Islam, personal

[OPINI] PANDANGANKU, PANDANGANMU—SALING MEMANDANG?

others-baby-staring-eyes-bite-download-wallpapers
credit: alf-img.com

Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakaatuh,

Alhamdulillah, setelah sekian hari dan diantara kegiatan serta tugas yang menuntut perhatian di balik punggung akhirnya saya bisa memaksakan menyempatkan untuk menekan tuts keyboard laptop untuk melatih kemampuan menulis saya. Meskipun kali ini hanya dalam rangka menuangkan pendapat—unek-unek—serta beberapa pengalaman.

Wanita. Mereka adalah kamu dan saya. Sosok misterius yang merupakan perhiasan dunia paling indah. Yang memancarkan kecantikannya dua puluh empat jam seminggu, yang tutur katanya mampu menentramkan sekaligus menusuk tiap insan, yang perilakunya begitu lembut menyentuh hati. Yang begitu dihormati dalam Islam. Yang dijaga sedemikian rupa karena Allah begitu memahami wanita melebihi wanita itu sendiri. Masya Allah.

Namun ada beberapa hal yang mengganjal pemikiran saya. Mari kita buat pembatasan ruang lingkup seputar wanita berhijab yang selalu berusaha menutup auratnya sesuai syari’at dalam Islam, seperti yang termaktub dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Lalu kita kaitkan dengan ayat ini:

“ Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” – (Q.S. An-Nur 24 : 30-31)

Lalu dimana kah letak permasalahan tersebut? Saya sudah sering membaca beberapa tautan artikel atau tulisan atau sekadar cerita atau bahkan mendengar bisikan serta ucapan burung mengenai protes kaum lelaki mengenai wanita yang kurang menjaga dirinya. Penampilan yang menarik perhatian, aurat yang (katanya) masih terlihat. Seriously, brother, now I’m here to voice out what I have in my mind—maybe what other sisters have too.

Saya seorang muslimah yang baru mengenakan hijab sejak kurang lebih setahun lalu. Tiada alasan yang saya temukan untuk mengenakan hijab tersebut tidak sesuai syari’at—aturan itu sangat mendetail dalam: Q.S. An-Nur 24 : 31, HR. Abu Daud Hadits No. 3580, Q.S. Al-Ahzab 33 : 59, HR. Muslim Hadits No. 3971.

Yang bisa saya katakan adalah saya telah berusaha untuk memenuhi aturan tersebut. Dalam beberapa keadaan menanyakan pada sesama teman apakah pakaian yang saya kenakan bakal menimbulkaan masalah bagi saya. Alhamdulillah, sejauh ini teman-teman merespon dengan jujur serta memberikan saran yang solutif pula. Hijab telah dijulurkan, atasan dan bawahan yang diusahakan longgar, mengenakan kaus kaki, serta manset tangan. Benar-benar secara harfiah hanya menampakkan wajah dan telapak tangan.

Kalimat saya berikutnya ditujukan khusus untuk para kaum Adam: mengapa beberapa di antara kalian, sadar atau tidak, masih belum menundukkan pandangan?

Setiap wanita memliki kadar hayaa (modesty/rasa malu) yang berbeda. Ada yang begitu pemalu hingga sulit untuk berbicara dengan lawan jenis bahkan saat bersama kaumnya, ada pula yang easy going dan mudah akrab namun tetap menggariskan batasan yang jelas antar lawan jenis.

Sungguh, di sini tidak ada justifikasi bahwa wanita boleh asal memandang pada lelaki manapun. Sudah jelas perintah menjaga pandangan dan kemaluan adalah kewajiban bagi kedua insan ini. Namun berdasarkan berbagai sumber seperti buku, artikel, hingga video, ditemukan fakta bahwa sangat sulit bagi lelaki untuk menundukkan pandangan terhadap wanita. Hal ini masuk akal karena jika ada yang paling disukai lelaki maka ia adalah wanita pada peringkat pertama, menyusul anak-anaknya, kemudian harta dunia (meliputi emas, perak, hewan ternak, dan tanah — Q.S. Ali-Imran 3: 14). Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam sendiri telah menjelaskan:

Aku tidak meninggalkan satu fitnah pun yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita.” (HR. Bukhari No. 5096 dan  Muslim No. 2740)

Saya tidak bisa mengatakan saya memahami apa yang dipikirkan pun yang dirasakan para kaum Adam. Namun sedikit banyak saya maklum pada betapa sulitnya menjaga pandangan bagi mereka. Protes-protes yang dilayangkan dan beredar di media sosial, mengenai wanita yang tidak menutup aurat begitu menganggu para ikhwan yang berusaha menjaga pandangannya, bukan berarti tanpa alasan. Namun satu pertanyaan lagi yang saya miliki dan berkaitan erat dengan pertanyaan sebelumnya adalah: sekeras apa kalian, wahai ikhwan fillah, berusaha menjaga pandangan dan kemaluan kalian?

Dan pertanyaan barusan bukan tanpa alasan.

Mari ambil contoh dari pengalaman saya sendiri. Tanpa mencampur adukkan kepedean atau gede rasa alias GR, saya merasa risih saat harus menempuh perjalanan dari kosan menuju kampus selama sepuluh menit lebih dengan pasang-pasang mata yang kadang mampir tanpa alasan. Apalagi jika di jalan raya, bahkan saya tidak ingin membayangkan berapa pasang mata lain yang sudah menengok-nengok. Dengan paras yang biasa saja dan pakaian yang serba tertutup, kaum Adam masih belum sanggup menahan pandangannya.

Brother, what is wrong with you?

Apa yang harus dilakukan para wanita yang telah berusaha menjaga aurat serta hayaa and yet they’re still keep staring? Mungkin ada akhwat yang cuek akan hal tersebut, ada pula yang biasa saja, ada pula yang nyaman dalam segala keadaan termasuk menarik perhatian lawan jenisnya. Tapi bagi saya secara pribadi, jika antum dan saya tidak memiliki alasan syar’i untuk saling memandang atau bahkan mencuri pandang, maka pikiran saya adalah: what is wrong with me/you/us?

Pandangan yang saya maksud disini adalah tatapan lebih dari dua detik, yang lamat-lamat, menengok dengan sengaja, menatap dengan intens, etc. Dengan pengecualian saat harus berurusan dengan lelaki sehingga mengharuskan untuk saling berkomunikasi tatap muka karena memang memiliki urusan (bukan urusan yang diada-adakan), maka saya tidak melihat alasan syar’i untuk tidak menjaga pandangan. Harus disadari betapa berbahayanya para lelaki yang tidak menjaga pandangannya. Saya bahkan tidak ingin menerka-nerka apa yang mereka pikirkan dan bayangkan saat melarikan pandangan ke arah para wanita yang bukan mahram mereka. Karena, jujur, itu hanya akan membuat saya ngeri dan malu.

Contoh lain adalah bahkan ketika berada di kampus sendiri. Entah mereka adalah orang yang kita kenal, sekadar kenal, bahkan yang tidak tahu namanya. Atau bahkan teman sendiri. Kadang mereka menatap lebih lama dari yang sepantasnya. Memang ada probabilitas bahwa si lelaki berusaha memastikan siapa orang yang berjalan dari kantin itu, namun setelah dipikirkan kembali saya memiliki solusi untuk hal itu: dalam logika saya, jika kita memang ingin dan berusaha dalam menjaga diri serta pandangan maka jika sosok itu adalah seorang wanita yang bisa jadi kita tidak mengenalinya, so what’s the big deal kalau dia orang yang kita kenal atau bukan? If we have a business then we shall deal with it accordingly. Jika hal yang paling aman untukmu adalah menjaga pandangan maka kesampingkan saja rasa ingin tahu dia orang yang kita kenal atau bukan.

Jika antum tidak punya urusan dengan saya, untuk apa memandang-mandang? Itu adalah pertanyaan yang ingin saya lempar pada setiap lawan jenis bukan mahram yang mengarahkan mata mereka pada saya. Atau pada teman-teman sesama akhwat demi menyuarakan keluhan.

And please understand, bahwa opini adalah bukan dalam rangka menghakimi. Hanya berusaha membuka pikiran antum sekalian, para wanita dan lelaki muslim, pada betapa pentingnya menjaga pandangan. Khusunya para ikhwan yang memang harus bekerja ekstra dalam menunaikannya sehingga bisa jadi tanpa sadar kedodoran di tengah jalan. Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, tulisan ini adalah bagian dari unek-unek serta pengalaman sendiri.

Maka dari itu betapa penting bagi para akhwat untuk menjaga diri dan pandangannya. Serta hayaa pada diri. Betapa Islam mencintai dan menghormati kita, bukankah sudah sepantasnya kita menghargai cinta yang tercurah itu sedemikian rupa? Hijab bukan hanya sekadar perintah, jika ia diuraikan panjang-lebar maka ia memiliki manfaat yang memang bertujuan menjaga diri ini.

Dan untuk para lelaki, jika memang belum ada wanita muslimah yang menyuarakan langsung apa yang mereka rasakan tatkala kalian mencuri-curi pandang atau memberi perhatian berlebih, maka suara saya ini mewakili sepersekian dari kepribadian wanita muslimah di luar sana. Saran saya, jika memang antum sangat sulit menjaga pandangan maka persiapkan diri untuk menikah. Jika memang belum siap, maka berpuasa lah.

Sesungguhnya dunia ini begitu manis nan hijau. Dan Allah mempercayakan kalian untuk mengurusinya, Allah ingin melihat bagaimana perbuatan kalian. Karenanya jauhilah fitnah dunia dan jauhilah fitnah wanita, sebab sesungguhnya fitnah pertama kali di kalangan Bani Israil adalah masalah wanita” (H.R. Muslim No. 2742)

Mari saling mengingatkan dalam kebaikan dan mencegah dari yang mungkar. Komentar dan saran sangat diharapkan untuk berbagi ilmu dan bertukar pikiran.

Wassalamu’alaykum warahmatullah wabarakaatuh.

17/04/2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s