Literature

[POEM]: I say I love the rain, I say I love the wind

534cb36a443e5091ccf7ccfc30b4384e
source: pinterest.com

Hujan
Rintik fluida merembes celah dan gundah
Cerah
Kau bahkan tak tahu apakah mentari butuh sandaran
Pikirku untuk merangkai rima dalam kata
Renungku untuk menyintesa rasa dalam kertas dan tinta

Hujan
Kubilang aku cinta hujan; dalam mekanikananya yang sejalan
Angin
Pada hembusan napasnya maka aku ingin
Lalu kucari–tidak ingin berlari
Di tengah kuberjingkat dari duri-duri
Dalam interval yang meregang aku terhenti

Hujan
Hujan itu biru–energi universal yang menggebu
Hujan itu jarum-jarum yang menusuk sukmaku
Mau kumau–mau untuk tak mau
Angin itu mega–giga
Angin itu mengetuk daun pintu yang terjaga
Rindu yang hadir–hadir hanya untuk absen
Pikirku mereka adalah oksigen

Rengkuhnya pada bahuku
Bisiknya bak melodi bisu
Hangat untuk menaikkan suhu yang beku
Dalam interval yang menganga aku berhenti mencari

Guntur
Tak mau kukenal ia
Tak sopan, tidak pernah permisi–tanpa akal dan bahasa
Ia yang membuat tinta langit luntur
Rasanya ingin kabur
Kelabu
Mereka bilang biar saja langit akan tetap kelabu
Hitam
Mereka bilang malam akan selalu kelam
Membiarkan aku tenggelam
Membiarkan aku hilang ke dasar–lubang hitam itu memang besar

Pelangi
Dalam ragam warnanya yang terdisosiasi
Tergugahlah pada keindahan yang membuat ngeri
Ia singgah, melambai–menolak pergi
Mau kumau–mau untuk tak mau
Renungku takkan kuberikan rima rindu
Benakku akan datang yang baru
Matahari
Rona wajahnya yang menolak senyap sepi
Dekapnya mencairkan fase beku–beku yang menghentikan fungsi
Matahari itu mega–giga
Susup-menyusup daun pintu yang terjaga
Hujam-menghujam kaca jendela yang temaram jelaga
Resap-meresap atap berlapis tiga
Dalam interval yang menyempit aku tak ingin lagi

Hujanku dilenyapkan di antara awan
Anginku terkurung di sangkar berjalan
Ia jangkau jengkal-jengkal kesempatan

Kelabu
Dimana langit yang kelabu
Hitam
Pikirku janjikan kelam yang menantang geram
Mau sungguh kumau–untuk mau
Dalam interval yang tersisa hanyalah aku

Guntur–panggilku
Guntur–tanyaku

Pikirku untuk merangkai rima dalam kata
Renungku untuk mengintip rasa dalam goresan pena dan tinta
Rindu yang hadir–hadir untuk mampir
Kiraku tak lagi bisa kupikir

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s