tidak banyak yang tahu. Abang menikah dua tahun lalu, beberapa bulan setelah Pancar meninggal dunia karena kecelakaan di kota. Tidak mungkin Abang tidak mendatangi pemakaman sahabat karibnya itu. Tetapi saya masih berada di New  York sebelum menyusul kembali.

Perempuan macam apa yang mampu menarik hati Abang? Saya penasaran luar biasa.

Tapi hasil pencarian nihil.

Penulis laman itu pun belum pernah bertemu dengan isteri Abang. Blog miliki Abang pun tidak pernah menuliskan apapun tentang perempuan, apalagi pernikahan. Berita pernikahan sang insyur muda sukses pun diberitakan oleh media infotainment. Sebesar itukah popularitas Abang?

Saya mengetik nama Salman Arrazy di search engine yang mengirimkan saya pada laman-laman headline berita tiga bulan lalu.

Berita luar biasa, duka nasional. Jika saya menyelesaikan membaca artikel di blog ‘Merah Marun’ tadi maka itu adalah obituari dari seorang Salman Arrazy. Tribut kepada insinyur muda pembangkit semangat generasi masa kini akan kemanusiaan. Bagaimana bisa kepala berita itu baru sampai pada saya? Tercetak dengan huruf balok besar-besar: Kematian Tragis sang Insinyur Muda.

Abang dalam perjalanan menuju rumah pukul 17.05 tatkala sebuah mobil menghampiri dari arah kanan. Saksi mata menyebut peristiwa itu terjadi dalam hitungan detik, tak ada tanda-tanda apapun, tanpa suara, tanpa prasangka. Momen berikutnya mobil Toyota yang ia kendarai menabrak batang pohon, si pengendara terkulai dengan kepala bersandar di atas setir mobil. Lubang di pelipis kanan mengalirkan kehidupan yang tersisa darinya.

Itu adalah sebuah pembunuhan.

Tersangka kasus masih dalam pemeriksaan.

Bagaimana mungkin saya tidak merasakan pertanda apapun tentang Abang? Apakah hal itu menjelaskan tentang kehampaan yang saya rasakan belakangan ini? Bahwa ada sesuatu yang hilang dalam hidup saya? Seolah benang tipis yang menghubungkan antara saya dan ia terputuss begitu saja, membuat hati ini berdarah?

Saya tidak pernah yakin bahwa saya jatuh cinta pada Abang, bahwa perasaan yang saya miliki memang sedalam itu bagi Abang. Tapi bagaimana mungkin hal itu tidak nyata dan tidak dalam, jika pada momen yang mengalir dalam kecepatan mikro, saya merasakan sekeping hati itu terenggut dari rongganya dengan pilu? Saya mampu mendengar gemeretaknya, nyaring, patah. Ada pisau tak kasat mata yang mengiris dindingnya.

Hentikanlah perasaan ini, sungguh saya tidak sanggup lagi menerima kehilangan. Hancurkan waktu agar saya tidak pernah tahu. Buat saya tidak memiliki hati agar saya tidak perlu merasa lagi.

Saya kembali pada laman entri terakhir jurnal Abang. Bagaimana mungkin saya melewatkan itu? Pertanda itu muncul pada langit kelabu dan kelamnya malam. Seperti kota yang semu, terperangkap dalam fase diantara. Air dan garam di kelopak membeku dalam kristal permanen seperti ruang di hati saya untuk Abang.

Saya rindu akan masa lalu. Saya pun merindukan sebuah masa depan, sekalipun ia penuh dengan ketidakpastian.

Saya merindukan hadirnya kedamaian, ia seperti sahabat karib masa kecil yang telah berlalu.

Apakah ini berarti karena saya sedang jauh dari Tuhan?

Saya merindukan pertemuan dengan Tuhan. Namun bekal apa yang telah saya miliki untuk bertemu dengan Sang Pencipta?

Jika begitu, apa yang membuat hati ini lebih bergetar tatkala terucapkan: kematian ataukah Tuhan?

Ditulis 3 bulan lalu

Started: 03/11/2015

Finished: 11/11/2015 09:02 PM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s