Islam, personal

[RESPON]: Selfie Cantik Kekinian, Beneran, ah?

14671148_713285312154691_5562302968993739262_n
Sumber: @yanglagirame (Facebook Page)

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakaatuh.

[THIS IS A REPOST FROM PREVIOUSLY-PRIVATED BLOG]

Tepat baru saja kemarin (23/11) saya ditunjukkan mengenai selfie yang disebut kekinian dan telah mulai mendarah daging bagi kaum manusia, terutama digandrungi oleh makhluk Venus yang ditulis oleh Agan Satria Baja Hitam di blog beliau (kemarin saya mencoba untuk membuka laman tersebut tetapi dialihkan ke tulisan lain tulisan telah bisa kembali di akses).

fasa

Sebagai seseorang yang memiliki rasa ingin tahu sangat tinggi dan kecenderungan mencari sebuah validasi akan tiap argumen, saya mencari tahu forum yang disebutkan oleh beliau dengan bantuan Mbah Google. Ya, saya ketik keyword apapun itu yang tersebut dalam tulisan tadi.

Mengejutkan. Bahkan pikiran saya yang tidak lugu pun amat terkejut. Dan jijik.

Oke, mungkin saya memang lugu dan naif. Serta bersyukur belum pernah terpapar hal demikian, hingga pencarian yang mengantar ke laman tersebut. Semoga Allah Tabarakallahu Ta’Ala mengampuni saya akan kekhilafan dalam usaha yang tidak tahu benar atau salah.

Disini tidak ada maksud untuk menyudutkan pihak manapun atau bahkan gender manapun. Sudah tahun 2016, orang-orang semakin sensitif akan penyebutan tertentu meskipun tidak bermaksud menyinggung.

Pertama, yang paling merampok mencuri rasa prihatin serta concern saya adalah mengenai gambaran kondisi umat, di negeri tercinta Nusantara. Dan ini saya tidak membicarakan gender tertentu saja.

Belum lama saya menonton tausyiah yang dibawakan Abu Takeru berjudul Rainbow Cake di youtube yang membicarakan sebagaimana judul tersebut (re: LGBT). Saya tidak akan menyoroti LGBT tetapi pada masalah penyaluran hasrat. Ya, saya tahu teman-teman lelaki di kampus saya pun melakukan penyaluran dengan tangan mereka sendiri. Begitu pula teman-teman di sekolah dulu.

Apakah itu sesuatu yang normal dahulu, saya tidak tahu. Saya pikir hasrat lelaki memang besar, dilihat dari kegemaran mereka yang sulit mengalihkan pandangan atau pengerahan usaha ekstra tiap kali ada makhluk perempuan melintas di depan mata. Apalagi yang secara fisik menarik. Tetapi kini saya mengetahui, dalam Islam, secara normal pun itu adalah sesuatu yang jelas salah.

Saya tidak tahu bagaimana di agama lain. Tetapi yang saya yakini, terlepas dari ajaran Qur’an dan As-Sunnah, saya percaya penempatan segala sesuatu pada tempatnya merupakan suatu keharusan. Termasuk hasrat seksual.

Seorang teman beragama Nasrani berkata bahwa yang membedakan antara manusia dan hewan adalah kemampuan mereka menahan atau melawan hawa nafsu. Tidak mungkin jika ingin buang air besar, kita asal mencari tanah dan buang hajat disana. Tempat yang tepat dan layak adalah kamar mandi.

Tidak mungkin bagi manusia untuk seketika menyantap daging mentah saat kelaparan, kelayakan yang memenuhi kriteria dan pemenuhan akal yang diberikan Tuhan adalah dengan memasaknya terlebih dahulu.

Begitu pula dengan hasrat seksual.

” Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa; karena puasa dapat menekan syahwatnya (sebagai tameng). ” – HR. Al-Bukhari (no. 5066) kitab an-Nikaah, Muslim (no. 1402) kitab an-Nikaah, dan at-Tirmidzi (no. 1087) kitab an-Nikaah. 

Lalu di forum tersebut disebarkan foto-foto perempuan yang menurut mereka membangkitkan syahwat. Ada beragam jenis disana dari yang berpakaian minim, tidak berhijab, berhijab, hingga ada yang mengenakan hijab menutupi dada. Kebanyakan pula sekadar selfie tampak wajah seperti pas foto. Namun bagi kaum Mars ini sangat menarik bagi mereka.

Sesungguhnya saya ingin mengingatkan saudaraku sesama anak-cucu Adam, bagaimana jika hal yang sama menimpa ibu, saudara perempuan, atau isteri kalian? Menjadi bahan yang disebarkan itu. Dan sesungguhnya saya tak habis pikir pada salah satu oknum yang rela menyebar foto isteri mereka sendiri di forum tersebut untuk dinikmati pihak lain.

Saya bukan orang paling cerdas secara intelejensia atau pun emosional, tapi satu forum ini sanggup membuat saya ingin berseru, “Ada apa dengan umat manusia?”

Tolong jangan hanya mengedepankan selangkangan. Hati, akal, logika adalah pemberian Tuhan. Adalah sebuah penghinaan jika tidak dimanfaatkan dalam menjalani kehidupan.

Kedua, saya ingin mengingatkan pada saudara perempuanku sesama anak-cucu Adam yang gemar posting selfie wajah atau foto diri. Atau apapun itu. Posting Agan Satriabajahitam sudah cukup membuat saya menghapus foto diri di instagram lantaran takut. Dan ketika saya melakukan crosscheck ke forum tersebut membuat saya ingin mengunci seluruh foto-foto saya yang beredar di dunia maya (re: facebook) — yang Alhamdulillah sudah saya lakukan sejak berhijab.

Ada seseorang yang berkata pada saya, bahwa selera lelaki itu melingkupi dua: perempuan berhijab syar’i dan hijaber. Saya ingin menambahkan: tidak berhijab. Karena, saudaraku, kita tidak pernah tahu apa dan yang mana yang menarik bagi para pria di luar sana. Bahkan ada beberapa yang menganggap semakin tertutup, semakin panjang hijab yang dikenakan, semakin membuat mereka penasaran.

Sesimpel dari mereka melihat gambar foto.

Saya tidak mengada-ada. Saya takut dan amat marah.

Seakan perempuan bisa dipertukarkan, disebarkan, dipertontonkan, seperti barang dagangan. Seolah bukan makhluk hidup yang memiliki hati dan pikiran. Sejujurnya, saya sudah habis segala perkataan untuk berkomentar.

Memang itu hanya tertulis di dunia maya. Namun segalanya tidak ada yang tidak mungkin. Dan saya bersyukur pada para lelaki yang berusaha mengingatkan akan hal tersebut.

Tidak bisa dipungkiri pada keinginan perempuan untuk selalu tampil menarik, rapi, dan tanpa cela. Serta kesukaan mereka untuk berfoto, mengabadikan anugerah keindahan yang diberikan Tuhan kepada mereka, atau berbagai momen lainnya. Tetapi, hanya satu ini saja. Jagalah dirimu, wahai saudaraku.

Ketiga, untuk saudaraku kaum Mars. Menikahlah jika memang kalian mampu dan hasrat itu sudah terlalu besar. Jika memang ingin tapi belum mampu, maka berusahalah menuju kesana, insyaa Allah diberikan jalan kemudahan. Dan jika belum mampu, berpuasalah.

Untuk saudaraku yang telah menikah namun masih memiliki kecenderungan kesana, ingatlah kapan terakhir kali ibadah yang khusyu itu kita jalani. Mungkin kita rindu, mungkin sudah terlalu jauh. Tetapi Tuhan selalu disana saat kita butuh.

Saya tahu jika kita melihat ke dalam hati, ada kejujuran disana. Ada pula logika. Kamu tahu apa kata hati kamu tentang itu. Setan tidak akan membiarkanmu berpikir dua kali, maka segera lah melangkah pergi.

Bukankah itu alasan mengapa Hawa diciptakan dari tulang rusuk kiri Adam? Bukan dari tulang ubun-ubun, sebab berbahaya membiarkan ia disanjung dan dipuja. Bukan pula dari tulang kaki, sebab amat nista menjadikan ia diinjak dan diperbudak. Ia diciptakan dari tulang rusuk, yang dekat dengan tangan agar dilindungi, dan dekat dengan jantung hati agar dicintai.

Semoga Allah selalu mencurahkan rahmat dan hidayah-Nya bagi kita semua. Jika Allah berkehendak untuk melimpahkan petunjuk-Nya maka tidak ada satu makhluk-pun yang bisa mencegah, begitu pula sebaliknya.

Wallahu’alam bishshawaab.

Wassalamu’alaykum.

25/11/2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s