Literature

[CERPEN]: RADIUM

radium-logo
source: glogster.com

Kabar itu datang dari sahabat seperjuangan di bangku sekolah dahulu. Tentang seorang yang ia kagumi dan kasihi yang akan menikah bulan November nanti. Saya tidak mengerti, bukankah seharusnya ia membicarakan dirinya yang masih terus melajang daripada orang lain yang mungkin sedang lebih beruntung dari dirinya?

Tapi saya meneruskan membaca surat elektronik kiriman sang sahabat.

Saya katakan bahwa dia hanyalah wanita cacat yang buta, tuli, dan bisu. Namun, sungguh, saya jatuh cinta padanya sejak pandangan pertama.  Dialah definisi perhiasan dunia, seperti yang pernah kamu bilang pada saya tentang isteri kamu bertahun lalu.

Saya kira dialah yang saya cari. Satu-satunya hal yang membuat saya dan dia dalam bentang dimensi yang berbeda adalah keyakinan. Mungkinkah dia dan saya tidak bakal mencapai akhir yang indah jika secara esensial kami menyembah Tuhan yang hanyalah satu?

Kamu ingat gadis yang pernah mampir dalam pembicaraan kita di suratmu tiga tahun lalu?

Memori saya segera berputar pada satu nama. Dan saya bertanya-tanya apa yang tengah dilakukan dan dimanakah keberadaannya kini. Sesungguhnya hati kecil saya berharap sosok dengan sepenggal nama yang menghubungkan antara saya dan ia bukanlah sosok yang sama yang mampir dalam pembicaraan kami tiga tahun lalu.

===

Beliau adalah dosen baru di departemen kampus kami. Awalnya saya kira beliau adalah dosen pengganti mengingat pengajar sebelumnya sedikit kurang jelas saat mengajar dan lebih jarang masuk—tepatnya, bisa dihitung jari dalam hal kehadiran. Mata kuliah pengukuran akan diisi oleh beliau selama sisa semester ini.

Agak mengejutkan. Karena beliau terlihat masih sangat muda.

Teman-teman sekelas telah mengetahui sedikit-banyak tentang sang dosen muda berbakat. Sarjana muda lulusan Nanyang Technology University, kemudian beliau melanjutkan gelar magister dan doktoralnya di Tokyo Institute of Technology. Bukan main. Profesor kebanggan departemen kami bahkan tidak seproduktif beliau. Hal positif yang dapat diambil adalah beliau menjadi simbol semangat generasi muda untuk terus belajar dan berkembang. Dan seolah sebagai doa nama beliau merupakan nama salah satu unsur kimia dalam tabel periodik yang masyhur itu.

Jadi, beliau hanya sepuluh tahun lebih senior dari saya.

Dan usianya belum genap tiga puluh tahun. Usut punya usut beliau telah dianugerahi dua orang anak yang masih balita. Sedikit banyak  hal ini tidak membuat saya terkejut.

Mana mungkin seorang pria hebat tidak didampingi oleh wanita hebat bersamanya yang menemani dan menopang di saat jatuhnya, tersenyum dan menyokong di bangkitnya? Dan mana mungkin seorang pria yang beriman dan berkecukupan lahir juga batin menunda ibadah yang menggenapkan imannya?

Mungkin saya hanya iri. Sedikit.

Karena sosok seperti Pak R merupakan pria yang saya harapkan untuk menjadi seorang yang bakal mengulurkan tangan pada saya kelak.

===

Gadis muda itu datang terlambat di kelas regular pertama yang saya ajar—mata kuliah lainnya adalah kelas Pengendalian Sistem untuk internasional.

Apa yang bisa saya katakan? Saya hanya membiarkan ia melipir masuk tanpa menarik perhatian untuk mengambil kursi di sudut ruangan yang masih tampak dalam jangkauan pandangan.

Tidak banyak pelajar dengan gender perempuan di departemen yang saya ajar ini. Syukurlah, membuat saya dapat menarik napas lumayan lega karena kebanyakan dari mereka pun mengenakan kerudung. Awal pertama memasuki kompleks fakultas biru ini saya agak dibuat jengah dengan para perempuannya yang seperti logam mulia pada display terbuka. Ibarat berjualan, semuanya terpampang jelas. Membuat saya nyeri.

Tetapi saya ingat gadis muda itu mengenakan kaus berwarna tanah dengan kerudung panjang warna hitam yang menjulur melewati sikunya. Saya pun tidak mengerti bagaimana bisa saya menangkap detail demikian rupa dan masih mampu memproyeksikannya bahkan hingga bertahun kemudian. Sedikit banyak gadis itu muda tadi membuat saya teringat pada isteri yang menunggu di rumah.

Saya tidak ingat nama-nama mahasiswa yang saya ajar di kelas tersebut karena absen kelas raib dan tidak pernah ditemukan. Tiga bulan waktu yang terlalu singkat untuk mengingat wajah dan nama lima puluh anak yang kebanyakan bergender anak panah seperti saya. Di kelas tersebut ada enam orang mahasiswa perempuan dan hanya satu orang yang tidak mengenakan kerudung, dan mereka pun sama sekali tidak stand out seperti mahasiswi lain yang cekikikan di kelas Statistika dan Probabilitas.

Barulah pada minggu ketiga gadis muda itu buka mulut dalam bentuk pertanyaan yang membuat saya agak gagap dalam menjawabnya. Saya tidak menyangka profil wajahnya yang terkesan seperti permukaan air tanpa riak menggemakan suara yang dalam dan sedikit husky. Dan sejak itu kapanpun mahasiswi satu itu angkat bicara saya akan terlebih dahulu menoleh pada suaranya. Hanya memastikan.

Dan, entahlah. Mungkin saya hanya ingin mendapat satu tatapan penuh dari sosok itu.

===
Dosen-dosen departemen saya seluruhnya berjenis kelamin lelaki. Itulah mengapa saya bertekad untuk memutus mata rantai itu dan ikut bergabung dalam skuad pengajar teknik mekanikal kebanggan  negeri ini.

Mereka baru saja kembali dari lunch trip yang terletak dekat kantin. Salah satu hal menjadi seorang dosen adalah bahkan urusan makan dibiayai oleh pemerintah. Seperti para mahasiswanya pula, saya dapat melihat refleksi mereka di masa muda dahulu. Kejahilan yang tiada habis makin menjadi, pikiran kritis dan aksi taktis, tawa berupa-rupa, guyonan khas generasi X.

Tetapi saya melihat Pak R sebagai sosok yang terjebak di antara dua generasi. Saya bisa membayangkan beliau sebagai kakak saya yang memarahi jika pulang terlambat atau menyahut perkataan orang tua. Saya pun bisa melihat beliau dengan intelejensi dan ide-ide curahan kaum generasi X. Saya belum bisa menentukan kata apa yang yang paling tepat dalam mendeskripsikan beliau. Epitome dari di antara dan ambiguisme.

Satu.

Tiga.

Lima detik.

Saya mendongak tatkala para pria skuad departemen hitam melintas menuju ke kantor masing-masing, mendapati Pak R ada di antara mereka: muda, penuh karya, bersinar layaknya bintang yang baru lahir dari ledakan sang supernova. Sudahkah saya sebutkan betapa Pak R juga memiliki wajah yang tampan?

Hal yang saya takutkan benar-benar terjadi. Saya tak paham mengapa aliran darah itu bergemuruh menuju titik-titik fatal di wajah. Segera saya mengalihkan pandangan kembali pada teman-teman yang bicara riuh rendah di gazebo kampus. Ini adalah sihir yang nyata. Sesungguhnya sihir itu berupa hawa nafsu dengan justifikasi berapa cinta pada pandangan pertama.

Siapa yang berani mengajukan argumen yang berkebalikan silahkan masuk keranjang sampah.

Seolah ada belati tak kasat mata yang menggores bilik mungil di jantung hati saya. Saya pernah mendengar cerita tentang seseorang yang membunuh perasaannya pada detik pertama ia berani bersemi bak sulur beracun di dalam diri. Sebelumnya saya tidak pernah yakin dengan diri saya sendiri. Mereka bilang saya adalah gadis cacat yang buta, bisu, dan tuli.

Tetapi apakah mereka peduli untuk tahu bahwa sekeping kecil hati saya telah hilang dan mati?

Karena pada detik ke-enam saya memutuskan untuk membunuh ujung akar pertama yang menghujam hati saya dengan racun ilusi bernama cinta itu.

===

Maryam.

Nama itu tertera pada nomor ganjil di lembar kertas absen di tangan saya. Itulah nama gadis berkerudung yang tidak pernah mengikuti kelas saya lagi sejak semester ganjil miskin memori itu. Tidak banyak yang dibagi kecuali pertukaran kalimat antara dosen dan mahasiswanya.

Saya dengar ia memiliki passion yang tinggi di bidang energi terbarukan sehingga ia semakin sibuk dengan riset dan proyek dosen yang berkaitan dengan minatnya tersebut. Sementara saya sendiri semakin sibuk dengan bidang yang saya geluti yaitu biomedikal.

Gadis itu bukan jenis yang gemilang secara lahiriah. Namun ia adalah pekerja keras dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Saya selalu teringat dengan kerutan di antara alisnya saat di kelas dan bagaimana ia akan mengangkat tangan setinggi dan secepat mungkin jika ada sesuatu yang tidak ia mengerti atau bertentangan dengan pemahamannya.

Inikah gadis buta, tuli, dan bisu yang mampir pada percakapan kami tiga tahun lalu?

Bertahun berjalan, gadis muda itu keluar-masuk kehidupan saya seperti putaran rol film yang seolah tidak fokus. Dia bukanlah sumbu dimana dunia saya berputar tapi akan selalu ada momen dimana saya akan mendongakkan wajah mendapati ujung kerudungnya masuk ke dalam penglihatan periferal, atau tatkala gema suaranya mengetuk gendang telinga.

Saya mengirim surat elektronik pada David mengabarkan kelahiran putri pertama dalam keluarga. Dan saya menamainya dengan satu nama yang pertama melintas dalam benak saya: Maryam.

The mother of Jesus, tulis David.

Rasulullah berkata bahwa Maryam merupakan salah satu wanita terhebat di masanya. Dan saya tidak bisa lebih setuju lagi dengan sabda beliau.

Bertahun kemudian saya mendengar kabar angin tentang sang gadis muda yang mengejar mimpi ke negeri dongeng United Kingdom. Apa kabar dirinya di sana? Apakah mimpi itu perlahan terkuak di perantauan? Di usia yang begitu muda, bahkan ia lebih gemilang dari saya.

Dan saya mulai bertanya-tanya, mungkinkah keadaan akan berbeda seratus delapan puluh derajat dari masa kini andai saja Maryam lebih tua tujuh tahun dari usianya sekarang, jika saya lebih dahulu bertemu dirinya di musim dingin yang mengangatkan hati di Tokyo?

Ah, itulah saat Maryam mampir dalam konferens kami di surat elektronik tiga tahun lalu. Saya bercerita pada David tentang seorang gadis muda berbakat dengan suara husky yang seolah siap membentak sekitarnya dengan pemikirannya yang tajam dan bersahaja. Kadang saya memikirkan dirinya, betapa ia mengingatkan saya dengan isteri saya (atau bahkan sebaliknya?). Tolong katakan pada saya ini adalah sebuah kekeliruan.

Tapi David tidak berkata demikian, sehingga justifikasi itu datang dalam bentuk sebuah pengakuan ringkas tentang apa yang saya rasakan untuk si gadis. Dan saya bercerita tentang sebuah peristiwa pembunuhan dimana saya memutilasi kepingan hati itu menjadi ribuan fragmen.

Dia disini, tulis sahabat saya. Si gadis buta, bisu, dan tuli.

Saya pikir saya telah jatuh cinta. Karena sepertinya dia adalah yang saya cari.

Sejak itu saya tidak pernah menyebut si gadis dalam konferens kami. Atau bahkan membiarkan ia muncul dalam kerlip bunga tidur saya. Atau bahkan dalam hembusan angin di gazebo kampus. Karena saya pun mengizinkan untuk memutus benang tipis yang menghubungkan antara saya dan ia. Saya memutuskan untuk membuang ingatan yang tumpang tindih di dalam kotak memori saya.

Hingga hari ini, ketika David membawa nama itu kembali.

Tetapi, entahlah. Saya bisa melihat itu terjadi lagi. Kini saya yang harus melakukannya.

Pembunuhan itu nyata, Radium. Pembunuhan itu adalah saya yang menghunuskan belati ke rongga dada yang menampung kasih saya terhadap dia. Seluruh atom dalam diri saya mendenyarkan namanya. Kesadaran saya terhubung dalam benang tipis tak kasat mata dalam tatapannya. Iman saya mencari-cari—kebenaran yang hakiki, sesuatu yang absolut.

Sukma ini mendamba dirinya, Radium. Inikah akhir yang indah yang digariskan takdir bagi saya dan dia?

Bagaimana ini bisa terjadi?

Mungkin agar engkau tahu ada apa di balik hati itu, David. Kita bahkan tidak pernah tahu sebesar apa hati mampu menahan gelombang perasaan sedemikian rupa, gejolak akal dan iman yang bermuara pada bilik kecil di atas diafragma. Jika kamu tahu betapa satu nama tidak pernah benar-benar pergi dari hidup saya, dan kadang ia mampir di sepersekian detik hidup saya tanpa permisi. Saya ingin membunuhnya lagi.

tetapi saya tidak pernah meragukan kapasitas hati yang mampu mencintai dengan akal dan iman yang tidak layu ataupun mati. Inilah cinta itu, Radium. Ini adalah sesuatu yang nyata—tanpa embel-embel sihir.

Saya mencintainya karena surga adalah tempat yang kami tuju untuk hidup selamanya. Saya mencintai demi dirinya dan saya yang lebih baik setiap harinya. Saya mencintai kecacatannya: si bisu, tuli, dan buta. Dan saya tidak yakin selepas pembunuhan keji itu saya akan pernah lupa dengan mencinta. Itu adalah jalan lahiriah manusia, Radium. Dan saya memang mencinta—namanya selalu mampir dalam doa-doa saya. Siang dan malam saya mengetuk langit dalam untaian doa di kesunyian.

Omong-omong, kau sudah menerima kiriman pos dari saya dan keluarga?

Kalimat masih mengular di laman surat elektronik tersebut namun saya beranjak untuk mengecek kotak pos. Rupanya isteri saya telah mengeluarkan seluruh isinya dan meletakkannya di dalam lemari di ruang keluarga. Pos yang dimaksud berupa amplop cokelat yang membungkus selembar undangan pernikahan sang sahabat. Saya tersenyum simpul.

Akad nikah akan dilaksanakan bulan November dan resepsinya akan diselenggarakan dua bulan setelahnya. Saat mereka sudah kembali ke tanah air.

Setidaknya saya bahagia dan bangga akan satu hal: sang gadis muda telah mampu meraih mimpinya di negeri perantauan. Dan satu hal yang saya sayangkan, saat ia kembali nanti ia bakal menjadi milik orang lain. Pengertian itu telah saya pahami bahwa pengharapan itidak akan pernah tepat jika diletakkan pada manusia lain. Dan inilah derita atas pengharapan yang tidak pada tempatnya.

Tetapi mengapa pula saya pernah berharap sekalipun?

Pembunuhan itu memang sesuatu yang nyata, David. Karena ia hadir dalam bentuk belati yang mencabik jantung hati saya, lagi dan lagi. Agar dia mati. Sesungguhnya itu adalah sihir yang nyata. Godaan itu muncul dalam bungkus elok berupa pengharapan yang tak pantas.

Kemudian, biarkan sisanya menjadi sejarah.

Started:  23/11/2015

Finished: 27/11/2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s