Islam, personal

[REVIVING THE UMMAH]: HALAQAH

halaqah_by_muslim_women
credit: blogspot.com

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh…

Sabtu (12/03) akan dikenang menjadi hari paling produktif sepanjang 2016 sejauh ini. Mengapa demikian? Ada beberapa hal—mari kita buka tulisan ini dengan sedikit curhat.

Saya mendaftar menjadi peserta Sekolah Mentor yang diadakan oleh FUSI FTUI (Forum Ukhuwah dan Studi Islam Fakultas Teknik Universitas Indonesia) dengan semangat menggebu untuk menjadi mentor/murobbi pastinya. Singkatnya, kami baru saja menjalani kelas pertama dengan outline tema pembicaraan: pentingnya tarbiyah, reviving this ummat, dan yang yang utama yaitu dakwah.

Kepada teman-teman pembaca harap tidak segera menutup laman hanya karena mendengar kata berbahasa Arab di atas tanpa benar-benar memahami juntrungnya. Sebagai seorang muslim bagaimana mungkin kita alergi dengan hal-hal mengandung bahasa Arab atau pun tauhid? Come on, it’s absurd. Itulah mengapa kita dianugerahi akal dan pikiran untuk mencari tahu sebelum memberikan label.

Mari kita mulai dengan mengetahui kondisi terkini ummat muslim di zaman sekarang. Para pembaca pun pasti bisa menyebutkan dari A sampai Z apa yang membedakan muslim yang dulu (zaman Rasulullah hingga selesainya khilafah ‘Ali ibn Abi Thalib—atau hingga bubarnya Turki ‘Utsmaniyah). Saya bakal merangkum bukti-bukti dalam bentuk abstrak yang hati nurani kita tak bakal menyangkalnya:

  • Bodoh terhadap Al-Qur’an.

Bukan, ini bukan masalah intelejensia. Tapi terletak pada bahwa eksistensi Kitabullah ini begitu nyata seperti ketika kita bernapas. Separangkat way of life sudah diberikan, sebuah panduan dalam kehidupan dunia mempersiapkan diri untuk yaumul qiyamah. Namun ummat bisa menjadi acuh dan tidak tahu akan isinya. Mari tanyakan pada diri sendiri, kapan terakhir kita membuka Al-Qur’an yang terselip di dalam lemari?

  • Parsialisasi iman.

Bro, Sis, ini adalah pertanda sekularisme mulai menggerogoti diri. Jangan, jangan langsung tutup laman hanya karena muncul istilah sekular, bisa cari tahu melalui Mas Google.

Hai orang-orang yang beriman, masuklah Anda ke dalam Islam keseluruhan (kaffah), dan janganlah Anda turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. “ [QS. Al-Baqarah : 208]

All or nothing, bro. Dunia adalah tempat kita mempersiapkan kematian. Pertanyaan simpel, kemana kita akan kembali pada akhirnya? Jika muncul jawaban justifikasi apapun, percayalah itu bukan dari hati kita.

Dan jangan pernah katakan bahwa berbuat kebaikan bakal cukup mengantar kita ke surga. Karena bukan saya yang bakal menampar pipi ini atau pipi Anda. Bukan pula orang tua ataupun utsadz manapun.

… akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. “ [QS. Al-Baqarah : 177]

  • Terpukau dengan selain manhaj (aturan, ideologi, pemikiran) Allah Ta’ala.

Enggan mengikuti apa yang telah diperintahkan oleh-Nya. Seorang teman begitu mengagumi sebuah sistem yang diberlakukan pada suatu organisasi di kampus kami. Namun suatu kali ia berkata pada saya bahwa ia baru menyadari hanya peraturan yang dibuat oleh Allah yang paling sempurna. Tiada yang lain. Yang mengantarkan pada syafaat, menjauhkan dari mudharat. Segala yang bermula dan yang berujung pasti memiliki hulu dan hilir pada Sang Ilah.

  • Terjerembab dalam penyakit ummat terdahulu.

Sudah terlampir pada Kisah-Kisah 25 Nabi dan Rasul. Let’s taken an example: kaum Nabi Nuh ‘Alaihis Salam, kaum Nabi Musa ‘Alaihis Salam, kaum Nabi Shalih ‘Alaihis Salam, etc. Dan sepertinya sekarang yang sedang menggelegak di tungku pemanas adalah replikasi perilaku kaum zaman sekarang yang katanya semakin intelek menyerupai kaum Sodom di zaman Luth ‘Alaihis Salam.

  • Meremehkan Al-Qur’an.

Biarlah masing-masing hati nurani kita yang bicara akan fakta ini.

Sudah ada yang tersinggung?

Sekarang mari bicara tarbiyah. Dan tolong jangan tutup laman bacaan ini atau keburu alergi.

Tarbiyah memiliki arti membina, mendidik, memelihara, mengembangkan. Adanya guru/murobbi/mentor dengan target murid/mentee. Tentu saja dengan cara-cara yang baik. Yang luar biasa adalah tarbiyah ini memiliki jalan yang sulit tetapi kokoh, waktu yang panjang tetapi terjaga keasliannya, dan lambat tetapi terjamin hasilnya.

Halaqah sendiri yang memiliki arti harfiah lingkaran—atau kini orang biasa menyebutnya sebagai liqa’—merupakan salah satu wahana tarbiyah. Pada zaman Rasulullah dahulu para sahabat berkumpul membentuk sebuah lingkaran sebagai sarana pengajaran mengenai Islam dan kaderisasi dakwah itu sendiri.

Let’s take a look pada agama tauhid yang melekat pada diri. Itu adalah dakwah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Mengapa alergi dengan kata dakwah sementara kita ini adalah ummat yang dibentuk, dikembangkan, dipelihara, dan dibina sejak 1400 tahun silam? Ingin menyebut bahwa kita adalah muslim karena bawaan orang tua? Bahasan ini bisa panjang, tapi tiada orang yang bakal menampar diri sendiri selain ayat yang diturunkan oleh Allah ini:

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat Anda tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan). “ [QS. Al-A’raf : 172]

Mengapa membahas halaqah bisa sampai sepanjang ini? Karena ini adalah masalah aqidah bro, sis. Jika tidak ditelusuri hingga akarnya—meskipun tidak seberapa—itu berarti saya tidak mengerahkan segenap kemampuan untuk memberikan segala syafaat yang dianugerahkan untuk saudara sesama muslim.

Tulisan ini hanyalah sepotong tentang pentingnya tarbiyah dan dakwah. Tarbiyah memang bukan segalanya tetapi segalanya berawal dari tarbiyah. Dan, bukankah kita harus saling tolong-menolong dalam kebaikan dan mencegah dari yang mungkar?

Halaqah adalah kelompok terkecil dalam sebuah jama’ah. Betapa indahnya persaudaraan karena iman, bersama mereka para pendamba surga, yang mencari hidayah dan taufiq-Nya. Tercantum di dalam Kitabullah agar kita tidak tercerai-berai dan saling tolong mentolong dalam kebaikan. Dan lingkaran ini pun sebenarnya membentuk sebuah siklus yang terdiri dari tiga bagian yang saling berkaitan dan berbanding lurus: iman, ibadah, dan persaudaraan (ukhuwah).

Bayangkan bahwa pertemuan kita bersama mereka para calon penghuni surga mampu memberikan kita motivasi lebih untuk meingkatkan iman dan taqwa, berlomba dalam ibadah dan kebajikan. Ini adalah recharging yang sebenarnya. Nongkrong bersama teman-teman yang tepat, hang out yang bermanfaat. Di sinilah fungsi penjagaan yang tidak kita dapatkan jika hanya mempelajari Islam melalui kajian dan pengajian pada umumnya.

Halaqah tarbiyah sendiri bukan hanya untuk kebutuhan intelektual (ilmu) untuk megkaji dan menambah pengetahuan tentang Islam. Atau pun ranah pertama dalam berdakwah. Namun juga tempat untuk mengembangkan diri, ibadah, adab, dan akhlaq.

Mengapa kita mencintai halaqah?

Karena pertemanan yang dibangun karena Allah hanya akan selesai dan berakhir karena Allah.

Mengapa kita mencintai halaqah?

Karena jama’ah merupakan sarana terbaik untuk menjauhkan syaithan. Dan merupakan jalan tercepat menuju surga.

Mengapa kita mencintai halaqah?

Karena kita bisa memberikan syafaat antar sesama. Disinilah rasa keikhlasan tanpa kepura-puraan itu tumbuh. Tali silaturrahim terjalin membentuk sebuah ukhuwah yang indah.

===

Lalu, omong-omong, bagaimana akhir dari hari Sabtu kemarin?

Ya, tidak apa-apa. Intinya jika ingin memberikan sesuatu maka kita harus memiliki sesuatu yang lebih untuk dibagi.

Are you the agent? Because I’m ready to change!

13/03/2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s