Islam, Literature

[CERPEN]: GELOMBANG QUR’AN

q_wave
credit: nottingham.ac.uk

Salman Al-Fatih Arrazy. Telah menjadi hafidzh sebelum genap berusia empat belas tahun. Ketika kecil, tiap kali ditanya ingin menjadi apa, dijawab dengan: memiliki hidup yang dijalani oleh Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam. Berpedoman dalam koridor Al-Qur’an dan Al-Hikmah, selurus-lurus anak panah dilepas dari busurnya.

Tidak pernah mengikuti pendidikan formal, ijazah yang ia miliki merupakan kejar paket kesetaraan. Menguasai bahasa Inggris tingkat profesional dan bahasa Arab dalam percakapan dan menulis. Tetap saja, tidak ada yang merasa cukup penting untuk memberitakan bahwa di usia enam belas, ia lolos seleksi nasional sebuah universitas prestisius di Singapura. Tahun berikutnya, ia pindah menuntut ilmu bidang keteknikan di Turki.

Siapakah sosok yang membentuk dirinya sedemikian rupa?

Ibu.

Dan atas kehendak Allah, maka terjadilah.

Usai menjalani perkuliahan, ia mendalami dunia kerja mulai dari ditempatkan pada situasi off-shore di Timur Tengah, menjadi konsultan, dan kini menggeluti perniagaan.

“Sebagaimana Rasulullah. Karena beliau adalah idola saya. “

Itu adalah salah satu kata-kata yang begitu sering diucapkan tiap diundang menjadi tamu pada acara seminar atau sharing session. Seperti mantra. Ditanamkan begitu kuat di benak para pemuda yang berusaha menyerap dan mencerna kalimatnya dengan seksama.

Melancarkan gelombang Qur’an, melibas habis segala bentuk selebriti dan figur lain yang tadinya begitu digandrungi

Namun, saat ini ia belum mencapai pencapaian paripurna untuk mengikuti jejak sang idola. Ya, menikah. Usia telah melewati kepala tiga, namun ia masih saja melajang.

Dan jangan lupa, pada fisiknya yang tanpa cela.

Para wanita yang paling menjaga pandangan segera tertunduk malu dan berlari dari hadapannya, sementara wanita lain yang berusaha keras masih tetap mencuri pandang pada salah satu karunia keindaha. Sementara yang lainnya, kadang, secara blak-blakan memandang tanpa berkedip, leher terpuntir.

===

Inspiring Talk: Membangun Generasi Qurani Bagi Pemuda

Menurut info yang saya terima, talkshow yang diadakan berupa sharing session standar dengan materi tertentu. Muhasabah Akbar yang diadakan masjid di kampus tercinta. Tema yang diusung sebagaimana judul, generasi Qur’ani.

Di pertengahan, pembawa acara mengabarkan bahwa pembicara utama berhalangan hadir. Itu berarti jadwal pembicara kedua dimajukan dan atau mengalami perpanjangan durasi sebelum masuk waktu istirahat.

Terdengar suara para penonton berkasak-kusuk. Khususnya bagi kaum Hawa yang mulai menggemakan tawa melengking khas yang semakin tinggi desibelnya. Riuh rendah tak terhindarkan lantaran prediksi saya barusan sepertinya bakal terjadi.

Salman Arrazy telah datang lebih awal—pembawa acara berkomentar bahwa beliau ingin pula menuntut ilmu dari pembicara utama.

Suasana malam itu mengingatkan saya tatkala seorang hafidz berparas baik dari Eropa sana berkunjung dalam rangka tur dunia, bertujuan meningkatkan ketertarikan para pemuda pada Qur’an sebagai penerang jalan hidup. Saat itu saya berkali-kali mengingatkan diri agar tidak membiarkan prasangka berenang-renang ria di benak atau mendesis menahan kesal tiap kali ada dorongan dari berbagai arah dari mereka yang berusaha melihat lebih jelas.

Salman Arrazy melakukan hal yang sama untuk menenangkan para penonton wanita—sementara di sebelah sana kaum pria begitu kalem, sekaligus sedikit heran.

Pembawa acara memberikan informasi bahwa beliau merupakan imam shalat Isya tadi. Langit-langit hingga ke ujung dan lengkung menggemakan frekuensi jerit dan pekik tertahan. Sejujurnya saya tidak memiliki ekspektasi, namun saya bisa mengatakan bahwa ada sesuatu pada bacaan beliau yang mampu menyentuh suatu titik yang membuat seseorang terhanyut—bak bilasan zat analgesik kuat bagi mereka yang masih memiliki setitik iman dan kelembutan hati.

Alkisah, segalanya dimulai ketika sang Ibu ingin mendirikan tempat belajar Qur’an bagi anak-anak sekitar. Ruang depan dan garasi rumah dirombak menjadi apa yang disebut Rumah Baca Qur’an; generasi perintis yang kian menguatkan tekad untuk mewujudkan mimpi. Bahwa tidak ada yang tidak mungkin.

Berikutnya, beliau mencoba ‘peruntungan’ dengan menyewa sebuah ruko di pinggir jalan. Waktu belajar diadakan di waktu libur kegiatan belajar-mengajar, untuk siswa/i dan mahasiswa/I, dengan kuota peserta tertentu. Alumni angkatan pertama ini memiliki prospek yang menjanjikan. Setidaknya ia bisa melakukan pemetaan terhadap minat dan ketertarikan para generasi muda terhadap Al-Qur’an dan keinginan untuk mempelajarinya. Serta menyusun silabus pengajaran yang memadai dan kompeten.

“Mengingat mereka membuat saya ingin terus melaju—dan semakin semangat bekerja. “ Pria itu tertawa. Hilang sudah topeng yang menggaungkan kesan tidak bersahabat dan berjarak dari dirinya. Sebuah senyuman menghilangkan segala prasangka kemudian merefleksikan gemuruh tawa lain dari para peserta.

Dua tahun kemudian, Asrama Qur’an didirikan di kawasan rumahan tidak jauh dari universitas. Saat itu hanya tersedia untuk laki-laki. Alhamdulillah, mereka tidak pernah kekurangan tenaga pengajar; selalu ada saja mereka yang mendaftarkan diri sebagai relawan. Dalam jangka waktu setahun, disusul pembangunan asrama untuk wanita. Ustadz, ustadzah, hafidzh, hafidzah, mengantre ingin menjadi pengajar, menambah amalan, turut andil dalam menularkan gelombang Qur’an.

Begitu pula dengan animo peserta yang ingin menjadi santri disana. Mengingat publikasi yang dilakukan hanya melalui sosial media dan dari mulut ke mulut, ini adalah gelombang Qur’an yang cepat atau lambat pasti akan terjadi.

Sungguh itu adalah momen yang membuka mata. Pada awalnya, ia sempat ragu untuk melangkah. Benih keraguan itu, yang jika ia turuti, mungkin bakal mengambil bagian dari periode degradasi yang tak dapat dipungkiri tengah melanda negeri.

“Dan bagi mereka yang telah menemukan cahaya yang dibawa Qur’an, yang diberikan penerangan dari sebuah jalan yang gelap menuju terang yang nyata, telah menemukan keindahan di dalamnya. Dan bagi mereka yang masih berusaha mencari, dapat menikmati tiap momen menuju sebuah ultimasi—perjuangan yang manis, suka dan duka, yang membuat semakin cinta.

Terkadang kita abstain dari semangat untuk mempelajarinya lantaran lupa bahwa buku ini, yang insyaa Allah dimiliki tiap peserta disini, adalah satu-satunya penghubung kita dengan suatu Dzat dimana jiwa kita berada dalam genggaman-Nya. “

===

Sesi tanya-jawab adalah yang paling lepas kontrol. Hampir seluruh peserta wanita ingin mengajukan pertanyaan—merangsek maju hingga melewati pembatas yang dipasang oleh panitia.

Tiap sesi dipersilahkan dua orang penanya masing-masing dari sisi lelaki dan wanita dengan jumlah maksimal dua pertanyaan.

Ada saja yang menyia-nyiakan jatah dengan yang tidak berhubungan dengan materi—hampir menyentuh ranah personal. Kemudian ada yang bertanya mengenai jalan apa yang akan diambil andai tidak mendirikan Asrama Qur’an; berikutnya, setelah ini, rencana apa yang dimiliki ke depannya selain mengembangkan asrama; dsb.

“Sejauh ini saya memiliki niatan untuk melanjutkan studi ke jenjang magister. Profesor di kampus saya dulu menawarkan sebuah beasiswa di bidang keteknikan juga. “

Jawaban pria itu entah mengapa menggelitik sesuatu dalam diri. Sebenarnya saya memiliki pertanyaan yang sama penting namun saya mengurungkannya.

Saya baru mendapat giliran pada sesi ketiga. Syukurlah saya berada di deretan kedua dari baris terdepan sehingga moderator bisa menangkap kode—lambaian tidak sabar dan tereksitasi.

Saat giliran tiba, saya memperkenalkan diri sesuai format yang diberikan. Sebelum saya mengajukan pertanyaan, beliau menginterupsi—

“Saya ingat kamu. “ Lalu tiba-tiba hening. “Sumayyah Hadid Karimah, angkatan pertama Asrama Qur’an Puteri. Lulus sebagai santri terbaik. Apa kabar? Sudah menjadi hafizhah, kah?”

Aliran darah mengalir deras ke seluruh wajah saya yang memanas lantaran ratusan pasang mata para wanita seolah menembus tiap jengkal bagian tubuh, seperti tusukan jarum yang menusuk dan menukil. Saya selalu bersyukur akan adanya hijab pembatas dengan sisi pria disana. Bisa jadi seluruh peserta di lantai satu hingga teratas menjulurkan leher penasaran.

Yang paling menohok adalah pada fakta bahwa ada rasa malu tatkala mendengar pertanyaan beliau. Cita-cita itu masih berada di alam kandungan—dengan upaya yang tiap harinya dikerahkan. Jangankan untuk melangkah, kadang untuk bertahan seolah menghisap seluruh daya.

Saya menggeleng nyaris tak kentara.

Bertekad untuk menyelesaikan giliran, saya segera melanjutkan, “Anda berkata bahwa berniat melakukan studi lanjutan bergelar S2. Yang saya ingin tahu, apakah alasan untuk melakukannya? Jika tidak perlu, saya tidak melihat mengapa Anda harus melakukannya—“

“Maaf—afwan, saya tidak paham maksud anti. “

“Saya hanya ingin tahu alasan Anda ingin melanjutkan studi S2. Jika itu tidak berkontribusi apapun untuk membangun negeri, demi terwujudnya Generasi Qur’ani, untuk apa dilakukan? Tidak diragukan lagi bahwa Indonesia membutuhkan para insinyur kreatif dan cerdas, saya yakin pula Anda adalah salah satunya. Tetapi apakah Anda pun telah melakukan pemetaan mengenai apa yang tengah dibutuhkan negara kita, untuk menjadi bangsa yang besar? Apakah gelar Anda nanti bakal memberikan sesuatu bagi kami kelak?

Tentu saja, selain kenaikan pangkat pekerjaan yang berefek pada pertambahan gaji.

Karena, percaya atau tidak, banyak dari kami yang bersedia berdonasi untuk keberlangsungan dan kemaslahatan Asrama Qur’an. Dan sejujurnya, Ibu Pertiwi membutuhkan Anda untuk memulihkan diri. “

Moderator mencatat sesuatu pada tablet di tangan, “Satu saja?”

Saya mengangguk, menambahkan, “Maaf, tidak bermaksud mengundang perdebatan. Terima kasih. “ Suara saya agak gemetar, serangan gugup tiap kali berbicara di tempat ramai. Apalagi setelah atensi yang diberikan audiens di pembukaan barusan.

Salman Arrazy mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, memastikan terjadi kontak mata satu per satu secara pantas. Sesekali melirik pada sisi wanita yang begitu antusias acap kali beliau hendak bicara. Terjadi keheningan yang membungkus selama beberapa detik—berpikir sebelum bicara. Menimbang tiap juntai kata dengan seksama.

“Sebelumnya saya berterima kasih pada Saudari Sumayyah—tsumma jazakillah, yang telah mengingatkan esensi dari kegiatan belajar. Dalam hal ini terkait dengan membangun kondisi bangsa.

Sejujurnya, poin tersebut, memang luput dari pikiran. Tidak ada yang salah pada keinginan untuk melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi, termasuk ke luar negeri yang memang memiliki ilmu lebih mumpuni di bidang tertentu. Di sisi lain, bidang keteknikan adalah minat terbesar saya setelah mempelajari dan mendalami Al-Qur’an. Dan, ya, saya belum memikirkan masak-masak mengenai kontribusi apa yang bakal diberikan oleh gelar yang bakal diraih nanti—terlepas dari naik pangkat dan bertambah gaji. “ Pria itu terkekeh sesaat, seakan saya sengaja membuat lelucon. Yang melegakan, tidak tercipta ketegangan apapun.

“Saya akan memasukkan saran Anda ke dalam to-do list saya. “

Rupanya ia belum selesai. Beliau memanggil kembali moderator yang hendak bangkit membuka sesi selanjutnya.

“Terkait dengan pemetaan kebutuhan bangsa, yang bisa saya katakan adalah saat ini yang dibutuhkan adalah menjadi dekat dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sebagaimana yang ada di darah dan nadi para pejuang dan syuhada di tanah Syam namun tidak dimiliki oleh kita.

Jika mereka memiliki iman, biarlah ia berkembang menjadi sebentuk cinta, takut, dan harap. Ia akan menjadi mesin penggerak, kekuatan pendorong yang luar biasa. Menjadikan Qur’an dan Sunnah sebagai landasan dalam mengambil keputusan dan menjalani hidup, tonik di kala kita lupa dan terjatuh, lembaran surat cinta pribadi yang akan selalu tersimpan di hati. Agar menjadi faham akal, teduh dan lembut qolbu, terangkai dan terarah tindak tanduk berperilaku.

Sesungguhnya saya berang-angan akan utopia tiap kali teringat generasi yang mampu kita bangun. Dan yang Ibu Pertiwi butuhkan untuk memulihkan diri adalah kamu—kalian, para pemuda. ”

Semangatnya begitu menular. Tanpa orasi meluap-luap, kalimat emosional, gestur berapi-api. Salman Arrazy pasti lah bukan seorang orator sejati. Kelembutan suaranya bak permukaan danau yang tenang meskipun ia menggelegak menyimpan segalanya di dasar terdalam, ia adalah mata bor yang secara efektif melubangi bagian tertentu benak dan nurani kami—sistem sensorik, afektif, kognitif, apapun. Meninggalkan jejak permanen, sebentuk mimpi, ajakan untuk menyamakn frekuensi, memantaskan diri.

“Omong-omong, sudahkah Rasulullah menjadi idolamu?”

Ini barulah gelombang pertama. The Qur’an Wave.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s