Literature

[JURNAL TENTANG KEKUATAN]: BICARA

howtospeakwellandlistenbetter
credit: success.com

Saya tidak tahu harus memulai darimana karena rasanya dalam hidup saya segalanya tersusun dalam fragmen acak tanpa susunan pasti.

Saya pun ingin bicara namun tak kuasa membuka mulut. Telah mencoba menghampiri seseorang untuk mengeluarkan apa yang menyumbat batang pernapasan dan rongga dada. Lagi, saya tak sanggup. Saya terlalu takut karena jika saya bicara maka bakal keluar segala keluhan bahkan mungkin kemarahan yang tidak semestinya.

Karena suatu kali sempat terlintas dalam benak untuk menggugat Tuhan.

Seorang teman berkata pada saya, ” Jangan cela Allah lagi. ” Ya, saya masih berusaha.

Saya ingin bertemu dengan seorang psikolog tapi terlalu takut untuk bicara. Saya teringat Nabi Ya’kub ‘alaihissalam yang kehilangan putera kesayangannya yaitu Nabi Yusuf ‘alahissalam serta Bunyamin dimana ia amat bersedih dan bermuram durja, seringnya menangis. Kemudian ia berkata yang termaktub di dalam Qur’an bahwa ia hanya mengadu dan bersedih pada Allah. Sungguh saya ingin menjadi manusia seperti itu.

Di saat-saat normal saya berdoa agar dikuatkan dalam menjalani kehidupan yang diberikan Allah. Teringat agar jangan meminta dimudahkan tetapi agar lebih kuat dan lebih sabar serta lebih bersyukur. Namun itu pula yang membuat saya bertanya-tanya, begini kah cara Allah membuat saya lebih kuat?

Sesungguhnya saya tidak yakin apakah memiliki hal lain di dunia, baik ia manusia atau pun bentuk materi, untuk saya kejar dan pertahankan. Setiap manusia membutuhkan alasan untuk bertahan, kan? Bagaimana jika ia tidak memiliki itu semua?

Saya benar-benar sendirian.

Tidak mampu untuk berbicara dengan kawan lain. Tidak mampu membuka mulut pada keluarga mana pun. Perlahan-lahan tiap rinci aspek kehidupan bergeser dari tempat mereka menjadi tidak keruan. Lalu bagaimana saya harus menatanya kembali seakan semuanya baik-baik saja? Meskipun sejak awal memang tidak baik-baik saja.

Semalam saat saya bicara tanyan saya bergetar hebat, jantung saya berlari marathon di dalam rongganya. Yang amat sangat jarang saya rasakan. Dua kali mengalami gangguan pencernaan tanpa alasan jelas dengan mengonsumsi jenis obat berbeda. Makan semakin tidak teratur. Rambut rontok dalam jumlah besar-besaran. Oversleep.

Suatu kali setelah emotional breakdown yang belum pernah saya alami seumur hidup, saya amat takut untuk tertidur. Saya sempat berprasangka buruk pada Allah. Tidak ada satu pun aya Qur’an yang saya pelajari, ilmu yang pernah say abaca, kalimat-kalimat yang sering terucap menjadi hal yang poten untuk mencegah saya dari perbuatan tersebut. Saya takut jika saya tidak pernah terbangun lagi; dan dalam keadan berprasangka buruk pada Allah.

Saya kesulitan mengerjakan tugas kuliah karena merasa tidak bersemangat, merasa percuma, tidak maksimal. Saya kesulitan melanjutkan seminar-skripsi karena saya sendirian dalam mengerjakan tema tersebut, tidak ada kawan yang membantu, terlebih di kondisi saya sekarang. Kehidupan social saya semakin terganggu; saya seorang introvert, semakin sulit untuk keluar ruangan sekadar bercampur dengan manusia lain. Jika bercampur kadang emosi tidak terkontrol (marah, bete, sedih), syukurlah masih terkendali karena saya memilih tidak banyak bicara sekalipun bertemu orang-orang.

Saya tidak ingin pulang ke rumah dengan kondisi saya seperti ini, tidak ingin orang tua tahu atau bahkan menjadi sasaran gangguan dalam diri saya.

Seorang teman yang di-diagnosis menderita Anxiety Disorder diberitahukan oleh psikiaternya bahwa dengan menuliskan apa yang ia rasakan dan tak mampu diungkapkan bisa menjadi sebuah self-therapy. Jika saat ini saya belum bisa bicara maka ini adalah salah satu bentuk saya mencoba bertahan.

Sebelumnya ini bukanlah episode baru namun berupa akumulasi dari alam bawah sadar saya yang telah sekian lama terbebani. Sejak beberapa bulan lalu stress yang bertambah kian membuat pertahanan itu runtuh. Dari hasil pencarian internet katanya kondisi ini disebut major depressive disorder. Saya tidak tahu, tetapi terkadang selalu ada episode-episode dimana saya merasakan tekanan berlebihan sebelumnya. Namun berhasil lewat.

Seperti siklus ia terulang lagi. Hingga yang sekarang. Namun usaha untuk bangkit berkali lipat lebih lagi lantaran saya tidak mampu bicara. Sampai saat ini saya mencoba bertahan untuk tidak mengeluarkan segalanya pada siapapun termasuk psikolog karena percaya semuanya bakal lewat. Ada Allah yang bakal menolong saya.

Sayangnya, ada tenggat waktu yang harus dikejar seperti tugas-tugas, seminar-skripsi, dan tanggungan lainnya. Yang tidak peduli kondisi psikis atau pun fisis yang bersangkutan. Ada kelompok halaqah yang harus saya bina dan tidak ingin terhambat perkembangannya.

Rasanya saya ingin cuti kuliah saja, istirahat dari segala tekanan. Fokus mendalami Qur’an dan ilmu agama sebagai bekal menghadapi kehidupan ke depannya. Tetapi siapa yang tahu bahwa dengan melewati ini semua saya bakal menjadi manusia lebih baik.

Tidak tahu. Apakah saya terseok, merangkak, atau bahkan lumpuh di tempat. Ingin meminta tolong pada manusia namun apa yang mampu mereka upayakan. Mereka hanya manusia, seperti saya yang juga penuh problematika. Sekalipun bisa jadi mereka lebih berilmu dan telah menghadapi banyak asam garam kehidupan.

Sekali lagi, saya masih terlalu takut bicara. Saya takut terlalu banyak keluhan dan cacian terhadap Allah.

Tubuh saya gemetar tiap kali pikiran-pikiran itu muncul, aliran deras prasangka buruk dan usaha untuk meredakannya. Seolah-olah dada saya sesak. Napas saya tertahan.

Mulai hari ini, tengoklah teman dan sahabat-sahabat di kanan dan kiri. Raih tangan mereka, rangkul bahu mereka. Tanyakanlah apakah mereka baik-baik saja. Apakah mereka sehat wal afiat.

Karena kita tidak pernah tahu apakah sebenarnya mereka sangat membutuhkan bantuan tetapi tak mampu berkata-kata. Sangat butuh untuk bicara dengan seseorang namun tidak kuasa memulai.

Dengan mendengar satu sama lain setidaknya kita akan tahu bahwa masalah yang kita alami bisa jadi tidak seberapa dibandingkan mereka. Jangan biarkan mereka berjuang sendiri, ada hak mereka yang harus dipenuhi.

Salam perjuangan dari seseorang yang masih berusaha bangkit

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s