Islam

[JURNAL TENTANG KEKUATAN]: JURNAL RAMADHAN

COVER-1

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakaatuh, kawan-kawan!

Ramadhan tiba, Ramadhan tiba~

Masyaa Allah, tidak terasa Ramadhan sudah benar-benar memasuki ruang tamu rumah kita. Kali ini kita sedang duduk bersama, menghirup segelas teh manis hangat, sementara ia mengajukan diri untuk menginap; berikutnya, berniat melihat-lihat ke dalam keadaan rumah.

Karena Ramadhan adalah tamu istimewa, siapa pula yang bakal menolaknya?

Sayangnya, pemikiran itu sempat mampir di benak saya. Karena saya takut Ramadhan tiba namun diri ini masih begitu compang-camping dalam hal iman, kemampuan bersyukur, dan tingkat amalan. Betapa tidak tahu diri dan tidak pantas, sudah dua puluh Ramadhan tapi progres seperti langkah-langkah semut.

Satu hal yang membuat saya memilih tebal muka dan memeluk Ramadhan sehangat dekapan ibunda: tidak pernah ada yang tahu derajat manusia satu dengan lainnya kecuali Allah ‘Azza wa Jalla. Titik.

Dan saya berhasil mengadakan yang tidak ada serta membisakan yang tidak bisa. Tidak semua manusia mampu untuk melakukannya sekalipun ia hanyalah langkah kaki-kaki semut.

Maka, seolah sahabat lama, saya membukakan pintu bagi Ramadhan, menyiapkan minuman hangat, sebongkah kue, lalu meminta diri untuk mempersiapkan ruangan bagi beliau yang ingin menginap selama 30 hari ke depan. Semoga karena kehadirannya saya semakin berusaha untuk memantaskan diri dan kondisi rumah.

Kemarin ada posting di instagram yang ditulis oleh salah satu orang hebat di Indonesia bernama Pak Radyum Ikono M.Eng, pendiri Nanotech Indonesia; beliau merupakan lulusan bidang Teknik Metalurgi dan Material. Begini isinya:

coretan apa ini? wkwk. Ini kontemplasi dadakan saya tentang ramadhan, dikaitkan dengan fenomena di ilmu material. Dalam sifat menanik material, ada istilah deformation. Anggeplah kardus, kalo ditarik sedikit, dia sebetulnya mengalami deformation, tapi elastic. Alias bisa kembali ke bentuknya semula ketika kita stop narik. Lain halnya kalo itu kerdus kita tarik agak keras, sampai pada titik tertentu (yield strength), ketika tangan dilepas, dia ga bisa balik ke bentuk semula. Nah ini namanya plastic deformation. Dia irreversible, ga bisa balik lagi ke bentuk awal. Ilustrasi ini terasa pas di level keimanan kita (gue sih sbnnrya wkwk). Keimanan itu apa ya? Mungkin semacam seberapa kita incline untuk melakukan kebaikan yang diperintahkan Allah. Ketika level 'kemalasan' beribadah kita masih di level elastic, mungkin kita masih bisa balik ke titik 0. Tapi once kita melewati 'yield point', salah-salah kita ga bisa kembali ke titik 0 šŸ˜±šŸ˜¢. Keimanan kita plastically deformed. Padahal udah 'turun', tapi kita merasa baik-baik aja. Nah. Beruntung manusia bukan material. Dan beruntung sebagai muslim kita dikasi Ramadhan. Saya selalu berpikir Ramadhan selalu jadi momentum untuk mengembalikan keimanan yg "plastically deformed" kembali ke titik 0. Dan memulai hidup baru sebagai manusia yang lebih baik. Mari kita berusaha… Selamat memasuki bulan suci Ramadhan, mari kembali ke titik 0… "Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni" (baginda Nabi Muhammad) #ramadhan #puasa #material #sains

A post shared by Radyum Ikono (@radyumikono) on

Kalau dari Teknik Mesin, jika ingin dianalogikan, maka diri saya bagaikan fluida non-Newtonian dengan grafik viskositas yang amburadul dan tidak terprediksi. Itulah gambaran tahun 2017 ini. Karena ini merupakan tahun terberat secara fisik, mental, dan iman sepanjang eksistensi saya yang baru berusia 2x tahun–21 tahun.

Dan, saya sungguh berharap Ramadhan ini akan menjadi tonik penangguh luka, serta zat analgesik pereda nyeri, antibiotik pembunuh virus, bagi segala penyebab penyakit dalam diri.Ā Allahumma aamiin.

To be honest, I wish I can tell you of how my life has been going on for the last few months in the aftermath of the past events, the unpredictable future, and the uncertainty of present days. Tapi saya selalu berusaha mengingatkan diri banyak pula yang harus mengalami cobaan dan saya memiliki Allah yang JAUH lebih besar dibandingkan segala perkara dan masalah.

Nah, menjalani Ramadhan tanpa mutaba’ah harian atauĀ daily reminderĀ seperti tanpa garam, kurang enak, kurang sedap. Karena itu saya berusaha bertanya pada Mbah Google–tetapi kebanyakan masih kurang update, tertanggal 1437H. Sisanya dengan konten kurangĀ sesuai dengan ekspektasi.

Jadilah sebagaimana orang yang kadang tidak puas dengan hidangan di restoran lanatran faktor rasa dan porsi, saya membuat Jurnal Ramadhan sendiri. Karena berifat impulsif maka bisa dibayangkan banyak hal estetika yang diabaikan terlebih saya bukan anak Arsitektur.

Jurnal Ramadhan ini bertema jadul,Ā playful, danĀ colorful. Menggunakan color palette yang diusahakan agar unisex meskipun memang kebanyakan menggunakan warna pastel. Tapi yang penting kan kontennya ya #justifikasi.

Untuk inspirasi color palette saya diberi saran oleh Luthfia Dhia dari webĀ https://www.design-seeds.com/. Kemudian untuk konten saya mengambil dari jurnal yang tahun lalu saya pakai serta tambahan apa yang saya inginkan dan seharusnya adalah di dalam jurnal ibadah.

Sebenarnya saya membuatnya agar bisa digunakan sepanjang tahun namun masih perlu diperbaiki lagi dalam hal desain beserta konten. Jadi sekarang ini saya dengan bangga mempersembahkan (klik tulisan untuk mengunduh) Jurnal Ramadhan sebagai Jurnal Tentang Kekuatan.

Tentang kekuatan kamu dan saya.

Semoga kita segera dipertemukan baik esok ataupun nanti.

Wassalamu’alaykum.

28/05/2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s