personal, Islam

[MY HIJAB STORY]: 365 DAYS

070716_0537_myhijabstor1
Lokasi: Jawa Barat

Assalamu’alaykum,

Akhirnya saya bisa menyempilkan waktu untuk mengisi laman blog, di liburan yang singkat ini. By the way, Taqaballahu minna wa minkum shiyamana wa shiyamakum, Eid Mubarak 1 Syawal 1437. Semoga Allah mengampuni dosa kita yang telah lampau dan kita mampu meraih kemenangan yang sebenarnya. Allahumma aamiin.

Sedikit intro: mengapa saya bersemangat untuk menulis posting berjudul demikian, well karena seorang teman saya bernama Fathiya mengucapkan selamat atas berhijabnya saya ke yang 365 hari. Not exactly tapi saya mengenakan hijab pertama kali kurang lebih di pertengahan menjelang akhir bulan Ramadhan tahun lalu. Now when I think about it is not only how fast time’s past, that many things have changed, for good.

070716_0537_myhijabstor2
Capture chat dengan Fathiya. Tolong abaikan yang ngomongin soal ikhwan (lelaki).

I’m just gonna make it as simple as possible. The way it goes, I’m just gonna be honest here, as the way it was. Cerita ini adalah tentang hijrah, pastinya bakal cukup panjang. Yang sama sekali tidak mudah. Percaya atau tidak, hijrah memang mengandung kegelisahan, gejolak hati dan jiwa, pergumulan tiada akhir, and believe it or not, it also contains (buckets of) tears. Kidding, not buckets though.

Dia-lah yang memberi rahmat kepadamu dan para malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), agar Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. ” – (QS. 33:43).

Bismillahirrahmanirrahim: How it Began.

Apa yang saya ketahui tentang berhijab? Bahwa perempuan ada yang berhijab ada yang tidak. Kemudian itu semua berkembang menjadi jalinan sekadar tahu: perempuan harus berhijab. Tidak tahu mengapa. Lantas kalau saya tidak ingin, tidak apa-apa kan? Well, wrong way of thinking. Saya baru-baru ini mengadopsi logika baru: jika ada perempuan muslim berkerudung dan ada yang tidak, pasti ada aturan pasti bagaimana mereka harus membawa diri, bukan? Pasti, pasti selalu ada kepastian di dalam kehidupan ini. Termasuk soal berhijab bagi perempuan.

Sejak semester awal kuliah saya sudah berpikir untuk mengenakan hijab meski bukan prioritas, mungkin nanti saat saya sudah menikah, mungkin nanti jika saya siap. Alasan klasik: saya ingin memperbaiki diri terlebih dahulu baru mengenakannya. Well, to be honest, tidak semua perempuan berhijab memiliki akhlak dan perilaku yang baik atau menyenangkan. Apa bedanya mereka dengan saya? Keinginan tersebut kembali tergerus kesibukan akademis, kehidupan kuliah, dan tetek bengek lainnya.

Semester demi semester berjalan dengan atau tidak semestinya. Dengan segala tekanannya, suka dukanya, sulit dan mudahnya. Tapi pernahkah kamu merasakan gelisah yang selalu hinggap? Seakan kamu sulit merasa tenang, kadang bahkan ketika kamu ingin pergi tidur. Mungkinkah saya hidup dengan merangkai begitu banyak alasan untuk menenangkan jiwa yang telah gelisah dan hati yang sudah tak tentram? Everytime I tried to take a look at my heart, trying to be earnest and true. Kamu dan saya tahu bahwa selalu ada kejujuran jika kita menengok ke dalam hati.

Sebelumnya saya sudah (mulai) berteman baik dengan Fathiya, by the way dia adalah teman seangkatan dan sejurusan dengan saya, mungkin Allah berkendak demikian karena di kisaran semester empat dan lima kami mengambil mata kuliah yang hampir semuanya sekelas. Fathiya memang berusaha untuk dekat dengan cewek di angkatan karena kami memang minoritas di jurusan kami, Teknik Mesin; saat itu saya berpikir mungkin itu karena dia mantan Kepala Keputrian (Kaput) dari bidang MIC (Mechanical Islamic Community). Selebihnya saya melihat dia seringnya sendirian, atau bersama kawan-kawan cewek jurusan kapal. Saya pikir lagi, mungkin karena Fathiya terlihat berbeda ya: hijab syar’I panjang, rok panjang, pakaian longgar. Yang penampilannya seperti dia hanya beberapa di kalangan cewek mesin, yang mirip dan seangkatan itu pun cewek jurusan perkapalan. Bagi saya, Fathiya seperti anomali. Alien di planet teknik mesin.

Tapi, sadar atau tidak, hati kamu akan tertarik pada orang-orang yang mencerminkan pula hatimu. Mungkin itu pula mengapa saya merasa semakin nyaman untuk mengobrol dengan Fathiya. We shared things. I told her about my family, my parents, and some secrets too. Things I’ve never told anyone in my campus.

Sekarang saya sedang berpikir dimana dan kapan semua itu berasal. Entahlah, saya tidak ingat, memori saya jelek. Mungkin itu ketika saya putus dengan seseorang dengan cara kurang baik yang membuat saya berpikir kian kritis akan banyak hal: lelaki, apa yang saya mau, apa yang orang mau. Bisa jadi itu adalah titik balik dimana saya melihat hal dengan perspektif yang berbeda, rantai pemikiran yang berbeda. Bukan karena seseorang itu penting, tapi pelajaran apa yang bisa kamu dapat setelah semuanya selesai.

Akhirnya, di suatu hari di bulan Ramadhan tahun 2015, kebetulan saya dan Fathiya sedang tidak puasa. Kami makan di kosan saya, mengobrol dari siang sampai sore. Apa yang dibicarakan? Mostly, tentang rasa penasaran saya atas agama yang ‘terpaksa’ saya anut sejak lahir, pertanyaan-pertanyaan yang terpendam yang tidak pernah dikatakan. Sampai saya mengutarakan, hampir berseloroh, keinginan saya untuk mengenakan hijab. Bapak telah wafat tahun 2012 lalu, apa yang bisa saya berikan pada beliau sebagai seorang anak? Yang saya tahu adalah doa anak yang shalih/at. Apakah saya seorang anak yang shalih?

Ada yang bilang, di bulan Ramadhan, hati para manusia akan melunak, menjadi lembut, semakin mudah menerima hal-hal baik dan hidayah dari-Nya. Terus terang, saya tidak ingat bagaimana rasanya mendapat hidayah, ia terjadi begitu saja. Fathiya memberikan bingkisan berisi dua lembar khimar dan sepotong rok. Saya berpikir untuk menundanya sebentar karena kegiatan pecinta alam yang saya ikuti, divisi Gunung Hutan, Kamuka Parwata FTUI (KAPA FTUI) akan melakukan Musim Pengembaraan ke Gunung Argopuro. Saya belum pernah mendaki gunung mengenakan hijab! Yang terbayang adalah bakal panas, gerah, tidak nyaman, dan ribet.

Tapi ini ada satu kejadian yang mem-push saya untuk segera mengenakannya. Well, saya sadar diri bahwa saya bukan jenis perempuan ramping tinggi semampai, kulit putih bersih, dan wajah cantik. Sama sekali jauh. Tapi bukan berarti saya tidak sadar bahwa lelaki tetap memandang-mandang ketika saya di jalanan, entah, mungkin insting primitif mereka yang segera nengok jika ada makhluk perempuan yang melintas. Which explained why selama satu semester sebelum berhijab saya gemar mengenakan jaket di atas kaus yang saya kenakan, dan berusaha mengenakan pakian selonggar mungkin. That did not work, for your information.

Suatu kali, saya dan beberapa teman akan melakukan jogging sore bagian dari latihan fisik sebelum Musim Pengembaraan. Kami berganti pakaian di dalam ruang sekretariat KAPA. Standar, celana basket selutut dan kaos longgar. But the moment, I came out of the door, someone happened to be outside, his eyes accidentally directed at me. We were not close so I could not jokingly tell him to shoo away. He was staring. Like you know, that kind of staring. Come on, that happened too many times that you must’ve realized that: those eyes scanning all over you. Those uncomfortable feelings. I immediately left the scene.

All I can remember, I wore my hijab to campus. When I’m outside. And after that, and the next. That’s it.

070716_0537_myhijabstor3

What are the Next Challenges?

070716_0537_myhijabstor4
Gunung Lawu, 2016

Para perempuan yang baru berhijab pasti tidak lepas dari pertanyaan standar semacam: Kenapa tiba-tiba, Ma? Kenapa pakai jilbab, Ma? Apa sih yang bikin lo pake jilbab? Itu pake jilbab gara-gara putus sama mantan ya? Kok langsung panjang sih jilbabnya?

All I did was giving my best laughter at them. And my best answers.

Pertanyaannya salah, seharusnya: kenapa saya baru berhijab sekarang?

Saya belajar bahwa perintah berhijab langsung datang dari Tuhan. Ia termaktub di dalam Al-Quran, karena saya seorang muslim maka itu adalh satu-satunya petunjuk hidup. Untuk kemudian pula As-Sunnah. Silahkan di-cek bagi yang belum yakin: QS. Al-Ahzab 33:59, QS. An-Nur 24: 31, HR. Abu Daud Hadits No. 3580, HR. Muslim Hadits No. 3971. Kita tahu bahwa kita adalah muslim, kita diberikan akal dan pikiran untuk belajar. Menolak untuk mencari tahu tidak bakal membuat hidup menjadi lebih tenang, I’ve known that from experience. Dan yang saya tahu, ada Dzat lebih besar yang menciptakan saya, dimana nyawa saya di dalam genggaman-Nya. Itu adalah perintah-Nya, siapa saya untuk berani menentang perintah tersebut? Sebelumnya saya memang tidak pernah tahu alasan pasti perempuan harus berhijab. Namun ternyata telah tertuang jelas cara main untuk hidup di Bumi Allah.

Kalau kita nunggu sampai kita siap, kita nggak akan pernah siap, Ma. Semua disini sama-sama belajar, aku juga masih belajar. Kalau semua perempuan nunggu sampai siap, nggak akan ada perempuan yang pakai jilbab. Semuanya masih sama-sama belajar dalam ibadahnya, dan harus terus memperbaiki diri setiap harinya. ”

Itu adalah kata Fathiya ketika saya bilang bahwa saya mungkin belum siap. Apa jadinya jika berhijab tapi masih tidak jelas kelakuannya?

Yang saya rasakan adalah hijab tersebut membuat rasa malu bertambah, Rasulullah pernah berkata bahwa salah satu cabang iman adalah malu. Malu jika berkata kotor, malu jika berbuat tidak sopan, malu jika tidak mampu menjaga diri dari pandangan yang tidak seharusnya memandang. It takes time but I can feel them in my bones.

Rasa gelisah tersebut tidak benar-benar hilang. Tapi saya menjadi tertarik untuk bergaul dengan mereka yang berusaha memperbaiki akhlak dan amalnya. Berlomba-lomba memperbaiki dan menambah bacaan Quran, saling mengingatkan untuk memperbaiki ibadah wajib, saling mengingatkan untuk menambal dengan ibadah sunnah. Ini di luar logika, tapi cinta pada Tuhan kian bertambah dengan ibadah yang juga ditambah.

Saya belum pernah bertemu Allah atau pun Rasul-Nya. Tapi Allah selalu hadir disana saat kalian, teman-teman lain, tidak berada di dekat saya ketika saya butuh dan terjatuh. Dan siapa yang mampu membolak-balik hati saya yang keras agar mau mengenakan hijab dan belajar tentang Islam, pasti bukan dari manusia. Manusia hanya mampu memberi inspirasi. Dan pasti bukan pula manusia yang mampu membuat saya bertahan untuk tetap berada di jalan-Nya, ketika keimanan itu turun dan saya tidak memberitahu siapapun. Dan pasti bukan manusia yang memberikan kemudahan di kala saya susah dan gelisah. Bukan, saya bukan jenis orang yang sering berdoa berbusa-busa, saya meminta apa yang paling saya inginkan, mulut saya tidak banyak bergerak, namun gejolak di hati, suara-suara yang beradu argumen di benak, protes dan amarah yang saya rasakan, kurangnya syukur, cacatnya amalan. Semua yang tak terlihat, Dia pasti tahu. Orang-orang mungkin melihat apa yang mereka lihat pada diri saya ketika sebelum dan setelah saya berhijrah, mungkin itu pula yang saya pikirkan tentang diri saya.

Namun, jika hingga hari ini, saya masih mampu bertahan, itu pasti karena kuasa Dzat yang lebih besar daripada manusia. Allah seolah tahu diri saya lebih dari kalian dan saya sendiri, itu karena Dia memang tahu. Ibadah dan amalan saya jauh dari sempurna, namun ketika saya pikirkan lagi mengenai karunia dan rahmat yang Dia limpahkan pada saya dengan sempurna, membuat saya merasa malu.

Seperti Fathiya bilang, perjalanan hijrah ini tidak akan pernah selesai. Segalanya tidak selesai di saat kamu mendapat hidayah dan hijrah. Seperti di bawa dari tempat gelap menuju cahaya yang terang. Saya bilang lupa bagaimana rasanya hidayah, namun jika hidayah berarti terus berusaha berada di jalan-Nya, menuju hal yang baik dan meninggalkan keburukan, itu berarti suka duka, tangis tawa, pergumulan tiada akhir. Yang pasti ia indah, karena ia membawa saya pada lingkungan yang lebih baik, orang-orang yang lebih baik, pengetahuan yang lebih luas, hati yang lebih lembut, lisan yang lebih terjaga, ketenangan jiwa tanpa perlu meditasi dan yoga, serta usaha yang jauh lebih besar untuk dekat dengan Allah dan Rasul-Nya. Saya tahu usaha itu besar juga berat, namun entah mengapa saya cinta.

Dan itu semua dimulai sesimpel dengan mengenakan selembar kain menutupi helaian rambut hingga batas dada. Hanya itu.

Semoga kamu dan saya bisa saling mengingatkan menuju kebaikan dan mencegah dari yang mungkar. Tolong doakan juga semoga segera dikirimkan jodoh terbaik. Aamiin.

Wassalamu’alaykum.

12: 42 PM, 07/07/16

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s