Literature, personal

[CERPEN]: UNTUK PEREMPUAN YANG SEDANG TIDAK DI PELUKAN

1799492-ENAIOHBJ-7-vert
source: saatchiart.com

[Warning]: Tragedy, angst, 2nd POV

♫♪: Banda Neira – Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti; Payung Teduh – Untuk Perempuan yang Sedang di Pelukan; Chantal Kreviazuk – God Made Me; Oasis – Wonderwall; The Goo Goo Dolls – Iris

ACT. I Untuk Dia

Scene I – Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Bangsal Psikiatri Dewasa.

Butiran fluida telah merembesi tanah di luar bangunan bertingkat yang telah begitu akrab selama setahun belakangan. Saya menawarkan diri untuk mengantar kamu menemui dokter kesekian selama terapi yang kau jalani.

Saya bilang, tidak mengapa, maafkan dirimu. Asal kau tahu, mereka pun berkata begitu tentang kamu.

Dia, perempuan yang sebelum genap 20 tahun resmi didiagnosis mengalami depresi mayor. Persetan apa kata psikiater kedua dan ketiga, pada lembaran resep berisikan antidepresan juga Xanax. Dia memiliki mereka dan saya.

Kamu telah menjadi tempat yang saya pikir bisa disebut sebagai rumah. Untuk kembali pulang, menemukan kenyamanan untuk berteduh, pelukan hangat dikala ragu, serta bahu untuk bersandar saat hidup begitu keruh dan diri merasa terlalu rapuh.

Saya ingat pertama kali melihatmu, mengenakan kebaya biru di hari kelulusan sekolah, saya hanyalah saudara kembar dari seorang teman yang bahkan tidak akrab. Kau ingat? Siswa sekolah kamu dan saya sering terlibat tawuran. Dan hari dimana saya bertemu Dia, persis sebilah bambu runcing menembus nadi jantung hati.

Siap terbahak lagi dengan perkataan gombal saya tiap mengingat kamu?

Kemudian kamu dan saya diterima di kampus, fakultas, dan jurusan yang sama. Sayangnya, tidak pula ada tanda-tanda dua bilah kutub saling menjamah kedua hati yang seakan kian menjauh. Sedihnya, saya hanya mampu merindu. Rindu yang semrawut, tidak bertanggungjawab karena saya tidak mengerahkan usaha untuk menjemput kasih.

Tidak memantaskan diri, tidak mengajukan ruang dan waktu untuk diisi. Hingga kemudian salah satu kawan terdekat membicarakan kamu.

Tentang Dia yang terancam lulus lebih dari empat tahun untuk selembar ijazah keteknikan, tiket menuju kemerdekaan. Orang-orang berkasak-kusuk bahwa kamu sakit. Sakit apa?

Selama ini yang saya ketahui tentang Dia hanyalah permukaan danau yang pergolakan di dasarnya seperti fluida pada perpindahan konveksi. Superfisial.

Tiga setengah tahun kemudian, saya menghampiri kamu yang sedang melintas. Hendak kemana? Dan kamu menjawab, rumah sakit. Dia bukan orang yang senang bercanda lama-lama dan keterlaluan, bukan pula yang gemar melontarkan bohong putih dalam keseharian. Lalu saya menawarkan—agak memaksa, untuk mengantarmu kesana lantaran dekat dengan jarak ke rumah.

Kamu tidak perlu berbicara dengan begitu lembut, mengunci keempat mata dalam kesatuan yang melembamkan waktu, tatapannya bermaksud untuk menenangkan bukan mengurung atau pun meminta belas kasihan. Pastinya bakal membuat segalanya menjadi lebih sulit, bagi saya.

Dia menuju bangsal psikiatri dewasa.

Potongan teka-teki selama bertahun mengenal kamu mulai terungkap. Gejala itu telah muncul bahkan saat pertama mengenalmu. Namun, kamu selalu berhasil menjadi pemenang di antara mereka para penjahat benak—perampok indera dan akal. Apa yang membuatmu terjatuh dan terjerembab?

Saya hanya ingin kamu tahu bahwa saya merindukan Dia. Tidak mengapa kamu begini.

Sepertinya, atas kuasa Tuhan, saya kian mendamba dan merindu. Terpojok atas kekaguman yang kian bertambah pada diri Dia. Satu hal yang pasti, saya akan bertanggungjawab atas segala rindu di hati.

Scene II – Laboratorium Teknik Memahami dan Cinta, Lantai 3, Fakultas Teknik.

“Apa yang saya miliki dan bagi dengan Dia tidak lebih daripada yang bisa kau atau siapapun pahami. “ Hans memulai dengan perlahan, memilih tiap kata dengan cermat, membalas kontak mata kami dengan instensitas lebih tinggi. “Tidak seberapa dibandingkan apa yang selama ini kau pendam tentang Dia. “

Pada detik itu, saya berusaha memilah keeping emosi yang berceceran tak berbentuk, memilin berbagai alasan yang menjadi penyebab atas nyeri pada jantung hati saya.

Adalah sebuah keterlambatan untuk mengulurkan tangan, menunjukkan bahwa saya peduli. Mengekspresikan rindu dan cinta yang terus membara, meretih di dalam relung hati hingga saya bingung apakah air muka ini telah berkhianat dengan membocorkan rahasia antara aku dan saya. Adakah kata terlambat bahwa saya ingin mencoba mengerti?

Karena kali ini hampir habis daya di dalam diri untuk membuktikan pada Dia ada cinta yang nyata. Bahwa saya ingin kamu tetap bertahan, terus bangkit, menjadi pemenang. Bahwa kamu adalah seorang pejuang, sebuah inspirasi, sosok yang saya kasihi.

Bukankah cinta dan kasih, afeksi dan simpati, bakal menjadi zat analgesik di saat hati terasa nyeri, tonik pereda luka infeksius yang menganga?

Terlihat suatu visi yang begitu menyenangkan jika benar terjadi: para penonton dapat melihat lelaki dan perempuan yang saling melepas kalor bagi jiwa yang membeku. Bagi saya ini adalah salah satu kebenaran yang mampu saya pungut dari jalanan, tidak ada keraguan di dalamnya.

Mengapa bukan saya yang menjadi yang pertama untuk hadir di saat kau butuh dan terjatuh? Mungkinkah saya telah gagal untuk mencoba memahami bahkan sejak kesempatan pertama? Ataukah sebenarnya saya terlalu pengecut untuk mencoba?

Saya ingin mempertanggungjawabkan rindu, cinta, dan kasih. Namun, sayangnya, diperlukan elemen mencoba, mencoba, mencoba. Serta untuk terus memberi tanpa pamrih.

Cara Tuhan membuat kita mempelajari hidup sering membuat saya geli. Bahwa saya harus kehilangan kamu agar merasa tertampar dan tertohok. Dan kamu—ah, hidup saya diwarnai oleh Dia dan kamu.

Tidak seperti Rangga dan Cinta yang hingga akhir cerita dibuat agar tak bisa bersatu, saya membayangkan entitas yang menjadi tunggal, menciptakan sebuah sintesis saya dan kamu menjadi kita, aritmetika cinta dimana dua lebih baik daripada satu. Klise di antara yang klise. Produk dari kisah yang memang diciptakan dari bahan dasar sentimen, pertemuan, dan segala yang mengikuti adalah tebak-tebakan tak berarti, diapresiasi dengan ekspektasi akhir yang berbahagia.

Dalam kisah Laila dan Majnun, mungkin kita saling mencinta seperti yang mereka lakukan. Syukurlah saya dan kamu tidak tergila-gila pada cinta sehingga menjadi gila karenanya. Sebut saja saya dan kamu adalah bentuk lain dari Galih dan Ratna. Yang menemui lebih banyak rintangan dalam sebuah kisah percintaan klasik, yang dipertemukan di ujung sumbu perjalanan hidup. Yang tidak pernah sekompleks atau penuh drama cinta segitiga untuk mencapai lembaran akhir cerita, hanya komposisi sederhana dan plot cerita yang masuk akal.

Gila dalam mencinta. Cinta hingga menggila. Kata itu terasa begitu asing bagi telinga dan degup jantung saya—mungkin juga kamu. Lalu apa yang bisa dikatakan pada selembar benang tipis yang menghubungkan di bawah rusuk kita?

Karena saya berharap darah dalam nadi itu berpacu dua kali lebih cepat di jantung kita.

Entahlah. Dalam kehidupan nyata, segalanya selalu lebih sederhana atau lebih rumit dibandingkan cerita fiksi.

Dan yang mampu saya pahami dan yakini bahwa kamu, Dia, adalah seorang pemenang sejati.

ACT II. Tentang Fiksi

[BRIDGE]

Yang tak terkatakan adalah bahwa kisah ini adalah kalimat-kalimat yang akan dimainkan para aktor dalam sebuah skenario fiksi.

Saya selalu ingat bahwa di kemudian hari kamu ingin menjadi penulis. Saya pun dapat melihat bahwa kamu memiliki kemampuan jauh di atas rata-rata dalam mengekspresikan diri—bentuk untaian kata, bahasa tubuh, intonasi suara, air muka. Saya berseloroh, mungkin kamu bakal menjadi aktris kekinian pula.

Dua bulan sebelum sidang skripsi, kamu menghampiri saya—untuk pertama kalinya sepanjang sejarah kita saling mengenal! Harus diakui saya menjiplak mimik dan cara bicara Hans kali itu karena saya pikir—sudahlah.

Kamu berkata tentang menulis sebuah monolog pertama dan keinginan untuk menyampaikannya. Di hadapan audiensi.

Saya tersenyum lebar, tidak mengapa, luar biasa. Itu bisa menjadi terapi yang baik untuk kamu. Menghadapi khalayak ramai dan bicara pada mereka. Lagipula sudah banyak yang mengetahui tentang kamu yang begitu apik dalam menyulam kalimat dan menyisipkan rasa. Saya bakal mengundang teman-teman lain—beserta kenalan untuk hadir.

Entah mengapa, kamu tidak terlihat terlalu bahagia. Mungkin ini kesempatan lain bagi saya untuk kembali mencoba.

Scene I – Teater Koma, Metropolis, Ibu Kota.

“Suatu kali, terdapat sebuah pemikiran tentang saya—kau, apapun yang mensintesis menjadi kita. Semacam abstraksi, tetapi tidak pernah suatu yang nyata, entitas belaka, ilusi; sekalipun kau bisa merasakan tatapan ini, atau tiap kali jari jemari dan hamparan kulit saling menyalami: Saya tidak pernah ada di sana. “

Hening. Hans menarik saya kembali duduk. Tangannya begitu dingin yang tidak ada hubungannya dengan pendingin ruangan, juga basah oleh keringat. Mungkin ini hanya khayalan belaka, ia sedikit gemetar—tidak, saya yang menggigil.

“Sesungguhnya, agak sulit agar tetap masuk akal. Terlebih karena saya—“ Deretan silabel tawa yang melewati kotak suaranya seperti bukan Dia. “Karena diri saya merupakan fabrikasi belaka, yang eksistensinya patut dipertanyakan. Hati nurani, simpati, dan harapan telah raib entah kemana; sekalipun mereka benar-benar ada. Ya, sekarang tidak ada lagi batasan antara saya dan kegilaan, kekejaman, kejahatan, segala bencana yang bisa dihasilkan makhluk bernama manusia.

Tetapi tidak!

Tidak, saya tidak berdosa. Saya hanyalah produk. Saya mengambil peran kehidupan, perilaku, tindakan orang lain untuk dimainkan, sebuah validitas. Apakah kau—kalian adalah sebentuk kejahatan? Mungkinkah itu ada pada sesuatu yang kalian lakukan?

Perih yang saya rasakan begitu tajam, menjadi bagian keseharian, hingga tidak pernah berharap dunia yang lebih baik. Bagi siapapun. Saya ingin perih dan derita ini menular dan menimpa yang lainnya—kamu, kalian. “

Kamu seolah kerasukan jiwa asing yang sanggup membuat penonton terenyak, terkunci dalam tatapan tunggal. Tiap helaan napas mereka—saya bisa merasakannya dalam ritme yang sinkron sebagaimana kami kian larut dalam monolog akhir tersebut. Apakah saya semakin khawatir? Saya sangat takut hingga membatu di kursi penonton, pada prospek dan pemikiran bahwa jika saja saya melakukan hal kecil di luar—

“Tidak, sekali lagi tidak. Saya tidak ingin ada seorang pun yang lari dari segalanya.

Tetapi sekalipun telah mengatakan ini berulang kali, bertatap muka secara langsung pada realita, saya tidak dapat mengetahui apapun tentang kau atau pun kita. Tidak ada pengertian baru yang bisa diperoleh dari tiap perkataan.

Jangan pernah pertanyakan cinta dan kasih, karena seseorang pun telah mencurinya tanpa pernah kembali.

Dan ini adalah yang tak pernah terucapkan. Kalian melahap dan menyembelih saya hidup-hidup.”

Perlahan, saya mengarahkan pandangan pada sahabat saya yang turut mematung di samping. Tatapannya lekat pada Dia, ada tangan-tangan tak kasat mata yang membawa saya kembali pada studio dan panggung pribadi di tengah kota—sesuatu milik saya yang ingin dibagi hanya dengan kamu; sebuah dunia mungil yang mereka bangun bersama tanpa perlu khawatir ada penonton tak diundang masuk ke dalamnya. Karena hanya ada mereka di sana dan hanya mereka yang mengerti apa yang ada di dalamnya.

“Tidak ada lagi alasan bagi saya untuk mengatakan ini. Dan, pada akhirnya, pengakuan ini tidak memiliki arti. “

Saya berlari melintasi lorong deretan bangku, mengabaikan segalanya, orang-orang, ketiadaan cahaya. Kelopak mata saya terasa perih oleh rembesan air garam yang mulai menganak sungai tanpa dirasa di sisi wajah. Pada detik yang berjalan terseret, tatapan kami terkunci—saya belum pernah melihat lengkung busur panah itu membentuk sebuah senyuman yang lebih indah karena kebahagiaan di sana, seperti burung yang mengepakkan sayapnya pertama kali bebas dari sebuah kandang mengekang; sepasang sayapnya tidak berhenti mengepak, memantulkan sinar matahari dari serat-serat pada bulunya yang berwarna-warni…

Dialog itu terucap—ia menghembuskan napas tertahan.

“Yang tersisa hanyalah keheningan yang menanti. “

Suara tembakan terdengar sesuai skenario, begitu tiba-tiba dan menggema lantang. Saya bisa merasakan dari ujung jarinya udara bergerak bersamaan para penonton yang terlompat dari kursi mereka.

Interval waktu itu kini bercampur dengan kesunyian dan langkah kaki yang menggedor lantai berlapis kayu. Dan waktu berhenti.

Tirai beludru marun menghalangi pandangan penonton, menenggelamkan mereka sekali lagi dalam bayangan.

Jeritan seorang perempuan merobek keheningan.

Dia bukanlah seorang aktris yang baik. Bukan, dia seorang aktris yang hebat.

[EXEUNT]

ACT III. Monolog Untuk Perempuan yang Sedang di Pelukan

Sekarang telah terbelah hati yang rapuh nan mulia. Tidak mengapa, biar dada dan lengan menjadi alas sisi wajahmu yang kian memucat di bawah sinar rembulan biru. Selamat malam untuk kamu, wahai perempuan yang sedang di pelukan: tidakkah mereka lihat arak-arakan permen kapas di tangan para malaikat berjubah gumpalan cahaya pada langit kelabu? Mengiringi kepergian jiwa yang tegar namun terjerembab.

Tentang kamu yang terjatuh dan terjerembab. Lalu memilih untuk mengalah. Atau memang kalah? Namun bukan itu yang ingin saya pahami dan yakini.

Mengapa terdengar alunan melodi diantara nyanyian para malaikat? Mungkinkah mereka menyambut kepulanganmu di sana?

Sekarang, saya memiliki alasan untuk angkat bicara. Dari mulut ini maka menyuarakan untaian kata, tetapi biarkanlah, sekali ini saja, apa yang ada menjadi apa yang ada.

Sekalipun pikiran manusia menjadi liar, hindarilah kerugian: sebentuk cinta, harap, dan takut yang menjadi komposisi manusia pengisi relung hati. Pada tiap plot dan skenario, percayalah ini merupakan ruang yang saya ciptakan hanya untukmu sebagaimana kini kamu bersandar di pelukanku.

Selamat malam, untuk perempuan yang sedang di dalam pelukan.

Finished: 25/05/2017

11:48 PM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s