Literature

[CERPEN]: DIALOG BINTANG

DSC_0114 (FILEminimizer)
credits to Aji Tata

Cangkir kopi bertanya apa yang tengah kupikirkan. Mengapa semalaman diri ini hanya mendongak dari balik kaca jendela pada temaram malam.

Entahlah, kastil ini bagai penjara. Bola-bola besi yang terhubungkan rantai tak terlihat melilit pergelangan kaki. Atau mungkin jeruji tak terlihat itu menjadi kian nyata karena ia memang diciptakan olehku sendiri. Aku hidup di dalam tempurung yang mengurung. Sudah lama aku merindukan hangatnya bantalan tanah pada tiap jengkal bumi yang kupijak. Naungan kanopi dedaunan pohon di hutan. Punggungan dan lembah yang bersenandung memanggil lantaran terlalu lama aku abaikan.

Terlebih pada Sang Pangeran.

Ia mengunjungiku tepat di tengah malam, mengetuk bingkai jendela yang membatasi dimensiku dan dirinya.

Kehadirannya seolah seperti hal yang tak terhindarkan. Seperti matahari yang mengintip dari timur tatkala rembulan berayun menguapkan kantuk. Atau seperti pada salju yang berguguran di penghujung tahun, mengigit hingga sumsum tulang namun begitu menawan.

Tetapi diriku tidak menjawab pertanyan Tuan Cangkir Kopi. Dia tidak perlu tahu. Bisa jadi telah tertulis dengan jelas pada raut wajahku yang menyerupai beriak air di tengah hujan. Dialah satu-satunya saksi yang memilih bisu atas penantian tanpa harapan ini.

===

Tanda-tanda itu terlukis pada kanvas langit. Sebentuk malam tanpa gumpalan awan di musim panas, gugusan bintang seolah sejangkauan lengan dari menara tertinggi kastil kerajaan. Bulan yang pucat seolah berisyarat suatu rahasia. Tentang resah dan gelisah, kasih dan rindu.

Ini adalah rahasia langit. Dan rembulan menghantarkan sang bintang tepat di jendela kamarku. Bagaimana mungkin ia menembus palung waktu dan kini berbagi ruang dengan diriku, mengulurkan tangan seraya menyunggingkan sebentuk senyuman.

Sang pangeran berpuisi. Mungkinkah penglihatan ini mendustaiku, karena dari ujung kepala sampai kaki ia terselimuti serbuk bintang. Mungkinkah pendengaran ini mengingkariku karena ia menyatakan cinta pada Sang Putri yang layu. Sungguh ini adalah sihir yang nyata.

“ Tunggulah aku pada musim panas berikutnya. “

Dan kini ia memintaku untuk menunggu. Apakah ia tidak mengerti bahwa satu juta tahun cahaya yang ia tempuh untuk kini berdiri di hadapanku, pada malam yang temaram, dengan tatapan penuh kasih dan kelembutan, adalah seumur hidup bagiku? Bagaimana mungkin aku menunggu?

Sementara pada musim dingin nanti diriku akan genap berusia sembilan belas tahun. Kutukan itu akan memutus seutas benang yang menghubungkan jantung hati kami. Bagaimana mungkin ia memintaku untuk menunggu?

Betapa kejamnya. Sang pangeran hanya mampu memberiku selongsong harapan tanpa mampu mengisinya. Inilah penjara itu. Sebuah tempurung yang mengurung karena dirikulah yang membuatnya begitu.

Dan kini tidak hanya kutukan itu yang bakal menggerus tiap butir pada jam pasir yang menanti di ujung ruangan. Namun kasih yang tak tersampaikan. Hati yang jatuh dan terluka karena ia telah serakah berusaha menguak rahasia langit. Bahwa aku telah mendamba sosok yang tiada pernah bisa abadi di sisiku. Bagaimana bisa aku menaruh harap pada makhluk langit yang fana ini?

Maka aku berkata, lebih baik ia tidak pernah mengucapkan apapun. Hatiku yang lemah tidak akan mampu membendungnya.

Kini Sang Putri sekarat karena tidak hanya jasadnya yang pias melayu. Namun karena pembunuhan itu begitu nyata. Entah dimana potongan hati yang ia matikan dengan segenap paksa.

Pernah dengar manusia hidup dengan hati yang tidak utuh?

Aku pun tidak.

===

Tuan Cangkir Kopi berpesan padaku untuk mengenakan satu lapis tambahan sarung tangan. Ia bakal menyiapkan secangkir kopi hangat sebelum upacara dimulai. Oh, baiknya pula untuk mengunci seluruh jendela karena badai salju terlihat bergolak tepat di atas kastil.

Aku bakal sangat merindukan si cangkir tua yang menemani sejak aku mampu berbicara, yang tidak pernah absen membacakan dongeng pengantar tidur, dan bergumam mengisi kesunyian hidupku. Terutama pada kopi yang ia hidangkan seolah mampu meluruhkan gumpalan es yang meradang pada tiap sel di dalam tubuhku.

Tapi kata perpisahan memang harus selalu terucap di penghujung pertemuan.

Sang Pangeran bukanlah makhluk langit yang menembus dimensi waktu melalui lorong-lorong lubang hitam untuk berpuisi menyatakan cinta. Namun ia begitu nyata, tidak hanya mampu kurasakan kehadirannya bak semilir angin.

Aku mampu menghirup tiap substansi udara di paru-parunya, genggamannya kokoh saat ia meraih jemariku. Detik dimana ia menawarkan sepotong hati yang baru maka butiran yang mengaliri jam pasir itu berhenti berdetak. Juga dengan jantungku. Bagaimana ia mampu menemukanku, tiada perlu aku tahu karena aku dapat menguaknya pada malam-malam nanti pada sang rembulan.

Apakah dia bakal membuatku menunggu? Bahwa salju pertama bakal menyentuh halaman kastil dalam hitungan hari dan aku hanya akan menemu ajal dalam penantian tiada arti.

Sungguh aku tiada bisa lagi menaruh harap. Ia tidak menawarkan keabadian, tidak pula kehidupan bergelimang cinta dan harta. Sang Pangeran tidak mampu berpuisi namun ia telah mampu membungkus rahasia langit dan meletakkannya di pangkuanku.

Begitu fasih dan elok. Rahasia langit itu mensintesis aku dan ia menjadi kami, merunut kepingan yang awalnya tercerai berai menjadi sesuatu yang utuh dan menyeluruh, menguntainya dalam sebuah dialog manis.

Dan aku berbisik pada diriku: ini adalah sesuatu yang nyata.

===

Sihir itu lenyap. Atau mungkin hanya di suatu tempat di dalam dimensi duniaku.

Kamar yang telah bertahun ditinggalkan tidak pernah begitu absen kehidupan, kesunyian yang melingkupi seolah tercelup dalam ruang hampa.

Jam pasir itu telah hancur menjadi kepingan kecil dengan isinya berhamburan pada lantai batu dingin. Jendela kamar terbuka, nyaris terlepas dari engsel penyangganya. Kastil ini telah ditinggalkan semenjak kepindahan seluruh kerajaan  bertahun lalu jauh ke selatan, ke tempat yang lebih hangat, dan lebih banyak penghidupan. Mengikuti sang putri dan pangeran yang naik takhta setelah raja dan ratu tutup usia.

Aku ingin sekali menyapa sang cangkir kopi tua. Namun kini ia hanyalah sebentuk keramik dengan retakan di sana-sini, tiada bersuara atau pun bersuka cita. Di dalamnya terdapat serbuk gemerlap yang seolah terbuat dari gumpalan berlian.

Lagi-lagi itu adalah rahasia langit.

Sepotong hati yang dahulu mati itu kini kembali. Namun ia memang tiada utuh lagi. Aku tidak tahu dimana pemiliknya kini, sungguh aku bahkan terlalu jeri untuk bertanya.

Tanda-tanda itu terlukis pada kanvas langit. Sebentuk malam tanpa gumpalan awan di musim panas, gugusan bintang tenggelam di balik lunturan tinta. Aku mendongak pada bulan yang berseri seolah berisyarat suatu rahasia baru. Tentang kasih dan rindu. Hanya kasih dan rindu.

21/02/2016

10:12 AM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s