Literature

[CERPEN]: MENGGUGAT KAUM MARS

Decorative Scales of Justice in the Courtroom
source: thesource.com

Saya benci lelaki.

Sekali lagi, saya sungguh benci pada lelaki.

Bibit itu pertama kali tertanam ketika saya masih di bangku sekolah dasar. Ayah memiliki hubungan dengan wanita lain. Tetapi ia tidak meninggalkan Bunda. Saya tidak berpikir mengapa Ayah tetap menginginkan keduanya dalam hidupnya? Bahkan ketika wanita simpanan itu melahirkan seorang anak lelaki yang bahkan diragukan statusnya sebagai anak kandung Ayah.

Wanita simpanan yang katanya menjalin tali kasih dengan banyak lelaki.

Di dalam bangunan rumah yang mendiami rongga hati, saya bertanya-tanya. Pondasi-pondasi terdahulu penyusun rasa dan emosi diri sebagai seorang wanita bertumbuh dari sana. Dari pertengkeran rutin pada akhir minggu kedua orang tua lantaran Ayah tidak pulang ke rumah.

Namun betapa Ayah memiliki hati yang begitu lembut. Ia tidak lepas tanggung jawab dari anak-anaknya. Beliau mengasihi dan mencintai, penuh dan seluruh. Adakah yang lebih tegas dala mendidik dan mengajar putera-puterinya selain Ayah? Adakah yang lebih peduli tanpa banyak bicara selain Ayah?

Beliau yang membara tatkala keluarganya tersusupi duri pihak asing. Beliau yang merangkul dan tersenyum begitu hangat seolah musim hujan yang menggigit hanyalah membasuh tanah tempat rumah kami berpijak.

Ayah, si lelaki dari Mars.

====

Saya benci lelaki. Sungguh, saya benci pada lelaki.

Suatu kali, saya berpikir bahwa segalanya baik-baik saja. Usia remaja, musim beriak dengan sengatan mentari merayapi ujung jemari. Saya yakin bahwa saya tidak akan menapaki mahligai pernikahan, saya bakal baik-baik saja.

Saya tidak memahami bagaimana segalanya dimulai. Keluwesan pertemanan yang justru mengikuti lang-langkah setan-setan kecil di depan dan belakang. Kemana malaikat di kiri dan kanan? Tidakkah mereka melihat seorang gadis yang hendak diseret masuk ke dalam jebakan yang mencekik?

Lelaki itu membawa saya pada tanah kaumnya berada. Pasir semerah kulitnya yang terbakar matahari, angin sepoi menerbangkan ujung rok musim panas yang saya kenakan. Di siang hari seolah matahari hanya berjarak seujung lengan. Namun tatkala layar temaram menggantikan siang, udara menjadi begitu menggigit. Setan-setan berbisik agar mereka yang terpapar tipisnya atmosfir saling berhimpit berbagi kehangatan.

Dia berkata bahwa malam itu saya adalah kerlip serbuk bintang yang terdampar di antara daratan berpasir tak bertuan. Bagimana mungkin saya tidak menyadari dirinya yang telah menyelami lautan untuk mencari tiram dan membawanya ke daratan?

Kini ia hendak mendobrak dan mencongkel tiram itu agar menyingkap perhiasan di dalamnya.

Saya menggenggam batuan pasir kemerahan, merasakan denyut membara sisa waktu siang. Sentuhan saya membuatnya kian membeku mengerut tajam. Tetapi tidak dengan lelaki dari Mars. Apakah ia menganggap saya sebagai perhiasan yang berhasil ia congkel dari dalam tiram yang kini teronggok menganga? Saya mampu membuat seluruh penghuni Mars remuk redam namun saya membenci pada lemahnya pilar penyangga rumah di dalam rongga dada.

Mungkinkah ia mengganggap saya sebagai objek semata?

Saat kami sama-sama suka dan dimabuk rasa maka kami akan bermanja. Reaksi kimia biru dan merah yang tiada menghasilkan residu, begitu cepat bahkan tanpa katalis apapun. Entalpinya begitu tinggi. Saya luruh, luluh, lumer, menguap, terlibas habis panasnya bara api penghuni Mars.

Namun tatkala emosi benci menguasai betapa segalanya adalah kebekuan. Dimensi terbagi menjadi hanya ruang atau hanya waktu. Aritmetika menjadil hasil ganjil. Seolah apa yang telah terjadi, apa yang terikrar, apa yang terlontar, hanyalah dusta. Tidak pernah ada, tidak eksis, tidak riil. Nulitas yang nyata hanya karena kami saling melempar bara.

Sungguh, jangan pernah katakan bahwa cinta itu pernah mampir dan benar-benar ada. Setidaknya tidak pernah bagi kami.

Mantan kekasih? Itu adalah fitnah terbesar yang diajukan bagi wanita manapun. Bukan gelar kebanggan. Bukan yang diharapkan. Sebuah tanda mata kegetiran dan rasa pahit dari gejolak terjerumusnya akal sehat dan iman.

Si lelaki yang membuat teriakan saya tenggelam sapuan angin. Kembali pada gravitasi dan dimensi Venus. Menggali pada jengkal tanahnya untuk memperkokoh rumah di dalam rongga dada agar tiada lagi kaum Mars yang mencoba menyusup dan menjadi duri di antara dagingnya.

Si lelaki dari Mars yang mengantarkan saya pada kata cukup.

Yang membuat saya ketika menoleh ke belakang hanya mampu melihat jejak benci dan kegetiran. Dosa dan penyesalan. Jika saya bisa kembali memutar waktu maka ia adalah kesalahan yang tidak akan pernah saya ulang.

Saya benci.

===

Bagimana mungkin para makhluk penuh bara hawa nafsu itu tidak bisa setia hanya dengan satu wanita? Bagimana mereka bisa datang dan pergi saja seolah lingkaran bernama ikrar dan janji yang memiliki dimensi setara dengan ruang dan waktu tidak pernah benar-benar ada?

Mata saya menyipit pada betapa mereka menginginkan kebahagiaan yang fana. Pada teriakan saling menuduh yang memang ditujukan hanya untuk saling menyengat dan menyakiti.

Bagaimana mungkin sekian banyak makhluk Mars menggantungkan umpan cerdik mereka untuk menggiring para penghuni Venus yang rapuh dan jelita ke dalam jebakan mereka yang mencekik. Tanpa menyadari bahwa tanah mereka yang gersang dan membara adalah hati mereka yang pastilah hampa. Yang kehampaan itu bakal membunuh kami.

Bagaimana mungkin mereka pernah mencoba melenggang ke dalam pengadilan cinta dan rasa dengan begitu banyak bukti lemah atas segala bentuk tindak kriminal yang tidak kami lakukan. Dan mereka kini berteriak lantang penuh pembelaan tatkala bukti otentik itu berserakan di meja pengadilan di depan hidung mereka.

Vial berisi butiran air mata kami. Mereka tak terhitung jumlahnya. Serpihan hati yang telah mengering seolah kerak perasaan yang dikeruk dengan paksa dari pemilik yang berusaha menguburnya. Pita rekaman yang menggemakan janji manis serta madu kasih mereka saat segalanya baik-baik saja.

“ Dia menipu saya. “

Saya benci. Tiada kata lagi yang lebih tepat untuk mengekspresikan rasa ini.

Tuan Hakim Matahari akan menjatuhkan vonisnya sebelum pergeseran sumbu rotasi. Mereka tidak akan selamat kali ini.

===

“ Tunggu. “

Itu bukan teriakan terburu atau lenguhan menuntut. Pintu ruang persidangan terbuka ringan, menampakkan satu sosok makhluk Mars yang melangkah pada kematiannya sendiri. Lebih dari separuh kaumnya akan dijebloskan ke dalam penjara lubang hitam, sel pengasingan yang mengerikan. Apakah dia ingin memesan satu tempat ekstra untuk dirinya di sana?

“ Wanita itu, “ Sang lelaki dari Mars mengangkat telunjuknya. Sepasang matanya yang sewarna batuan jingga terarah pada satu sosok di sudut ruang. Tiada nada menuduh di sana. Mungkin sedikit kegetiran, namun sarat dengan rasa—rasa yang manis dan kental. Seperti madu mentah.

“—Wanita itu. Dia menipu saya. “

Paduan suara terpekik menggema terpantulkan dinding-dinding dan kubah bangunan. Ruang sidang geger. Tiap orang menutup mulut yang ternganga akibat gelombang kejut yang dilancarkan kalimat barusan bak pergeseran gravitasi. Tanah tempat kami berpijak seolah hendak menelan kami bulat-bulat.

Lelaki itu—makhluk Mars pengembara galaksi yang bahkan hanya dua kali saya temui dalam hidup saya. Kini ia menuduh saya telah menipunya. Mari lihat bukti-bukti apa yang bakal ia ajukan atas tuduhan tak bermuasal barusan.

Saya sungguh benci lelaki.

Perlahan ia memasuki arena. Bibirnya seirama dengan ketukan jemarinya yang mengulur kepingan bukti abstrak yang hanya mampu disusun rapuhnya rasa logika.

“ Tatapannya sejak pertama telah mengunci ruang dimensi dalam benak dan hati saya. Segalanya tidak pernah sama. “ Namun suaranya mantap berhasil menarik perhatian para audiens. Kilau ceceran air garam di dalam vial tiada lagi menarik, rekaman otentik melengkingkan patah hati hanyalah gesekan dedaunan pada ranting pohon.

“ Betapa wajahnya adalah kerlip bintang yang menyepuh nulitas masa muda saya. Nona Rembulan akan iri padanya—jangan, jangan beritahukan itu padanya. Gelombang suaranya nyaris ilahiah—ia berbicara dalam senandung memabukkan, untaian kalimatnya tanpa cela. Makhluk apakah kau, wahai wanita Venus?”

Buku-buku jari saya telah memutih dalam usaha menahan gejolak amarah. Kini ia mencoba untuk membalik keadaan. Ini adalah pembelaan tak terencana. Ini adalah sabotase yang membahayakan gugatan kami!

Bagimana mungkin lelaki dari Mars ini mampu membuat seluruh audiens terpaku padanya, terhipnotis pada puja-puji berbumbu romansa yang pastilah imun bagi hati kami yang telah tersakiti. Mereka menjulurkan leher ingin tahu, berbisik ke kanan dan kiri. Persidangan menjadi panggung sandiwara dimana kami berdua adalah tokoh utamanya.

“ Keindahan itu dianugerahkan Tuhan dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Membuat mata siapapun menoleh padanya. Membuat mereka yang sendiri ingin menggenapkan eksistensinya. Bolehkan jemari ini terulur barang untuk menyentuh kulit yang menyangga pipi itu? Namun mengapa—”

Sungguh, ia adalah aktor lulusan sekolah drama terbaik! Permainan suaranya menyayat hati penonton. Ia begitu pilu. Detik pertama ia berusaha meraih namun ia menarik diri di tengah upayanya. Sepasang batu amber itu tak terbantahkan di dalam rongganya.

“—namun mengapa kau biarkan lelaki lain memilikimu dan membiarkan saya menunggu?”

“ Dusta! “ Balasan yang melecut membungkam aliran monolognya. Walau begitu, audiens ingin mendengar lebih jauh. Karena ini adalah romansa di tengah gugatan!

Lelaki dari Mars itu melangkah mengelilingi lingkaran tak kasat mata, hanya berjarak sekian meter dari saya yang masih membatu. Pastilah ia mencari kalimat yang tepat untuk melanjutkan sandiwara demi memenangkan hati para penonton. Tidak akan saya biarkan ia melangkah keluar dari sini dalam keadaan utuh.

“ Kelembutan yang ia memiliki sungguh membesarkan hati. Ia menyusup pada tiap dimensi—keping mimpi tiap malam hanya terisi oleh dirinya. Betapa hati saya merekah terbuka tak berdaya oleh karenanya. Namun mengapa—

—mengapa kau hanya ada di dalam mimpi saya dan bukannya sebaliknya?

“ Kemurnian yang ia miliki begitu menyejukkan. Adakah bakal saya temui yang perkataan dan perilakunya begitu rupawan seperti jelita wajahnya? Seperti oase yang melegakan dahaga para pencari pendamping jiwa.

“ Sungguh, keluguan yang ia miliki membuat saya tidak mengerti. Ia buta pada ketulusan di depan mata namun terbuka lebar pada jebakan yang membawanya pada pasir membara tanah kaum Mars. Dan kini ia menggugat kami—

Katakan apakah itu hanyalah ilusi yang kau ciptakan?

Katakan, wahai wanita Venus, apakah mendamba dirimu merupakan sebuah dosa?”

Para penonton mengarahkan pandangan pada saya yang tak berkutik di kursi saksi, pupil mata melebar, buku jari memutih, gigi yang bergemelatakan rapat. Dada ini naik-turun akibat napas yang tidak teratur.

Saya bangkit berdiri. Tatapan kami bertemu: reaksi pembakaran sempurna biru dan merah. Jika bukan ruang persidangan yang bakal lebur maka kehadiran kami hanyalah saling menghancurkan. “ Itu adalah bukti yang tidak nyata. “

Lelaki dari Mars itu mengalihkan wajahnya. Ia membawa topeng tersakiti yang sempurna ke dalam persidangan yang seharusnya menyeretnya pada pengasingan seumur hidup. Ia bersikap seolah saya baru saja menolak sebentuk hati yang ia sodorkan.

“ Jika itu adalah sebuah dosa maka mungkinkah kami menyalahi garis takdir yang menyintesis kau dan aku menjadi kita? Jika itu adalah sebuah dosa maka untuk apa tertulis hukum ribuan tahun tentang persatuan dua insan yang menggenapkan satu sama lain? “

Ini adalah gugatan. Tirai sandiawara telah ditarik turun menghalangi pandangan audiens. Namun kami sama-sama tahu bahwa segalanya tidak akan pernah sama lagi. Sejak dimana kami melangkah keluar dari ruang persidangan, kami tahu bakal ada serpih hati yang hanyut tanpa permisi. Pemahaman bahwa kami benar-benar tidak akan utuh lagi.

Namun ini adalah gugatan.  Sampai ditemukan letak kelemahan untuk saling meluluhkan.

06:09 PM

27/03/2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s