Literature

[CERPEN]: MONOLOG IBU PERTIWI

monolog
credit: bilgifili.com

Batavia, 28 Oktober 1928

Telah lahir putera-puteri tercinta kami, para pemuda-pemudi yang menguapkan kalimat mungil berupa untaian janji.

Bertumpah darah yang satu dari dalam nadi, berbangsa yang satu di tanah dipijak dan langit dijunjung, menjunjung satu bahasa persatuan yang menjadi segel pengikat antara aku, seorang Ibu, dan mereka para pemuda-pemudi.

Telah bangkit putera-puteri terinta kami, para pemuda-pemudi, kaum intelektual, agen perubahan, memiliki tenaga bak kuda pacu, yang semangatnya kian menggebu.

Untuk meraih tanganku, sang Ibu yang turut berjuang mengajarinya berdiri dan berjalan di atas tungkai kaki sendiri melangkahi permukaan bumi.

Soerabaja, 10 November 1945.

Hari ini aku kembali menangis tersedu. Pilu. Sekeping hatiku meluruh mati, entah kemana ia pergi. Mungkin ia berlalu bersama jiwa-jiwa yang melayang dari selongsong berdarah melepuh. Kamu tidak akan pernah tahu! Ribuan jiwa itu bak pelita yang mengetuk pintu langit, menjadi saksi akan perjuangan, membentuk demonstrasi pada kekuatan ilahiah demi kebebasan negeri.

Kamu tidak akan pernah tahu! Kamu bukan seorang ibu yang beribu putera-puteri direnggut dari buaian dada ini! Lahir dan berjalan, menyisir hutan dan sawah untuk mencari makan, menghunus pedang dan bambu demi kemerdekaan.

Lalu sebutir peluru menembus daging, menghentikan detak jantung, memotong jalur udara yang kembang-kempis. Dan mereka meninggalkanku, sekali lagi, untuk berdiam bergeming—jeritan yang memudar, darah yang surut. Sekali lagi, aku hanyalah seorang ibu yang anaknya kembali direnggut.

Tikus-tikus! Para tikus yang terus menggerayangi tubuhku. Menggigit dan mencabik lantaran ia tidak menemukan lagi tempat untuk mengais segumpal pangan untuk mengisi perut. Bahkan bagi mereka yang sudah lebih daripada cukup!

Timor Leste, 1999

Oh, Timor! Anakku, puteraku!

Hari itu, kembali aku menangis tersedu. Jeri, pilu. Satu bagian hatiku kembali meluruh mati, entah kemana ia pergi.

Sekalipun, kini, telah kudengar bahwa gemah ripah loh jinawi menjadi milikmu, apalah dayaku yang terus merindu?

Sekalipun meronta dan berseru, disana ada rakyat yang menciptakan disintegrasi dalam benak dan tubuh. Antara seorang putera dan ibu.

Djakarta, 17 Agoestoes 1945

Tautkan jemarimu padaku, wahai putera-puteri tercinta!

Ada kasih dan rasa, darah di dalam nadi, jantung yang tetap berpacu, tungkai-tungkai kaki melangkahi permukaan bumi. Kali ini, adakah janji itu menjadi abadi?

Karena aku hanyalah seorang ibu yang seiring bergulirnya pasir waktu kau pilih untuk lupakan, ternomor sekiankan, yang tersingkarkan dari pandangan. Darah jantung nadi di dalam darah jantung nadi para putera-puteri, kasih dan rasa yang tercurah, remah gegap-gempita yang dahulu kita nyanyikan bersama di teras Pulau Jawa di bawah naungan langit lazuardi.

Kali ini, adakah janji itu menjadi abadi?

Aku hanyalah seorang ibu pertiwi yang tidak mampu meminta lebih pada putera-puterinya sendiri. Siapa yang telah merenggut buaian rindu dari dadaku?

Aku hanya meminta, kembalikan putera-puteriku!

Karena pada hari ini, puluhan tahun lalu, jemari kami bertaut mesra, ada kasih dan rasa, darah di dalam nadi, jantung yang terus berpacu, tungkai-tungkai kaki menjadi perisai para kompeni.

Katakan pada mereka, bagi Ibu, itu bukan sekadar memori.

Letakkan ponsel itu dan tatap aku tepat di bola mata! Lupakan, lupakan deposito, angsuran, hutang piutang! Jangan kau pikirkan tumpukan pekerjaan yang menunggu di atas meja. Abaikan pada fakta bahwa kau adalah budak korporat!

Tatap aku tepat di bola mata dan katakan—

Katakan bahwa kau cinta.

Aku adalah sang ibu pertiwi! Yang kau pilih untuk lupakan, yang ternomor sekiankan, yang kau singkirkan dari pandangan, yang kau lecehkan, yang kau hinakan—

Tanah ini, tempat kau berpijak. Lautan ini, yang menjadi sumber nafkah, yang menjadi tameng dari pengganggu, yang merangkul dan menghubungkan bahu ke bahu antara saudara di kanan-kiri dan kau. Gunung-gunung yang kau taklukkan, jelajahi, jamahi, sekaligus kotori. Sungai-sungai yang kau arungi, jelajahi, jamahi, dan kotori. Goa-goa yang tidak pernah menjanjikan selain misteri. Tebing dan batu yang engkau singgahi, jamahi, dan kotori. Ribuan pulau yang bahkan tidak pernah kau ketahui.

Mereka yang kau tulis di dunia maya agar seluruh pelosok dunia mengetahui—bahwa kau adalah penjelajah sejati. Untuk mensyukuri nikmat dan kebesaran ilahi. Yang keindahannya kau puji setinggi kuil dewa-dewi. Cukup, cukupkan segala topeng itu—

Mereka adalah bagian dariku! Aku, sang ibu pertiwi! Yang kau pilih untuk lupakan, yang ternomor sekiankan, yang kau singkirkan dari pandangan, yang kau lecehkan, yang kau hinakan—

Katakan padaku, wahai pemuda pemudi, putera dan puteri! Masih adakah hak dirimu akan aku, sang ibu pertiwi, jika kau bukanlah bagian dari negeri ini? Masih kah hak dirimu atas aku, sang ibu pertiwi, jika kau perlahan melepaskan diri akan identitas negeri ini? Mungkinkah kamu memiliki hak atas aku, sang ibu pertiwi, ketika dirimu telah tergadai di atas meja judi?

Aku adalah sang ibu pertiwi, dimana lara dan jeri menjadi tinta pelukis pakaian, perjuangan dan cinta menyulam tiap jahitan. Jantung ini  berdegup dari lengkingan cemeti dan derap kaki, darahku serupa biru yang mengharu tiap kali anakku tersakiti. Disinilah kamu berdiri dan bersatu padu di kala dahulu! Kau tumpahkan darah dan air mata untuk membangkitkan aku di kala dahulu!

Tidak bisakah kau, sekali ini saja, kembali pada titik itu, di kala dahulu?

Kini, tatkala negeri lain datang beserta tentakel-tentakel rakus mereka—mencekik, memberangus, menggigit, menghisap daya dan upaya aku, sang ibu pertiwi. Kau bakal kembali pada layar ponsel, mengurusi deposito, angsuran, dan hutang piutang. Menutup mata akan perkara.

Budak korporat, siswa teladan, orangtua yang kesepian, anak-anak yang rindu kasih sayang, pemuda-pemudi yang di mabuk kepayang, orang dewasa yang masih terus meraba dalam bayang-bayang—pecahkan sistem itu, leburkan ponsel di tanganmu, hapus dunia maya dan kembali padaku.

Tidak bisakah kau, sekali lagi, kembali pada titik itu, di kala dahulu?

Aku tidak ingin menjemput maut terlalu dini. Aku tidak ingin melebur dan memudar. Aku mengharap sebuah leadakan dan sinar terang, mengiringi kepergianku—sebagai sebuah kemenangan, sebuah kisah, teladan, hingar-bingar—

Itu yang kau janjikan padaku seratus tahun yang lalu. Adakah janji itu menjadi dusta?

Bahwa sebuah negeri pun mampu untuk sekarat dan mati. Jika rakyat memang tidak menginginkannya tetap ada lagi.

Finished: 23/05/2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s