Gunung Hutan, Lingkungan Hidup

[CERPEN]: AJIAN GITA

drained
In frame: H. Trahasdani (during a recess, Mt. Argopuro, East Java)

Sinopsis:

Kau yang sedang mencinta, kembali lah kepada realita. Kepada yang hatinya terbelenggu dan tertambat, jangan tertukar antara racun dan obat. Kepada kau yang terjatuh dan tersesat, jangan kau lepas pegangan yang kian menguat.

Ketika Gita berkata bahwa ia merindukan Rengganis.

♫♪ || Banda Neira – Kau Keluhkan (Esok Pasti Jumpa); Ke Entah Berantah; Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti.


“ Kita bakal ikut. “

Aji tidak menyahut.

Apa yang ia pikirkan? Bahwa perjalanan lima hari empat malam menempuh trek puluhan kilometer bakal semudah itu? Dan kini ia berencana untuk melakukannya sendirian. Dia pasti sudah gila.

Sejurus kemudian ia bergumam, “ Gita ingin kesana. “

Lalu kenapa? Saya nyaris menyerukan kalimat itu tepat di telinganya. Ini adalah gunung dengan trek terpanjang di Pulau Jawa. Persetan bahwa ia telah menjelajahi Sindoro menyambung Sumbing dan Slamet. Atau menapaki hutan Lawu dengan keril terisi penuh seringan melangkahi jalanan beraspal. Atau dia sudah bolak-balik menyambangi Semeru, Kerinci, dan Latimojong bersama kawan sekolah atau konco kuliah. Atau ketika ia marathon Merapi-Merbabu hanya karena dorongan impulsif lantaran ia masih kuat untuk lanjut. Atau bahwa ia pernah melakukan ekspedisi ke belantara Kalimantan selama sekian minggu. Atau ketika ia tersesat di hutan lumut belantara Argopuro dua tahun lalu dengan kehabisan logistik dan hanya bermodalkan peta, kompas, dan korek api.

Pendakian tidak akan pernah sama. Walaupun itu adalah gunung dan trek yang sama. Atau bahkan kawan jalan yang sama. Hal-hal yang terjadi, momen yang terlewati, waktu yang dinanti, segalanya pasti berbeda. Apa yang ia pikirkan?

Continue reading “[CERPEN]: AJIAN GITA”

Advertisements
Lingkungan Hidup

[LINGKUNGAN HIDUP]: CUKUP PAKAI, CUKUP PUNYA, CUKUP MAKAN SEPERTI SUKU BADUY

Assalamu’alaykum. Kali ini saya memiliki cerita yang beda daripada sebelumnya. Mengenai Lingkungan Hidup.

Pada laman ini saya hanya akan membahas mengenai suku yang mendiami sisi paling barat Pula Jawa; wilayah Banten, Jawa Barat. Yap, suku Baduy. Mengenai info perjalanan akan saya tulis pada laman terpisah agar fokus tema tidak berpindah-pindah.

Suku. Apa yang pertama kali kita pikirkan saat mendengar kata tersebut? Di bangku Sekolah Dasar kita mempelajarinya di rumpun ilmu sosial: suku-suku yang mendiami pulau-pulau di Indonesia. Bahasa yang digunakan, senjata khas, rumah adat, dsb. Tetapi, pernah tidak penasaran untuk menyambangi dan berbaur langsung dengan suku yang satu ini?

Suku Baduy, pertama kali mendengar mungkin terdengar purba. Atau sedikit kampung. Terkesan udik, pedalaman, tak terjamah. Namun itulah yang membuat berbeda dari sekadar mempelajari di buku. Kesan yang berbeda, di hati juga di badan.

Continue reading “[LINGKUNGAN HIDUP]: CUKUP PAKAI, CUKUP PUNYA, CUKUP MAKAN SEPERTI SUKU BADUY”