Literature, personal

[CERPEN]: JURNAL TENTANG KEKUATAN

tumblr_inline_nkfbezmsqg1rg49br
credit: tumblr.com

Wajah-wajah.

Di tiap sudut ruangan, taman, kampus, wajah-wajah yang beralih memandangku memunculkan segenap prasangka dan skenario dari A sampai Z tentang apa pun itu yang mereka pikirkan tentang aku.

Mereka tidak meringis, menyeringai, mencemooh, atau pun mengejek. Sekadar memandang. Tentu saja, bisa jadi, segalanya hanya terjadi di dalam kepalaku.

Aku tidak ingin mereka menatap padaku, abaikan saja. Tidak bisakah mereka membiarkanku menjalani hidup dengan tenang? Mereka pikir merupakan hal mudah untuk melewati hari-hari yang seolah semakin menghimpit dada yang sudah sesak ini?

Mereka tidak tahu. Mereka tidak mengerti

===

Terlalu banyak ketakutan dalam kehidupan dan sungguh sedikit keberanian yang kupunyai bahkan untuk sekadar menghadapi dunia. Bisa jadi karena aku hanya sendirian untuk berjuang—manusia lain memutuskan untuk abai karena merasa mereka yang memiliki kepentingan paling nomor wahid. Atau sesimpel mereka memang tidak peduli.

Selalu begitu.

Aku peduli dengan mereka yang di sekitarku. Aku selalu ingin mencoba membantu mereka yang mengalami kesulitan, yang terabaikan. Karena tidak ingin mereka merasakan yang aku rasakan

Tetapi setelahnya, mereka pun kembali abai. Dan meninggalkan.

Sungguh, aku takjub dengan manusia.

Tidak hanya cukup dengan mengecewakan, mereka pun meninggalkan sesama. Ini yang disebut sebagai persaudaraan? Katanya kita ini adalah keturunan anak-cucu Adam, nyatanya aku dan kamu bahkan enggan untuk saling mengulurkan tangan atau bahkan bertanya apakah kamu dan aku baik-baik saja.

Karena aku sedang tidak baik-baik saja.

Dalam kehidupan singkat yang aku jalani, dengan terlalu banyak merasa takut serta rendah diri, aku menghabiskannya dengan merasa tidak baik-baik saja.

Aku berharap sabar dan syukur itu mendarah daging dalam diri. Sabar tatkala kesulitan dan cobaan mendera diri. Serta bersyukur tiap kali kemudahan serta berkah dilimpahkan oleh Dzat Yang Lebih Besar dari manusia atas diri ini.

Saat aku masih dalam kondisi seimbang—normal, aku selalu berdoa agar Tuhan memberi aku kekuatan. Aku tidak ingin lagi merasa takut. Toh, perlahan tapi pasti peta problematik itu menuju pemberhentian akhirnya yaitu penyelesaian. Tidak selalu mereka yang memandang padaku merupakan suatu bentuk cemooh nan sinis. Aku tahu ada di antara mereka ada yang peduli. Selama ini semuanya hanya terjadi di dalam kepalaku saja.

Namun ketika semuanya menjadi semakin parah—periode yang merupakan mimpi buruk bahkan di siang bolong, aku bukanlah yang diriku kenal lagi. Mereka tidak bakal mengerti. Wajah-wajah yang menatap membuatku mengkeret di tempat, kepalaku berdenyut dengan segala gejolak emosi serta prasangka. Pembuluhku tersusupi setan-setan yang berbisik huru-hara, darahku mendidih oleh gelegak rasa takut yang kian memuncak.

Sulit—sangat sulit untuk menjelaskannya karena kamu tidak bakal mengerti. Bahkan selagi aku bicara dengan kamu saat ini—apakah kamu bahkan mencoba mengerti?

Mungkin. Namun kamu pasti tidak bakal pernah mengerti karena kamu bukan aku.

Tahukah kamu? Bahkan aku pernah terlalu takut untuk terbangun. Bangkit dari ranjang tempat aku mengarungi alam yang sempurna—yang semuanya baik-baik saja. Kepalaku sungguh sakit dan berdenyut, aku hanya ingin tidur. Siapa yang mengira untuk memulai hari amat begitu menakutkan?

Bukan karena belum mengerjakan tugas yang menumpuk. Atau pun belum belajar untuk ujian. Tugas dan ujian hidupku membuat mereka seakan menghadapi ketiadaan tiap harinya.

Maafkan aku, sesungguhnya aku membutuhkan sosok untuk mendengarkan gumam-gumam yang tak tersampaikan di benak yang berantakan. Akan lebih baik lagi jika kamu bersedia membagi beban ini bersama-sama, hanya dengan kamu mendengarkan sungguh aku merasa dunia perlahan menjadi lebih besar satu inci, setidaknya, terasa lebih melegakan dibanding sebelumnya.

===

Agak aneh ya jika kesulitan orang lain menjadi sesuatu yang membuatmu merasa lebih ringan? Melihat orang lain tersandung masalah membuatmu mengelus dada berkata, “Untunglah saya bukanlah dia. “

Atau ketika kamu sudah mengerjakan tugas setinggi bukit tetapi teman lain bahkan baru memulai dari paling bawah. Kamu akan melirik sesaat, berpikir, “Fiuh, syukurlah saya sudah selesai. “ Syukur-sukur tidak ditambah embel-embel menghakimi dan nasihat kosong kepada teman kita yang kurang beruntung itu. Biasanya kita enggan membantu karena merasa ia ‘pantas’ dihukum atas kelalaiannya karena tugas yang menjadi tanggungjawabnya. Biar, biar ke depannya dia bakal menyelesaikan seperti seharusnya.

Bagi saya, agak aneh jika kamu meminta maaf lantaran dengan kita berbicara seperti ini, dengan membagi beban di kedua bahumu, bakal menambah beban dalam hidup ini. Maafkan saya, tapi dunia sama sekali tidak bekerja seperti itu.

Kamu tahu mengapa saya memilih untuk tetap tinggal daripada kembali pada agenda-agenda yang telah menunggu bersama manusia lain di luar sana?

Karena saat kamu dan saya duduk berhadapan ini, sadar atau tidak, bukan hanya kamu yang membagi beban dalam hidup. Melalu deskripsi dan kata, bahasa tubuh nan gugup yang ditunjukkan, atau getar tawa penuh keraguan sekadar untuk meyakinkan bahwa masalah itu benar-benar ada. Padahal kamu tertawa bermaksud agar saya tidak perlu merasa kasihan.

Saya kasihan. Pada diri saya yang sering lupa. Lupa bahwa bukan saya seorang yang mengalami kesulitan dan harus menangani segala macam topan badai yang memporak-porandakan kehidupan. Saya selalu meyakinkan diri bahwa terdapat tujuh milyar manusia di dunia, bisa jadi di luar sana ada tujuh milyar kombinasi permasalahan yang harus dihadapi tiap insan yang menghirup udara—termasuk mereka hewan dan tumbuhan.

Lagipula kita diciptakan, tidak lain dan tak bukan, untuk beribadah dan menyembah-Nya. Dan adalah sebuah keberuntungan bagi manusia jika ia mampu mencegah orang lain dari yang mungkar dan membawanya pada kebaikan serta kebenaran.

Ya, saat kamu dan saya duduk berhadapan seperti ini, kita saling mengingatkan. Kita saling berbagi. Lihat kan? Kamu bahkan memiliki kapasitas untuk mendengar keluhan saya semata-mata karena saya ingin kamu tahu bahwa yang diberikan cobaan dalam hidup bukan hanya kita.

Dan sesungguhnya saya berharap kita saling menguatkan.

Kamu ingat ketika saya sering becanda ingin segera menemukan sosok berlabuh, separuh hati dan jiwa saya, dalam waktu dekat? Itu bukan karena saya ingin lari dari segala permasalahan hidup kemudian memulai lembaran baru dengan menorehkan tinta masalah baru nan segar. Semata-mata karena saya sudah lelah ditinggalkan dan dikecewakan. Saya menginginkan sebuah kepastian

Yaitu dia, yang bisa terlihat dan tersentuh, sebagai sandaran agar saya tidak terjatuh. Saya pun ingin menjadi sandaran dirinya.

Lihat? Kamu juga memikirkan hal yang sama kan? Sayangnya, saya belum diberikan rizqi dan tanggungjawab tersebut.

===

Saat kondisi diriku normal, aku selalu berdoa agar Tuhan memberiku kekuatan. Yang tidak pernah disangka ini adalah cara Tuhan menguatkan aku.

Problematika hidup, penyakit fisis dan psikis.

Aku khawatir aku tidak mampu melewatinya hidup-hidup. Kadang aku berpikir, tidak mengapa, jika aku tidak pernah terbangun lagi dari tidurku. Bahkan sekadar untuk membuka mata, menyadari hari telah berganti, menyelipkan kegentaran baru dalam benak.

Tidak ingin menjadi beban bagi orang tua. Aku tidak mampu menghadiri kelas melihat wajah-wajah itu menatapku. Amanah tanggungjawab yang menanti ditunaikan.

Suatu saat aku pernah merasa enggan untuk beribadah. Aku tidak tahu—sulit untuk menjelaskan. Aku hanya merasa tidak pantas untuk berdoa meminta pada Tuhan agar menolongku, meringankan bebanku. Apalagi aku telah menyalahkan tujuan penciptaanku di dunia—Tuhan pastilah membenciku.

===

Maafkan saya, tapi saya memang tidak bakal mengerti.

Memberikan nasihat kepada seorang sahabat, sepertimu, bukanlah hal yang sama dan biasa. Teman-teman yang lain bisa ditanyakan apakah ibadah harian mereka baik-baik saja, apakah pertemanan dengan kawan-kawan sesama pendamba surga untuk recharging diri berjalan lancar, bagaimana amalan mereka sejauh ini.

Saya tersenyum berusaha meyakinkan, membatin bahwa kamu adalah kasus yang spesial. Belum pernah saya berpikir sekeras ini untuk memenuhi hak seorang sahabat.

Marilah saat diri kita masih baik-baik saja, kita isi dengan amal perbuatan baik, pikiran yang positif, serta doa-doa memohon ampunan dan pertolongan.

Jika kamu mulai merasa tidak baik-baik saja, jika pergolakan dan vorteks itu kembali meluncur di awang-awang, coba ucapkanlah mantra ini. Mungkin bakal tidak banyak berarti tetapi membantu saya untuk berhenti mengeluh, meluruskan benak, sehingga saya kembali fokus mengerjakan apa yang seharusnya diselesaikan.

Dengan mengingat-Nya hati menjadi tenang. Dengan mengingat-Nya hati menjadi tenang. Dengan mengingat-Nya hati menjadi tenang. Dengan mengingat-Nya hati menjadi tenang…

Tadi kamu bilang bahwa salah satu cara untuk menterapi diri adalah dengan menulis apa yang kamu rasakan, apa keputusanmu untuk menghadapi perasaan itu, serta skala pergumulan dalam benakmu? Oh ya, kamu suka menulis juga? Saya tahu, kamu memiliki akun di dunia maya untuk menuangkan imajinasi kan?

Mungkin kamu membutuhkan jurnal khusus yang bakal menguatkan kamu. Yang bakal kamu buka kapan pun itu, terutama saat episode itu kembali muncul.

Saya pun pernah mengeluh dan meminta nasihat kepada sahabat lain. Membuat saya memikirkan banyak hal, setidaknya untuk bangkit saat manusia lain tidak hadir di saat saya terjatuh.

===

 

Seorang cendekiawan yang baik budi pekertinya pernah menulis bahwa Aku menciptakanmu, wahai manusia, hanya untuk-Ku. Untuk beribadah dan menyembah-Ku. Maka jika kau menjalani perintah-Ku dan menjauhi segala larangan, masuklah ke dalam surga-Ku.

Betapa cuma-cuma Tuhan menghadirkan diriku di dunia. Di antara jiwa-jiwa lain—gumpalan ruh di alam mengawang, ditanya ingin menjadi apa di bumi kelak. Dengan bodohnya kita memilih menjadi manusia—dengan segala akal dan hawa nafsunya.

Lalu aku mencoba mengingat tentang persaksian siapa Tuhanku? Bukankah aku sudah pernah diminta persaksian itu dahulu kala? Aku memang tidak ingat. Tapi bagaimana aku bisa komplain akan abstain kehadiran Tuhan jika selama ini hidupku dihiasi tanda-tanda kekuasaan-Nya? Bukankah itu seharusnya sudah membuatku yakin bahwa ada Dzat yang lebih besar berkuasa atas segala di atas yang bumi tua dan renta?

Aku hanyalah segumpal noktah di atas kanvas seluas dunia. Jika Tuhan berkehendak agar aku bangkit menjulang kokoh, maka jadilah. Tetapi bukankah ini yang selalu ada di dalam doamu, waha diriku, agar menjadi kuat?

Betapa Tuhan Maha Romantis. Penciptaanku hanya untuk Dia—dan jika aku menjalani tujuan awal penciptaanku maka surga adalah destinasi terakhir. Itu adalah sebuah janji. Akankah janji Tuhan adalah dusta?

Jika tidak ada lagi suatu bentuk pencapaian yang bisa dikejar—atau bahkan sosok manusia untuk diperjuangkan, maka aku akan berjuang untuk suatu ketiadaan. Untuk mereka yang belum hadir dalam kehidupanku—sosok-sosok yang bakal mengisi, mencintai, dan menjadi sandaran hati.

Tulisan ini adalah untuk diriku agar menemukan jalan kembali pulang, agar tidak tersesat dari labirin pikiran yang berusaha menghimpit kuat.

Aku harus tahu bahwa dengan mengingat-Nya maka aku akan kembali. Menjadi diriku yang dahulu dan kembali mencintai.

15/10/2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s