Islam, Literature

[CERPEN]: SEPERTI HIDUP KEMBALI

tumblr_nby1eio3hw1sv4y6do1_5001
source: tumblr.com

Music: Andra and The Backbone – Seperti Hidup Kembali

Warning ahead!

Sinopsis:

from: Hanifa Annisaa  Firdausy <hanifannisaa@gmail.com>
to: Ramadhan Asa Wardhana <wardhana.rama@gmail.com>
date: Tue, Dec 8, 2015 at 23:39 AM
subject: Assalamualaikum

Tidak mungkin.

Ini gila.

Mana mungkin seseorang mengirim surat elektronik dari dalam kubur?

===

Perempuan itu duduk di sisi kiri kafe dari pintu masuk. Wajahnya menghadap pada jendela di sampingnya, timbul tenggelam pada pemandangan deretan toko, pedestrian, dan keabsurdan anomali cuaca. Ia mengenakan kerudung yang senada dengan—apa mereka menyebutnya, gamis warna lavender.

Saya ingat karena di sudut itulah pertama kalinya saya menghabiskan waktu bersama Hani dengan kondisi paling manusiawi dan melibatkan hati.

Tetapi sudah jelas itu bukanlah sosok yang saya cari.

Beberapa saat saya mengedarkan pandangan. Para muda-mudi yang penasaran ingin merasakan suasana kafe paling tersohor di ibu kota, para elit sosialita yang membuat pertemuan semacam arisan di sudut lain, pekerja keras—seperti saya—yang baru kelar dari medan peperangan berupa klien, rapat, dan layar komputer dengan tampilan membosankan.

Jarum jam menunjukkan pukul 19.43. Saya seharusnya datang sejak tiga jam yang lalu namun ajakan minum kopi (plus makan malam) dengan salah satu klien bersama atasan tidak bisa ditinggalkan.

Sekalipun sejak surat elektronik itu masuk ke dalam kotak pesan, saya tidak yakin dia bakal muncul. Apakah yang membawa saya kemari?

Harapan. Harapan kosong. Yah, mungkin setipis rambut dibelah tujuh. Toh saya tetap berharap.

Setelah satu menit penuh melarikan tatapan kesana-kemari dan pastilah terlihat seperti orang linglung, agaknya saya hendak berbalik keluar melangkahi ambang pintu

Di sudut kiri kafe, perempuan lavender itu mengangkat wajah. Tatapan kami bertemu. Selama satu detik yang terseret pasir waktu saya seolah bisa melihat bayangan hantu. Dalam bentuk masa lalu. Atau sebentuk wajah yang begitu familiar namun mengabur bak asap menyaru gumpalan kabut. Ia tersenyum.

Saya menoleh untuk memastikan sinyal komunikasi itu tertuju pada penerimanya. Yaitu saya sendiri.

Sedikit ragu, namun saya melangkah mendekati meja. Jantung saya berdegup kian cepat tatkala jarak itu tereleminasi di antara kami. Saya memutuskan untuk tidak berlari dan meraih tangannya, mencecarnya dengan berbagai pertanyaan, penuh emosi dan kasih, juga cinta dan rindu.

Tetapi itu bukan dia.

Seraya menggeser kursi dan menempatkan diri saling berhadapan, indera penglihatan mengonfirmasi bahwa itu bukanlah Hani. Tak pelak, guyuran kesedihan mendenyar di pembuluh vena.

“ Maaf terlambat. Urusan tambahan di kantor. “

Saya menunggunya untuk mengatakan sesuatu tanpa benar-benar menatapnya.

Ia mengeluarkan sebuah buku catatan bersampul kulit dari tas tangan hitam di atas meja. Sebuah pulpen dan buku lain yang terlihat seperti jurnal. Dan ia mulai menulis. Gerak-geriknya seolah telah direncanakan sebelumnya, dari gerakan tangan yang mengguratkan tinta, ekspresi tenang tanpa riak seperti topeng penuh kepalsuan, hingga senyum yang coba ia tawarkan tatkala ia menyodorkan buku itu.

Assalamu’alaikum. Maafkan jika terkesan tidak sopan, saya harap Anda maklum dengan kondisi saya.

Saya tidak bakal lama, hanya ingin menyampaikan beberapa pesan.

Nama saya Asiyah Firdausy. Saya kakak dari Hanifa.

Itu memang atau tidak menjelaskan pertemuan hari ini. Tapi memang terlukis di wajahnya. Saya bisa melihatnya dari wajah bergaris lembut berbentuk hati itu. Pada kulitnya yang putih langsat dan terlihat selembut satin. Perempuan ini memiliki sepasang mata yang begitu impresif hingga selama sesaat saya tidak bisa mengalihkan pandangan, tercengang pada berita yang baru saja mendarat telak.

Heran, bingung, kecewa. Kecut. Saya tetap berusaha bersikap dengan tata krama setiap bertemu dengan orang asing. Mengulurkan tangan seraya menyunggingkan seringai terbaik.

Alangkah gestur yang ia lakukan untuk membalas membuat saya ciut. Ia menangkupkan kedua tangan, pandangannya tetap rendah. Tidak pernah kami bersitatap lebih dari dua detik sekalipun saya berusaha untuk terus menjaga kontak mata itu lebih lama.

“ Hani tidak pernah bercerita tentang Anda. “ Mengingatnya tidak membuat atmosfir ruangan lebih baik. Dada saya menjadi sesak.

Saya melonggarkan dasi seraya melambaikan tangan pada seorang pelayan lelaki. Memesan espresso dan beberapa potong roti bagel. Sementara ia memesan secangkir teh hijau hangat. Saya menambahkan dua buah cheesecake karena itu adalah favorit Hani. Seperti sebuah kebiasaan, saya bahkan tidak menyukai keju. Perempuan itu pun tidak menolak.

Saya tahu tentang Anda dari adik saya. Ada di dalam jurnal hariannya. Sekali lagi, saya bukannya bermaksud tidak sopan.

Saya pikir bakal lebih pantas untuk membicarakannya secara langsung. Tetapi saya bakal maklum jika Anda tidak nyaman.

Asiyah terlihat berusaha keras untuk melengkungkan busur di bibirnya. Apapun itu yang tertulis di jurnal harian Hani, saya bisa melihat bahwa justru itu yang membuatnya tidak nyaman. Saya yakin sejak detik pertama ia melihat saya, pastilah kebencian itu makin menggelegak. Mungkin ia berusaha sopan, berkata demikian sementara ia memang benar-benar tak sudi untuk bicara.

Malam ini bakal terasa lebih panjang dari biasanya. Tidak hanya karena insomnia. Tetapi carut marut luka lama itu menyeruak ke permukaan. Bahkan menjentikkan riak pada topeng perempuan itu. Dan untuk kami berdua, karena Hani.

===

Manusia lebih tertarik mengusut dan mengusik emosi serta batin antar sesama, sekalipun hal itu tidak pernah menarik perhatian saya. Pikiran adalah segalanya, ide-ide adalah kunci dari kungkungan problema, dan ideologi adalah selot yang menyokong benteng tersebut. Jika ikut hati maka terhempas, dan ikut rasa akan mati, maka saya adalah orang paling berprinsip matematika sejagat ini.

Selama tiga puluh dua tahun dalam eksistensi, tidak pernah saya izinkan setitik nila bernama perasaan menggoyahkan apa yang tidak bisa digoyahkan.

Gelombang itu merayapi udara di sekitar saya seperti lilitan yang menggerus oksigen, bersama-sama dengan dentaman musik di antara kerlip ruang. Ingar-bingar ibu kota bukan suatu yang asing, begitu juga dengan kehidupan malam di tiap sudutnya, ataupun spesies liar penghuni kota ini.

Sungguh tak terkatakan.

Berapa kali saya mengunjungi kelab malam itu dan masih saja menjadi heran dengan divergensi pengunjungnya. Kehidupan malam tidak pernah membuat saya terkesan. Tidak dengan musiknya, para pelaku, minuman beralkohol yang disajikan, ataupun wanita-wanita yang seolah ikan asin dijajakan pedagang di pasar. Kepenatan yang menggunung seperti tumpukan folder di meja kerja tidak bisa disingkirkan dengan satu sloki martini. Tapi toh saya tetap datang kemari.

Hampir satu jam saya menunggu, tapi baru sekali melirik arloji, indera lainnya seakan tumpul dan perhatian saya teralihkan sepenuhnya pada satu sosok amat tidak familiar yang baru-baru ini mengisi sudut dunia. Tepatnya dunia malam yang saya hampiri dengan eksitasi fluktuatif.

Setiap tatapan kami beremu, sengaja atau tidak, dia akan mengalihkan pandangannya, berusaha menutupi sisa kulit yang terekspos. Saya hanya melirik garis tungkainya yang ramping—dan untuk sedetik saya pun heran, hormon-hormon untuk sesaat bahkan tidak merespon pada apa yang terpampang di depan mata. Dengan atau tanpa ia sadari saya tidak pernah melepaskannya dari jarak pandang, bagaimana ia berbicara dengan kawanannya dengan ekspresi gugup yang amat kentara, bagaimana ia menyelipkan anak rambut yang tergerai dengan gestur yang khas, bagaimana garis wajahnya mengerut saat beberapa pria mengerumuni mejanya seperti gerombolan macan menghadapi mangsa yang tak berdaya.

Selalu berakhir sama. Salah satu individu dari kawanannya akan berkurang dalam cengkeraman macan-macan itu.

Ketika sosok yang membuat saya menunggu muncul, saya tetap terpaku. Sekalipun dalam pelukan tubuh paling sempurna bagi lelaki manapun, diantara kepulan asap rokok, serta jemari nakal yang menggerayangi punggung dan leher; tidak bisa menggeser apa yang sudah mutlak, yaitu mata dan pikiran saya tertambat sepenuhnya.

Cinta wanita dalam dekapan saya ini sebesar modal yang ditanam untuk perkakas mahal yang berjajar di etalase apartemennya, topeng yang ia kenakan setebal dandanannya, dan tak ada yang bisa mengalahkan kepiawaiannya bertingkah laku di hadapan setiap lawan mainnya. Ataupun di ranjang. Harus saya akui itu. Dia seorang aktris yang sempurna, saya tidak tahu lulusan sekolah drama mana wanita bertaring ini.

Satu kali. Hanya satu kali saya mencoba membayangkan dia yang berada dalam genggaman, kecupan hangat seperti apa yang akan ia bagi. Namun sulit sekali untuk melakukannya. Seketika saya merasa menjadi orang paling kotor sedunia tiap kali pikiran itu mampir.

Wanita aktrisku sudah duduk manis di pangkuan, dengan kasulitas yang sempurna saya kembali mengatur pandangan ke mejanya. Rupanya sejak tadi dia memperhatikan kami. Ia segera bangkit dan menghilang diantara kerumunan spesies yang memenuhi lantai dansa. Bahkan diantara keremangan wajahnya tersapu gradasi marun, menjadi nomor sekian yang menyebabkan rusaknya mesin rasionalitas.

Ratu drama ini rupanya amat merindukan saya—dan tentu saja isi dompet saya. Ia menjanjikan satu lagi malam yang tak bakal terlupakan.

Tentu saja ia bisa mengatakan itu pada lelaki manapun, selain saya dan akal sehat.

Perempuan dalam terusan hitam mendekati kami, mengajak untuk ke lantai dansa. Sekaligus untuk bergabung ke meja mereka: kawan baru dengan reputasi setinggi jabatannya. Kedua perempuan itu terkikik girang, memaksa saya untuk ikut.

“ Kalian duluan saja. “

Mereka berlalu. Saya melepas dasi dengan serampangan dan mulai meraih rokok kelima di hari itu. Sebelum lewat tengah malam jika gadis itu tidak mampir kembali pada jarak pandang saya, maka tidak ada alasan lagi bagi saya untuk tinggal.

Baiklah. Saya tidak bisa memberikan definisi apapun pada apa yang saya rasakan. Atau sensasi aneh yang merembes dari tulang rusuk. Nikotin begitu membantu untuk menambalnya.

Tidak sampai lima belas menit kemudian ia kembali muncul dari sudut mata. Dua orang pria berusaha merayunya, jelas sekali. Ia terlihat makin tidak nyaman dan gugup. Saya berani jamin bahwa itu hanyalah tindakan instingtif yang ada hubungannya dengan kecenderungan diri untuk menjadi pahlawan, saya menyelip di antara mereka, mengepulkan asap penuh karbon pada wajah-wajah yang amat merindukan daging segar.

“ Maaf mengganggu, Kawan. Agaknya kalian sudah terlambat. Dia bersama saya. “

Saya tidak tahu apakah itu seharusnya membuat saya merasa heroik. Gadis itu terlihat lega sekaligus semakin—takut.

Well, tunggu apa lagi?”

Di dalam mobil menyusuri jalanan ibu kota yang menderang, kesana kemari tak tentu arah. Ia tak menanyakan tujuan. Saya pun tidak bergumam. Menyodorkan jas yang saya kenakan untuk melindunginya dari angin malam.

Gadis itu terlihat masih sangat muda sekalipun dengan polesan riasan yang membuatnya terlihat makin sedap dipandang. Dan tentunya, menjual. Saya tidak bisa menerka usianya, bisa jadi pertengahan dua puluhan.

Setelah hening yang begitu panjang, saya angkat bicara: menawarkan untuk mengantar pulang.

“ Tidak. “

“ Tidak?” Saya menoleh. Tiupan sepoi dari kaca jendela yang terbuka dan parasnya menjadi pengganti ampuh kafein dan nikotin dijadikan satu. Saya memutuskan bahwa saya begitu menyukai menatapnya lama-lama.

Ia terlihat ragu. Apa yang ia pikirkan? Dia tidak benar-benar mengira bahwa saya ingin menghabiskan malam dengannya, bukan? Tetapi mengatakan bahwa dia bukanlah tipe saya bisa jadi bukan sesuatu yang solutif. Agaknya urusan penampilan dan keindahan fisikal menjadi hal yang begitu sensitif bagi kaum Hawa.

“ Baiklah, saya akan mengantarmu pulang. Jika kau memberitahu namamu. “

Saya mengulurkan tangan, sebuah tata krama bahkan untuk orang asing. Dengan satu senyuman terbaik pastinya. Lagi-lagi ia terlihat ragu. Bagaimanakah ia seharusnya menyambutnya? Lalu saya berpikir, memangnya ada cara lain untuk membalas?

Akhirnya ia memutuskan untuk meraih uluran tangan saya. “ Hani. “

===

Hani adalah pengecualian. Tak terdefinisikan. Premis tanpa kesimpulan.

Masih di kelab malam yang sama. Hanya saja dengan tujuan yang berbeda. Penat dan gumpalan sedimentasi sisa-sisa pekerjaan di siang hari luruh begitu saja. Berdasarkan hasil eksperimen adalah kombinasi nikotin, alkohol, dan gadis itu begitu mujarab untuk memperbaikinya.

Tepat pukul sepuluh malam, ia muncul pada meja yang sama, kawanan yang sama, dan gurat gugup permanen di wajahnya. Kehadirannya tidak mencolok diantara jajaran ikan asin di ujung ruangan, itulah yang seharusnya membuatku lega.

Yang membuat perut saya seolah jomplang hingga telapak kaki adalah minimnya lembar kain yang menutupi kulitnya. Rok hitamnya menggantung lima inci dari lutut, dan atasannya pastilah terbuat dari kelambu. Itu sama saja dengan melambai-lambaikan daging merah segar ke kandang buaya lapar.

Saya menenggak isi gelas terakhir margarita lalu mengambil langkah lebar menuju dimana gravitasi berpusat. Sebelum saya mencapai meja, satu per satu ikan asin telah disantap oleh kucing-kucing lapar yang sejak tadi telah mengambil ancang-ancang. Sebelum ada yang menerobos tempat dimana ia tersembunyi, saya menempatkan diri tepat di hadapannya, membuat kawanan lainnya menyingkir.

Ia melirik sekitar mencari jalan keluar seolah mangsa yang telah terkepung. Dalam radius setidaknya satu meter, kami hanya berdua. Dia tidak tahu seberapa besar dampak yang ia timbulkan bahkan hanya untuk satu malam. Saya mengambil tempat kosong di sebelahnya, menjaga jarak yang masih bisa ditoleransi oleh norma; sebagaimana seharusnya saya memperlakukan dia. Atau saya pikir begitu.

Saya tidak mengajaknya bicara, itulah yang membuatnya makin gentar. Ia menoleh kesana-kemari mencari teman-temannya, pasti ia bertanya-tanya apa yang harus ia lakukan meskipun ia tahu benar apa yang seharusnya dilakukan.

Sungguh, saya menyukai atasan kelambu yang ia kenakan, saya tidak tahu penjahit kurang kerjaan mana yang membuatnya, malam ini medan magnet yang terpancar darinya terlalu kuat. Bohong besar kalau saya berkata sebaliknya. Saya sangat menikmatinya, tentu saja. Tapi ada beberapa keindahan yang lebih baik tertutup dari rasa ingin tahu dunia, jadi saya menangkupkan blazer kelabu pada bahunya yang terbuka.

Malam itu, saya kembali mengulurkan tangan.

Tiupan angin dari kaca jendela yang terbuka, menjejak jalanan beraspal meninggalkan garis guratan. Kali ini dia yang angkat bicara.

“ Kita akan kemana?”

“ Mengantarmu pulang, “ Saya menyahut. Sudah jelas.

Hani meminta untuk berhenti, saya menurut. Menunggunya untuk mengumpulkan keberanian dan kalimat untuk mengutarakan maksud dan mengangkat pandangannya. Saya bisa melihat betapa ia begitu tidak cocok dengan kehidupan malam hari, pakaian dan riasan yang ia kenakan. Dan duduk bersisian bersama seorang pria yang nyaris tidak ia kenal. Bukan sesuatu yang bakal saya mengerti, tetapi sudah sedikit sekali gadis yang bersikap seperti ia. Bahkan untuk menatap saya lurus-lurus di bola mata seolah tak berani.

Sebagian bakal mengira dia memang begitu pemalu. Atau hanya jual mahal.

“ Tolong kembali. “

Saya menolehkan tubuh penuh ke arahnya. “ Maksudmu?”

Pastilah lidahnya seolah kelu. “ Anda tahu mengapa saya ada disana dan mengapa sekarang saya duduk bersama Anda. Tetapi saya tidak bisa pulang begitu saja. “

“ Mengapa tidak? “

Mungkin dia menganggap saya pria paling tidak peka, melempar tatapan antara kesal dan malu. “ Karena saya seharusnya menemani pria seperti Anda. “

Saya tidak bisa untuk tida tertawa. Cukup tersinggung sebenarnya, tapi dia membeberkan fakta itu begitu rupa sehingga nyaris lucu. Seperti sebuah pengakuan yang tidak pernah saya sanggup katakan. Dalam batin saya berterima kasih telah menyuarakan apa yang telah dijeritkan oleh nurani.

“ Kau pikir saya mendatangimu dan membawamu pergi hanya untuk tidur denganmu? Kau bahkan bukan selera saya. “ Yah, yang terakhir itu selip begitu saja tanpa sengaja. Saya menikmati pemandangan dimana kedua pipinya bersemu merah.

Kemudian hening. Terlalu lama dan mereduksi ruang bernapas hingga membuat tak nyaman.

Sungguh saya tidak bisa membiarkan ia kembali kesana. Beberapa kesempatan lalu saya bisa menyelamatkan ia dari pria hidung belang yang hanya menginginkan jasanya. Tapi apakah berikutnya saya bakal ada untuk menolongnya? Saya bahkan tidak tahu mengapa ia bisa berakhir di sarang penyamun itu sejak awal. Apakah saya bakal membiarkan ia diperlakukan sebagaimana mereka memperlakukan para perempuan disana?

“ Kakak saya, “ Suaranya tercekat. “ Kakak saya sedang berada di rumah sakit. Saya—kami sangat… Tolong kembali, saya harus bekerja. “

Jika ini hanyalah drama, pasti saya sudah hanyut ke dalam pusaran vorteksnya. Kekasih aktris saya itu bahkan tidak bisa membuat saya trenyuh sekaligus tersentuh. Dan pemandangan dimana gadis ini berlinang air mata tidak sanggup untuk saya saksikan.

Bagaimanapun, saya tetap menginjak pedal gas. “ Saya akan mengantarmu pulang. “

Kali ini, Hani tidak membantah.

Dengan beberapa obrolan dan satu pandangan. Saya sudah cukup puas sedekat ini dengannya.

===

Perempuan itu menulis,

Saya mengalami kecelakaan. Ayah kami telah meninggal dunia sejak Hanifa di bangku SD. Dan ibu kami menderita penyakit menahun.

Sebelum kecelakaan, sayalah yang bekerja. Dan begitu juga setelahnya.

Kecelakaan itu menjelaskan kondisi saya sekarang ini.

Saya mengangkat pandangan dari deretan huruf itu. Tanpa disadari butiran air garam menggeliat dari kawahnya, udara seolah lebih dingin beberapa derajat.

Dan setelah semuanya, perempuan ini masih sudi untuk bertemu dengan saya. Tentu saja semua ini karena Hani. Dan hanya untuknya. Saya tidak tahu mengapa diselimuti perasaan demikian, tapi untuk sesaat saya begitu merindukannya.

Saya menenggak cairan kafein itu bulat-bulat, berharap untuk menenangkan syaraf. Nol besar. Setelah mengerjapkan mata indera-indera seolah dua kali lebih tajam. Dan juga hati yang semakin merasakan.

Perempuan bernama Asiyah itu mengisi lengang konversasi ini dengan mengiris ujung kue dan menyuapnya. Saya teringat, Hani selalu menghabiskan satu slice dalam tiga kali gigitan, membuat saya tersenyum pahit.

Apakah dia mengharapkan saya untuk mengatakan sesuatu? Saya benar-benar tidak tahu apa yang harus dikatakan. Atau pun dilakukan. Untuk tetap duduk berhadapan dan bicara saja saya merasa malu. Saya butuh waktu untuk membendung kembali luapan emosi dan memori yang merembes keluar dari ruang di hati saya.

Apakah dia menginginkan saya untuk meminta maaf? Sejujurnya, saya tidak yakin ucapan maaf akan cukup. Jika itu cukup, tentunya Hani tidak bakal meninggalkan saya.

Ia kembali menulis,

Hanifa bukanlah perempuan yang seperti Anda pikirkan. Ia bekerja demikian karena kondisi yang ia pikir akan selesai dengan uang.

Ayah mendidik kami dengan baik dalam hal sopan santun dan budi pekerti. Dan terutama tentang agama.

Hanifa baru berusia sembilan belas tahun. Saya menyesali tindakan tanpa pikir panjang itu, sekalipun ia melakukannya demi keluarga. Saya menyesali ia yang melepas jilbabnya demi pekerjaan itu.

Dan sejujurnya saya menyesali pertemuan ia dengan Anda.

Tetapi saya tidak menyesalinya. Fakta itu, tetap saja, tidak membebaskan saya dari kesalahan apapun. Apa yang bisa saya lakukan agar ia bisa tahu apa yang saya rasakan tentang Hani? Bahwa saya benar-benar peduli. Demi Tuhan, bahkan saya tidak menyangka ia semuda itu.

Asiyah menghapus bulir air mata yang meluncur di pipinya yang putih. Saya tidak berkutik di bawah tatapannya yang begitu tenang. Teduh. Tak menghakimi. Yang justru tidak membuat saya merasa lebih baik sama sekali. Saya sungguh berharap ia bakal melompat ke arah saya, menampar, dan memukul tiap jengkal yang mampu ia raih. Karena saya pantas mendapatkan perlakuan lebih buruk.

===

Mengagumi apa yang tak bisa diraih, menginginkan sesuatu yang tidak bisa dimiliki, bisa menjadi lebih mudah diterima jika sesuatu itu tetap tak tersentuh, aman dalam satu sudut tersembunyi dari dunia luar. Saya pun tidak pernah mencoba menambal lubang-lubang yang meluberkan perasaan dari bendungan emosi itu, hingga ketika hasrat untuk mendekat  dan mencari tahu tidak terhindarkan, saya tidak terkejut.

Malam kesekian, saya tidak pernah menghitung lagi. Klub yang sama, atmosfer yang sama, kejenuhan yang tak berkurang, namun saya menemukan titik stabil untuk berpegangan. Para pujangga pasti tidak mengerti bagaimana bisa hanya dengan memandang seseorang mampu melengkapi apa yang hilang, mengisi yang rumpang. Jika tubuh ini bisa resisten penuh dengan pengaruh kafein dan alkohol, maka dia adalah zat adiktif baru yang meracuni hingga ke tulang sumsum.

Saya memusatkan dunia kembali padanya, ia masih mengenakan kostum dengan bahan minimum dan menampilkan dengan maksimum, dengan sepatu pemanis yang semakin bertambah tinggi haknya. Dia hanya terlalu keras berusaha. Dan, untungnya, saya selalu tepat waktu untuk menjadi pangeran dengan kuda putih.

“ Bagaimana keadaan kakakmu? “ Hampir seperti kebiasaaan, saya mengulurkan blazer padanya.

Mereka bakal menjalankan operasi bedah kedua. Berita baiknya, kondisi sang kakak kian membaik. Sisi tidak menyenangkan adalah biaya yang menunggu. Dan sang ibu yang masih harus menjalani kontrol secara rutin dan terapi serta menebus obat-obatan.

Secara instingtif, saya meraih tangannya dalam genggaman dalam gestur untuk meyakinkan bahwa segalanya bakal baik-baik saja. Seperti antara ia dan saya. Tuhan pasti memiliki rencananya. Ia terlihat semakin terbiasa dengan kehadiran saya, pembicaraan singkat, komunikasi dalam seni menatap, menerjemahkan dalam bahasa pikiran.

Mungkin dia lah yang mengajarkan bahasa perasaan itu, yang begitu asing dan aneh.

Saya merangkulnya tatakala air mata menganak sungai di wajahnya. Kami melangkah keluar dari kelab, menyembul dari pusaran asap rokok dan uap minuman beralkohol.

Sebelum ia turun, saya menahan pergelangannya. Pastilah ada sistem kontrol rahasia yang mengatur impuls yang masuk. Saya mengecup pipinya seraya menatap sepasang matanya yang melebar. Selama sedetik saya yakin dia bakal menangis. Koneksi itu bisa jadi telah terbentuk di antara kami. Dia harus tahu bahwa dia bakal baik-baik saja, karena saya lah yang berjanji.

Sejurus kemudian saya menggeser wajah, merasakan kulitnya yang lembut. Meskipun hanya selama sekian detik yang tidak akan pernah meregang menjadi selamanya. Saya mengharapkan reaksi agresif dari perbuatan barusan, sungguh. Namun Hani seolah membatu.

Genggaman itu kian kuat. Kami tahu bahwa segalanya bakal baik-baik saja. Dan saya yang menghirup tiap substansi dirinya ke dalam paru-paru saya.

Mas Rama…

Dia sangat baik. Menolong di saat yang lain memalingkan wajah tidak peduli. Mengulurkan tangan di saat yang lain hanya berucap simpati.

Alhamdulillah, Mbak Asiyah sudah dipindahkan ke kamar rawat. Masa-masa kritis sudah lewat. Sudah lama sejak Ummi sumringah begitu…

“ Maafkan saya. “ Kalimat itu akhirnya terucap. Lirih. Dengan malu yang bulat. Kekecewaan bak embos merajah seluruh wajah. Saya mendorong jurnal harian itu, tidak ingin membacanya lebih jauh.

Asiyah mendongak. Tersenyum sendu. Betapa saya berharap ia seharusnya bangkit dan menampar kemudian mengusir saya. Itu bakal membuat saya merasa lebih baik karena saya memang pantas menerimanya.

Terpatri jelas disana bahwa duka itu telah lama berlalu seperti bilur keunguan yang memudar seiring berjalannya waktu. Tetapi luka yang tadinya menganga tetap bakal terasa perih saat kau mulai menarik-nariknya gemas. Di saat luka itu beranjak pulih, ia akan terasa gatal, berkeras untuk digaruk. Membiarkannya kembali menganga. Kembali terluka.

Namun saya tidak ingin mengenang Hani seperti sebuah luka. Dan saya tidak mungkin meraih jemarinya yang ramping untuk meyakinkan bahwa kita bakal baik-baik saja.

Karena, pertama, kita memang tidak baik-baik saja. Kedua, perempuan ini bakal lebih dari sekadar menampar saya.

===

” Apapun yang kauinginkan, asal malam ini kau dengan saya. ” Ucap seorang pria yang pasti sudah berumur. Kemudian saya mengenalinya sebagai seorang wakil rakyat yang salah satu hobinya mondar-mandir rubrik skandal surat kabar.

Saya bersandar tepat di belakang si pria tua, berdeham cukup keras meningkahi dentaman musik, “Apapun yang ditawarkan orang ini, saya bisa berikan lebih. “

Semudah itu, si bandot tua bakal mendengus jengkel dan melengos pergi mencari mangsa lain tanpa predator lebih kuat membuntuti.

” Itu baju adikmu? ” Saya bertanya tak acuh, melarikan tatapan pada sosoknya yang terlihat rikuh.

Saya bahkan tidak paham mengapa ia terus kembali kemari. Apakah terlepas dari bantuan yang saya berikan tidak cukup, atau dia memang berencana untuk mengambil pekerjaan tetap demikian. Sesungguhnya saya tidak ingin menaruh harapan bahwa ia masih tetap di sini karena ingin berjumpa dengan saya.

Ia menggeleng. Sudah jelas, orang tua mana yang bakal membiarkan anaknya bersolek demikian.

” Memangnya uang yang kuberikan masih tidak cukup? ” Tapi sungguh, bukan itu maksud yang sebenarnya ingin saya sampaikan padanya. Martini sialan.

Gadis itu melempar tatapan menusuk lalu bangkit berdiri, tepat saya meraih pergelangannya; kontak fisik itu seolah menjadi yang pertama diantara kami. Dengan sensasinya berupa sengatan voltase tinggi, membangunkan syaraf, mengirimkan impuls begitu kuat, menyelinap sempurna ke bilik memori.

” Bagaimana jika kau ikut saya pulang?”

Satin hitam yang ia kenakan sangat kontras dengan sofa sewarna gading di ruang keluarga di lantai dua. Memori saya memotret dengan jelas pemandangan tersebut, setiap detail yang tergambarkan, membiarkan kesadaran itu mengetuk isi kepala: saya telah jatuh hati. Sesederhana itu, namun lebih rumit dari yang mampu dijabarkan.

“ Di dalam lemari di kamar sebelah kiri ada pakaian Karen. Kau bisa ganti baju disana. “

Saya menyempatkan untuk membilas tubuh dengan air dingin yang justru makin membangunkan kesadaran. Sepuluh menit kemudian saya melangkah keluar dari kamar, gadis itu masih terduduk disana, mengenakan pakaian yang bakal membuatnya masuk angin.

” Seingat saya Karen meninggalkan beberapa potong pakaian disana. ” Saya melirik sepatu berhak dua belas senti tergeletak beberapa kaki dari sofa. Sejujurnya saya menikmati tiap kali ia mencoba menutupi garis tungkai itu meskipun tak ada gunanya, ekspresinya gusar.

Hani tidak menyahut.

Saya kembali ke kamar untuk mengambil kaus lengan panjang dan bawahan yang setidaknya bakal lebih menghangatkannya. Namun dia tidak langsung menerima barang yang disodorkan, ia hanya menunduk menatap lantai marmer dingin di bawah kaki yang telanjang.

” Kenapa?” Bagian yang membingungkan dari wanita adalah saat mereka memilih diam, mencoba menyembunyikan emosi mereka meskipun air muka jelas-jelas menunjukkan indikasi tidak baik.

” Kau—” suaranya nyaris berbisik, saya nyaris tidak menangkap kalimatnya. Ia terus saja menggigiti ujung kukunya dan tanpa sadar membuat gestur pertahanan diri secara instingtif.

Apakah dia kembali berpikir bahwa saya membawanya pulang untuk tidur dengannya? Saya tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. Entah mengapa situasi ini terasa konyol dan agak sedikit menyinggung. Gadis ini jelas memiliki masalah dalam menganalisis ketulusan seseorang. Lebih-lebih dalam berusaha menerjemahkan bahasa perasaan yang terkomunikasikan padanya.

Ia mengangkat tatapannya dan untuk satu detak jantung saya menahan napas tatkala mata kami bertemu. Dari jarak sedekat ini, di dalam ruangan yang benderang, saya baru menyadari Hani terlihat begitu muda. Dalam raganya yang menyenangkan pandangan. Sikapnya yang begitu berbeda dari perempuan masa kini, kesantunan yang menentramkan hati. Seolah frekuensi hatinya mampu mencapai tiap lekuk dan sudut sekelilingnya.

” Untuk apa meminjamkan baju, kalau begitu?”

” Karen sudah mengisi posisi itu, tak usah khawatir. ” Saya mengangkat bahu cuek kemudian meletakkan setelan itu  tepat di sebelahnya. ” Sudah larut, lebih baik kau istirahat. ”

Saya justru menikmati ekspresi bingung dan tidak percaya yang menggaruti dahinya. Saya menyukai saat aliran darah naik ke wajahnya saat topik sensitif itu terucap. Yang terpenting, saat saya berbalik untuk kembali ke kamar, memilah tumpukan folder di atas meja kerja, adalah hembusan napas leganya secara diam-diam di balik punggung.

Dia tidak tahu bagaimana setiap malam saya tersita oleh sekat pikiran saya sendiri, berusaha memasang kembali kerangka logaritma dan premis itu, namun selalu gagal tatkala satu bentuk wajah muncul di langit-langit kamar. Dia pun tidak tahu bagaimana kehadirannya memberi efek lebih kuat daripada satu hisapan nikotin, satu teguk alkohol atau gelombang tektonik bagi pilar rasio.

Malam mengalur terseret jam pasir waktu. Pikiran melintas berdesing seperti hujan meteorit di ujung atmosfir. Beberapa bulan ini saya telah berusaha untuk mengusir insomnia tanpa obat tidur, mengira mungkin Hani tidak hanya sekadar sebuah adiksi, tapi dia bisa menjadi anestesi dari luapan emosi, atau bahkan penyembuh dari sakit jasmani.

Otot-otot involuntir di sudut mulut saya otomatis meregang setiap kali sosok itu berputar di dalam kotak memori.

Pukul tiga pagi saya bangkit ke dapur. Hani rupanya masih terjaga pula. Ia memandang hamparan lampu-lampu elektrik berwarna-warni, pada siluet tumpukan bangunan bak kolase dengan latar belakang berupa lansekap tinta gelap bersemburat lembayung.

Saya turut berdiri di sampingnya, memilih untuk memandang sebentuk wajah itu daripada langit yang gundul. Itulah yang sangat saya inginkan. Melarikan jemari saya di atas kulitnya, menghirup napasnya dalam-dalam, tersenyum di antara degup jantung dan napas yang memburu. Hingga ia berjinjit dan saya merapatkan jarak di antara kami.

Kami berdua tidak tahu siapa yang telah berencana demikian. Atau setidaknya mempersiapkan diri untuk hal yang terjadi berikutnya. Bagaimana ia mengangguk menyahut perkataan dalam gestur yang nyaris tak kentara yang saya utarakan. Bahwa pasti sesuatu yang absurd jika tidak ada suatu benang tipis yang menghubungkan debaran jantung hati kami. Dan menyentuhnya, menghirup tiap substansi dirinya, adalah sesuatu yang absolut.

Begitu cepat.

Pergeseran derajat pada jarum jam pun tidak bisa merekamnya. Tidak seperti kotak memori di balik kepala.

Hani. Mungkinkah seperti manisnya madu, selembut susu, serupawan rembulan pada kanvas langit malam. Dan bisakah saya mengatakan bahwa ia adalah milik saya?

===

Akhirnya perempuan di hadapan saya ini menangis.

Bulir air garam merintik kemudian menghilang dalam sapuan kertas tisu. Betapa menyaksikan kesedihan itu menaunginya sama sekali tidak mudah seperti tatkala harus melihat Hani tersedu di dalam pelukan saya.

Tidak sampai satu menit Asiyah berhasil menguasai dirinya kembali. Ia meraih pena dan mulai menulis. Saya melirik arloji. Telah satu jam berlalu, ia terlihat agak tergesa.

Sebagai sesama Muslim, tentu Anda dan saya paham bahwa itu tidak bakal terjadi jika pihak perempuan tidak membiarkannya di kesempatan pertama. Pintu ke seratus itu.

Saya ingin Anda tahu bahwa saya tidak menyalahkan Anda. Karena saya memang tidak memiliki kuasa dan hak untuk menyalahkan siapapun.

Saya tidak ingin Anda merasa terbebani perasaan itu. Kami sekelurga tidak menyalahkan Anda. Dan bersyukur atas kebaikan hati Anda untuk membantu kami dan juga Hanifa.

“ Nona, saya tidak bakal menyangkal tuduhan apapun yang bakal kau berikan. “ Saya tercekat. Sela tulang rusuk rasanya seolah tertembus timah panas, menembus kulit, merobek jaringan dan pembuluh. Kali ini saya tahu, ini bukan hanya karena Hani. Apakah perempuan ini, akal sehat sebagai seorang insan, ataukah nurani.

Bisa jadi satu-satunya yang mencegahnya untuk berteriak dan menyumpah pada saya adalah fakta bahwa ia tidak bisa bicara. Namun ekspresi wajahnya tidak merefleksikan nada para perempuan saat digelayuti emosi. Leburan beriak di bawah permukaan yang tunak dan datar. Bahkan genggaman saya bergetar untuk menahan gejolak erupsi emosi.

Asiyah mengajukan lembaran jurnal kemudian beralih menyibukkan diri dengan pena dan bukunya. Sudah jelas, itu adalah bagian yang bahkan saya tidak bernyali untuk membacanya.

Semua ini membuat saya berpikir. Bertanya-tanya.

Sangat lucu. Selepas tengah malam kami bakal bercinta lalu menjadi kalang-kabut untuk membersihkan sisa perzinahan itu untuk kemudian menghadap Sang Pencipta. Betapa manusia yang kurang ajar.

Mengapa kami tidak segera dihukum saat itu juga? Dikunjungi malaikat pencabut nyawa. Mungkin itu caraNya untuk berbisik lirih bahwa kami masih diberi kesempatan.

Apa yang bakal dikatakan Mbak? Apakah dia bakal lebih jijik pada saya seperti yang saya rasakan?

Bagaimana mungkin dosa itu kami lakukan seperti sebuah repetisi. Dalam rutinitas yang sporadis. Saya tidak paham mengapa aktvitas itu pasti tersisip di tiap pertemuan kami. Bumbu cinta? Saya bahkan tidak bisa mencintai diri saya sendiri.

Tintanya agak luntur. Ada jejak air yang tumpah di atas kertasnya, hanya di lembar itu. Satu momen kemudian bulir air lain ikut membasahi, berasal darimana saya tidak yakin. Ramalan cuaca tadi pagi berkata bahwa hari ini bakal cerah berawan, lagi pula kami berada di dalam sebuah kafe.

Jadi pastilah itu air mata saya sendiri.

Sulit untuk mengakui bahwa ini hanyalah ilusi bernama cinta. Bagaimana dia mungkin benar-benar mencintai saya?

Ya Rabb-ku, inilah yang tak terkatakan di dalam tiap doaku.

===

” Tapi pada akhirnya kau memang ingin, kan?” Balasnya dengan sudut-sudut mata mulai tergenang cairan berkilau yang asing berada wajahnya. ” Untuk apa kau datang ke sana kalau kau sudah punya kekasihmu sendiri? Kenapa kau menghampiri saya?”

Itu pula yang saya pertanyakan. Namun tak ada kalimat yang keluar dari mulut ini ataupun erupsi emosi yang tidak pada tempatnya. Selama beberapa menit kami berdiri saling beradu pandang. Pertengkaran pertama dan yang terhebat dari yang pernah kami hadapi. Karena Hanifa biasanya hanyalah menjadi cermin dari diri saya. Kali ini permukaannya retak.

Jelas bahwa kami tidak baik-baik saja.

“ Dan sekarang saya yang menggantikan posisi kekasihmu itu. “

Hani membiarkan tangisan meluruhkan dinding emosinya. Dia tidak pernah berteriak, tidak pula di hari itu. Namun nada tinggi emosional pun tidak bakal sanggup mengiris sefisien dan seefektif kalimatnya barusan. Karena di sana terdapat pengakuan. Terdapat realita. Terdapat selubung kotor bernoda yang menyaru kelambu pengaman perasaan yang kami sebut cinta.

Di sana adalah pengakuan saya dan ia. Realita saya dan ia. Apa yang sanggup ia katakan namun saya tidak mempunyai keberanian untuk mengutarakan.

“ Saya benar-benar mencintaimu, Hani. “ Ia melangkah mundur menghindari sentuhan saya. Bakal lebih baik jika ia menjerit saja, menyumpah, menampar, memukul. Agar rasa sakit itu hanya saya yang merasakan. Tapi sikap diamnya membuat saya tak mampu berkata.

” Saya akan mengantarmu pulang. ” Saya berujar disela tarikan napas dalam untuk menenangkan diri.

” Tidak perlu. Ibu saya bakal pingsan kalau dia melihat saya pulang dengan seorang laki-laki setelah beberapa hari tidak di rumah. ”

Saya mengacak rambut dengan frustrasi. Saya pikir pembicaraan ini untuk sementara tidak bisa dilanjutkan. Hani hanya butuh waktu untuk menata kembali ruang emosinya, untuk sekadar menarik napas, menemukan akal sehat itu kembali. Sementar mungkin saya membutuhkan sebongkah nurani.

Hani menuruni tangga dan menghilang di balik pintu.

Itulah terakhir kalinya saya bertemu dengan gadis itu. Selanjutnya ia tidak pernah muncul dimana pun, menghilang begitu cepat seperti ia hadir dalam kehidupan saya. Kehadirannya yang begitu nyata dalam momen-momen terkristalisasi seperti kelabu asap yang kasat oleh penglihatan namun tak dapat teraih genggam. Tidak ada pertukaran pesan ditambah nomor yang tenggelam di ujung pengeras suara.

===

Hal lucu lagi. Nyaris seperti ironi

Bahwa setiap saya kembali pulang dari kediamannya, selembar cek dengan nominal yang tidak biasa terselip manis di dalam tas. Apa maksud dari ini semua? Apakah jika kami tidak pernah melakukan perbuatan dosa itu, dia bakal tetap memberikan bantuan?

Saya bertanya-tanya, lebih baik menggantikan posisi kekasihnya atau saya hanya memainkan lakon sebagai penjual jasa semalam dalam panggung sandiwara hidupnya?

Selembar kertas menelusup di bawah telapak tangan, menanyakan apakah saya tidak apa-apa. Mana mungkin. Saya adalah definisi dari berantakan. Tak keruan. Terpecah-belah. Tercerai-berai. Apa saya bakal kembali utuh seperti dulu lagi? Hanya Tuhan yang tahu.

Hari ini adalah manifestasi dari kerinduan yang bergejolak, perasaan yang bergemuruh, harapan yang tak bertemu, kekecewaan yang memuncak, amarah yang meringkas, hitam yang menyekam, haru yang membiru.

“ Anda hendak pulang? Saya akan mengantar—“

Tidak, suaminya sudah menjemput. Asiyah mengulurkan selembar tisu dengan hati-hati, wajahnya mengukirkan lebih dari sekadar simpati. Bahwa ia merasakan apa yang rasakan. Hani adalah darah dagingnya. Ia tak ubahnya saya yang meruntuh kepingan. Sekali lagi, ia menawarkan sebuah senyuman. Begitu tulus. Yang sama sekali tidak pantas saya dapatkan.

Apakah saya sudah mendengar berita tentang Hanifa? Ya, tentu saja. Hanya berupa kabar burung yang sampai ke telinga tentang gadis muda yang baru masuk dunia jual-beli pemuas dahaga pria. Ia keluar setelah empat setengah bulan disana dengan catatan satu pelanggan tetap yang menjemputnya hampir di tiap malam. Salah satu teman mendengar berita kematian tersebut dari orang sekitar rumahnya. Tepat tiga minggu dari ‘pengunduran diri’nya.

Setelah itu dia memang tidak pernah datang lagi, tidak di manapun.

Asiyah mengeluarkan secarik surat kabar dari tasnya.

Oh, perkembangan baru dari kasus itu. Huruf balok besar-besar menghiasi salah satu sudut kolom berita, dramatisasi dari sebuah tragedi. Polisi memang telah mengonfirmasi bahwa potongan lengan dan tungkai di kawasan industri pinggiran kota teridentifikasi sebagai milik gadis muda yang telah menghilang sejak beberapa bulan lalu. Kini mereka menemukan potongan lengan bersama bagian abdomen hingga pinggul di sebuah rumah kosong berjarak lima puluh tiga kilometer dari lokasi pertama.

Ya, lengan itu yang pernah ia genggam. Pinggul dimana ia menyentuhkan jemari yang penasaran, menggariskan pola, menandainya.

Ditemukan bekas penganiayaan di ‘tubuh’ korban. Juga jejak semen yang diduga adalah pelaku pembunuhan tersebut. Sementara investigasi masih terus berlanjut. Hasil autopsi menyebutkan bahwa korban dalam kondisi mengandung lima minggu sebelum peristiwa itu terjadi.

Lembaran itu digantikan oleh secarik kertas kecil.

Ketahuilah bahwa kita akan dipertemukan dengan orang-orang yang kita cintai. Tentunya, berharaplah dalam kondisi jiwa dan raga yang terbaik, di tempat yang terbaik yaitu surgaNya. Jadi siapa yang sesungguhnya kau cintai? Siapa yang benar-benar ingin kau temui di hari akhir nanti?

Jika kau benar-benar mencintai maka temuilah disana. Jadikan dirimu yang terbaik karena disana Dia menunggumu. Menunggu kita.

Tatkala saya mengangkat pandangan, perempuan itu telah menghilang dari hadapan. Dari balik kaca jendela, Asiyah melangkah menembus rintik hujan ke dalam sebuah sedan hitam yang telah menunggunya tepat di depan kafe.

Started: 09/12/2015

Finished: 10/01/2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s