Literature, personal

[PERSONAL/CERPEN]: SAJAK BERANTAKAN

99970036
credit: Satria Pasthika (Mt. Argopuro, 2015)

Dikira mudah menjadi pujangga? Apa yang mengalir dari rongga hati menyusupi jemari menjelma tinta di atas kertas lusuh, atau dalam kasus saya, layar berpiksel sekian.

Dikira mudah menjadi pujangga? Apa yang menjalari relung hati, meresap sesak ke dalam nadi dan jantung berdegup, ekspresinya berupa lantunan huruf dan untaian suara bergemuruh rasa. Kilat di kala hujan bulan Juni bakal malu dibuatnya.

Dikira mudah menjadi pujangga dengan rasa penyair? Dikira mudah menjadi penyair dengan rasa pujangga? Memangnya suatu karya bisa mencapai parameter kelayakan hanya karena ia memiliki rima? Saat deretan kalimat menjulang setinggi gedung pencakar langit, berlari ke empat arah mata angin bak kompas kehilangan magnet, membuat pusing tujuh keliling sekalipun nirfaedah dan nihil arti.

Lantunan huruf dan untaian suara berkata itu datang dari peluh merajuk dan pacu adrenalin dan darah di dalam nadi. Apa yang dirasakan dalam fraksi momen tidak akan pernah sama seperti pada tiap butiran di dalam jam pasir. Itulah keistimewaan sang hati. Dan apapun yang tercipta dalam tiap fraksi momen akan terkristalisasi sempurna pada vial-vial mungil.

Sajak berantakan ini ditujukan bagi yang gemar berpikir dan menuangkan rasa, asa, dan isi kepala. Dikira menjadi pujangga dengan rasa penyair, atau pun sebaliknya, tidak membutuhkan segepok ilmu dan segenggam kesabaran dalam merajut prasasti keabadian diri?

Sang pujangga menitipkan sekeping hati pada tiap kisah yang terukir, momen yang tertangkap. Karena ia mengungkap lalu mengubur. Akankah kisah itu bakal bertahan hidup sebagaimana sang pujangga meniupkan ruh ke dalam jasad tinta dan kertas? Atau, dalam kasus saya, ke dalam layar berpiksel sekian.

Deretan sajak itu pantas menerima maaf dari mereka yang pelit untuk bersikap adil dengan memberinya tatanan bahasa dan rasa. Memangnya mereka tidak mampu berpikir sebagaimana kamu yang mengukir?

Sekarang, buka lembaran baru, kemudian lontarkan kata maaf. Lalu kita mulai lagi. Segalanya memang bukan tentang rasa, tetapi segalanya berawal darisana.


Note: Well, I do not mean to be a grammar Nazi but please if you are using your own native language, do it justice and serve it right. What we write is not only to attract the crowd, ut also to impress, enlighten, and bring joy for our own sake. Make a better quality of your creation, thrive for more, acquire for more. It’s never been about how far you can go to reach out the world, but it is how the way to inspire and touch the heart, the head, the mind, the soul. Once the idea is there, it can never be killed.

And no, I’m not even saying that I’m good enough. Here is a perpetual learner with razor-like brain and a sharper tongue to begin with. 

Literature, personal

[CERPEN]: THE NOMADS OF THE EAST

paul-almasy-gruppe-von-nomaden-in-einer-oase-sahara-afrika-1343919171_b
credit: Paul Almasy: Gruppe von Nomaden in einer Oase, Sahara, Afrika (1955)

We were the Nomads of the East.

I always thought that Earth was the loneliest place in the universe. The roads we took on, all the trees had gone from their roots to the tiniest twigs, the burning asphalt in the summer, the piercing cold of the water in the river everytime we took a sip, the blazing sun although illuminating thousands of iridescent glows could never lift up the shadows within each of our heart.

Say, I had always been on the edge of my non-existent-wooden chair in regard to know the world before us. And what was beyond us. Since I was born I had wanted to set my feet to every inch of the land, leaving traces of wherever I was. But, then, was not that how were living our lives? Wandering her and there, not belonging anywhere.

Until it was later, I found out that if there should be one single thing my heart so desperately desired to obtain, it was a place called home.

Continue reading “[CERPEN]: THE NOMADS OF THE EAST”

Literature

[KISAH]: JINGGA KALA SENJA – AKSARA

semar_3493a
credit: mabrurisirampog.wordpress.com

ACT I – AKSARA

SCENE I. An Apartment, San Francisco.

It was many and many a year ago,
In a kingdom by the sea,
That a maiden there lived whom you may know
By the name of ANNABEL LEE;
And this maiden she lived with no other thought
Than to love and be loved by me.

I was a child and she was a child,
In this kingdom by the sea;
But we loved with a love that was more than love-
I and my Annabel Lee;
With a love that the winged seraphs of heaven
Coveted her and me.

And this was the reason that, long ago,
In this kingdom by the sea,
A wind blew out of a cloud, chilling
My beautiful Annabel Lee;
So that her highborn kinsman came
And bore her away from me,
To shut her up in a sepulchre
In this kingdom by the sea.

The angels, not half so happy in heaven,
Went envying her and me-
Yes!- that was the reason (as all men know,
In this kingdom by the sea)
That the wind came out of the cloud by night,
Chilling and killing my Annabel Lee.

But our love it was stronger by far than the love
Of those who were older than we-
Of many far wiser than we-
And neither the angels in heaven above,
Nor the demons down under the sea,
Can ever dissever my soul from the soul
Of the beautiful Annabel Lee.

For the moon never beams without bringing me dreams
Of the beautiful Annabel Lee;
And the stars never rise but I feel the bright eyes
Of the beautiful Annabel Lee;
And so, all the night-tide, I lie down by the side
Of my darling- my darling- my life and my bride,
In the sepulchre there by the sea,
In her tomb by the sounding sea.

-Annabel Lee, Edgar Allan Poe

There we sat, not in the kingdom by the sea, but in his own room, the clock on the far wall was clicking unrelentingly thus making such eerie sound reverberating to each nook and cranny; it was rather a peculiar night: still, dissolved like diluted ink, almost disquieting in its serenity.

I was a child and he was a child, though people would address us as mere teens with our blissful and joyous adolescence days, but here we were, not in the kingdom by the sea, with I reading this poem to him. I did not have to make him to listen to my regular reading because he had always been conveniently fascinated by it, maybe it was my voice or somewhere between the verse. I would never know. I liked it when he would be completely captured in my reading, tilting his head to one side without uttering a word, his careful eyes bored into mine, we barely broke the staring-contest just because I had memorized each word by the heart.

When I reminisce to this memory, it was vivid and bright, perfectly clear. Just like a pictureperfect memory, there was only he and I, with the limitations reaching infinity, crystallized in this moment forever. I restored it in the secret box at the back of my head.

Continue reading “[KISAH]: JINGGA KALA SENJA – AKSARA”

Literature

[CERPEN]: MONOLOG IBU PERTIWI

monolog
credit: bilgifili.com

Batavia, 28 Oktober 1928

Telah lahir putera-puteri tercinta kami, para pemuda-pemudi yang menguapkan kalimat mungil berupa untaian janji.

Bertumpah darah yang satu dari dalam nadi, berbangsa yang satu di tanah dipijak dan langit dijunjung, menjunjung satu bahasa persatuan yang menjadi segel pengikat antara aku, seorang Ibu, dan mereka para pemuda-pemudi.

Telah bangkit putera-puteri terinta kami, para pemuda-pemudi, kaum intelektual, agen perubahan, memiliki tenaga bak kuda pacu, yang semangatnya kian menggebu.

Untuk meraih tanganku, sang Ibu yang turut berjuang mengajarinya berdiri dan berjalan di atas tungkai kaki sendiri melangkahi permukaan bumi.

Soerabaja, 10 November 1945.

Hari ini aku kembali menangis tersedu. Pilu. Sekeping hatiku meluruh mati, entah kemana ia pergi. Mungkin ia berlalu bersama jiwa-jiwa yang melayang dari selongsong berdarah melepuh. Kamu tidak akan pernah tahu! Ribuan jiwa itu bak pelita yang mengetuk pintu langit, menjadi saksi akan perjuangan, membentuk demonstrasi pada kekuatan ilahiah demi kebebasan negeri.

Kamu tidak akan pernah tahu! Kamu bukan seorang ibu yang beribu putera-puteri direnggut dari buaian dada ini! Lahir dan berjalan, menyisir hutan dan sawah untuk mencari makan, menghunus pedang dan bambu demi kemerdekaan.

Lalu sebutir peluru menembus daging, menghentikan detak jantung, memotong jalur udara yang kembang-kempis. Dan mereka meninggalkanku, sekali lagi, untuk berdiam bergeming—jeritan yang memudar, darah yang surut. Sekali lagi, aku hanyalah seorang ibu yang anaknya kembali direnggut.

Tikus-tikus! Para tikus yang terus menggerayangi tubuhku. Menggigit dan mencabik lantaran ia tidak menemukan lagi tempat untuk mengais segumpal pangan untuk mengisi perut. Bahkan bagi mereka yang sudah lebih daripada cukup!

Timor Leste, 1999

Oh, Timor! Anakku, puteraku!

Hari itu, kembali aku menangis tersedu. Jeri, pilu. Satu bagian hatiku kembali meluruh mati, entah kemana ia pergi.

Sekalipun, kini, telah kudengar bahwa gemah ripah loh jinawi menjadi milikmu, apalah dayaku yang terus merindu?

Sekalipun meronta dan berseru, disana ada rakyat yang menciptakan disintegrasi dalam benak dan tubuh. Antara seorang putera dan ibu.

Djakarta, 17 Agoestoes 1945

Tautkan jemarimu padaku, wahai putera-puteri tercinta!

Ada kasih dan rasa, darah di dalam nadi, jantung yang tetap berpacu, tungkai-tungkai kaki melangkahi permukaan bumi. Kali ini, adakah janji itu menjadi abadi?

Karena aku hanyalah seorang ibu yang seiring bergulirnya pasir waktu kau pilih untuk lupakan, ternomor sekiankan, yang tersingkarkan dari pandangan. Darah jantung nadi di dalam darah jantung nadi para putera-puteri, kasih dan rasa yang tercurah, remah gegap-gempita yang dahulu kita nyanyikan bersama di teras Pulau Jawa di bawah naungan langit lazuardi.

Kali ini, adakah janji itu menjadi abadi?

Aku hanyalah seorang ibu pertiwi yang tidak mampu meminta lebih pada putera-puterinya sendiri. Siapa yang telah merenggut buaian rindu dari dadaku?

Aku hanya meminta, kembalikan putera-puteriku!

Karena pada hari ini, puluhan tahun lalu, jemari kami bertaut mesra, ada kasih dan rasa, darah di dalam nadi, jantung yang terus berpacu, tungkai-tungkai kaki menjadi perisai para kompeni.

Katakan pada mereka, bagi Ibu, itu bukan sekadar memori.

Letakkan ponsel itu dan tatap aku tepat di bola mata! Lupakan, lupakan deposito, angsuran, hutang piutang! Jangan kau pikirkan tumpukan pekerjaan yang menunggu di atas meja. Abaikan pada fakta bahwa kau adalah budak korporat!

Tatap aku tepat di bola mata dan katakan—

Katakan bahwa kau cinta.

Aku adalah sang ibu pertiwi! Yang kau pilih untuk lupakan, yang ternomor sekiankan, yang kau singkirkan dari pandangan, yang kau lecehkan, yang kau hinakan—

Tanah ini, tempat kau berpijak. Lautan ini, yang menjadi sumber nafkah, yang menjadi tameng dari pengganggu, yang merangkul dan menghubungkan bahu ke bahu antara saudara di kanan-kiri dan kau. Gunung-gunung yang kau taklukkan, jelajahi, jamahi, sekaligus kotori. Sungai-sungai yang kau arungi, jelajahi, jamahi, dan kotori. Goa-goa yang tidak pernah menjanjikan selain misteri. Tebing dan batu yang engkau singgahi, jamahi, dan kotori. Ribuan pulau yang bahkan tidak pernah kau ketahui.

Mereka yang kau tulis di dunia maya agar seluruh pelosok dunia mengetahui—bahwa kau adalah penjelajah sejati. Untuk mensyukuri nikmat dan kebesaran ilahi. Yang keindahannya kau puji setinggi kuil dewa-dewi. Cukup, cukupkan segala topeng itu—

Mereka adalah bagian dariku! Aku, sang ibu pertiwi! Yang kau pilih untuk lupakan, yang ternomor sekiankan, yang kau singkirkan dari pandangan, yang kau lecehkan, yang kau hinakan—

Katakan padaku, wahai pemuda pemudi, putera dan puteri! Masih adakah hak dirimu akan aku, sang ibu pertiwi, jika kau bukanlah bagian dari negeri ini? Masih kah hak dirimu atas aku, sang ibu pertiwi, jika kau perlahan melepaskan diri akan identitas negeri ini? Mungkinkah kamu memiliki hak atas aku, sang ibu pertiwi, ketika dirimu telah tergadai di atas meja judi?

Aku adalah sang ibu pertiwi, dimana lara dan jeri menjadi tinta pelukis pakaian, perjuangan dan cinta menyulam tiap jahitan. Jantung ini  berdegup dari lengkingan cemeti dan derap kaki, darahku serupa biru yang mengharu tiap kali anakku tersakiti. Disinilah kamu berdiri dan bersatu padu di kala dahulu! Kau tumpahkan darah dan air mata untuk membangkitkan aku di kala dahulu!

Tidak bisakah kau, sekali ini saja, kembali pada titik itu, di kala dahulu?

Kini, tatkala negeri lain datang beserta tentakel-tentakel rakus mereka—mencekik, memberangus, menggigit, menghisap daya dan upaya aku, sang ibu pertiwi. Kau bakal kembali pada layar ponsel, mengurusi deposito, angsuran, dan hutang piutang. Menutup mata akan perkara.

Budak korporat, siswa teladan, orangtua yang kesepian, anak-anak yang rindu kasih sayang, pemuda-pemudi yang di mabuk kepayang, orang dewasa yang masih terus meraba dalam bayang-bayang—pecahkan sistem itu, leburkan ponsel di tanganmu, hapus dunia maya dan kembali padaku.

Tidak bisakah kau, sekali lagi, kembali pada titik itu, di kala dahulu?

Aku tidak ingin menjemput maut terlalu dini. Aku tidak ingin melebur dan memudar. Aku mengharap sebuah leadakan dan sinar terang, mengiringi kepergianku—sebagai sebuah kemenangan, sebuah kisah, teladan, hingar-bingar—

Itu yang kau janjikan padaku seratus tahun yang lalu. Adakah janji itu menjadi dusta?

Bahwa sebuah negeri pun mampu untuk sekarat dan mati. Jika rakyat memang tidak menginginkannya tetap ada lagi.

Finished: 23/05/2017

Islam, Literature

[CERPEN]: GELOMBANG QUR’AN

q_wave
credit: nottingham.ac.uk

Salman Al-Fatih Arrazy. Telah menjadi hafidzh sebelum genap berusia empat belas tahun. Ketika kecil, tiap kali ditanya ingin menjadi apa, dijawab dengan: memiliki hidup yang dijalani oleh Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam. Berpedoman dalam koridor Al-Qur’an dan Al-Hikmah, selurus-lurus anak panah dilepas dari busurnya.

Tidak pernah mengikuti pendidikan formal, ijazah yang ia miliki merupakan kejar paket kesetaraan. Menguasai bahasa Inggris tingkat profesional dan bahasa Arab dalam percakapan dan menulis. Tetap saja, tidak ada yang merasa cukup penting untuk memberitakan bahwa di usia enam belas, ia lolos seleksi nasional sebuah universitas prestisius di Singapura. Tahun berikutnya, ia pindah menuntut ilmu bidang keteknikan di Turki.

Siapakah sosok yang membentuk dirinya sedemikian rupa?

Ibu.

Dan atas kehendak Allah, maka terjadilah.

Usai menjalani perkuliahan, ia mendalami dunia kerja mulai dari ditempatkan pada situasi off-shore di Timur Tengah, menjadi konsultan, dan kini menggeluti perniagaan.

“Sebagaimana Rasulullah. Karena beliau adalah idola saya. “

Continue reading “[CERPEN]: GELOMBANG QUR’AN”

Literature

[SHORT STORY]: THE SMOKE BECOMES YOU

Cisentor, Mount Argopuro (In frame: F. Ardiansyah)

♫♪ || Waiting the World to Change – John Mayer; Intuisi – Yura; Beauty is You – Abdul and the Coffee Theory; Dealova – Once; Mimpi – Isyana Sarasvati


It begins with the very first of the hundreds pages.

To Supernova, the flaming burst, the dance of falling stars

This is how I fathom my thoughts to depict the constellations

Today is the day when everything is re-framed and the wall is made of inks and papers

And it is simply beautifully hopeful.

So, I create: are we out of the woods yet?

===

Rain approaches her visions like dull melody from distance away, chilling the lonely soul to the marrow, drifting deep into the box of memories without giving a way. The sun is completely hidden beneath rows of dark grayish clouds as she wonders whether the weather has just turned wild since the sunrays cannot be even seen from the place she resides herself, taking in such melancholy scent of the droplets on once dry earth. For a moment she can reminisce of this state being, where she is utterly absorbed in this lucid sensory details—the raindrops skittering down a window, tall trees leaning in the wind, pair of arms embracing her narrow shoulders keeping her away from any harm.

It turns out that those arms are the inner side of her sleeping bag. She catches a sight of the dome from the yellow summer tent.

She also can make out that the sun does not wish to be found.

The young man is outside. Maybe he has this certain wish not to be found either. In the middle of the vast savanna. Alluring, ravishing, endearing in the most pleasant way. There is a hint of warmth tinging her cheeks each time she recalls any memory regarding him.

They never mind if he frequently strives on daydreaming. Completely immersed in one single thought. It could be a rampant imagination, vivid hope, or perhaps, a mere prayer.

She keeps a journal made of faces and dates. Polaroid collages with small sentences inscribed underneath. It is the synopsis of Lalita Parvati: neighbors, acquaintances, old friends, new strangers conveyed in military precision.

She takes out a Polaroid camera, taking a photograph of him who has been heavily drenched in cold water. His sunkissed skin is adorned in trails of lurid gray—the blood has drained to the feet from his lips. It is almost natural to post the picture near the end of those pages. A snapshot of silhouette amidst the fuzzy fogs, murky dusk from the edge forming a vignette, greyish with a hunting tone of sepia, his back is facing the lens, not allowing anyone to take a peek of his expression. Always keeping a secret.

However, she cannot resist to imagine a certain smile. Of passion and kindness, a gentle heart, the ensnared senses, the bewitched soul. She can picture of sunshine, saccharine-coated voice along with a particular hum of lullaby, followed by unearthly scents which fill the damp air. They are just so thick, stirring on her mind like a terminal illness.

She does not realize until now, that his scent lingers on her clothes.

Black carbon. And the other substances just don’t matter.

Continue reading “[SHORT STORY]: THE SMOKE BECOMES YOU”

Gunung Hutan, Lingkungan Hidup

[CERPEN]: AJIAN GITA

drained
In frame: H. Trahasdani (during a recess, Mt. Argopuro, East Java)

Sinopsis:

Kau yang sedang mencinta, kembali lah kepada realita. Kepada yang hatinya terbelenggu dan tertambat, jangan tertukar antara racun dan obat. Kepada kau yang terjatuh dan tersesat, jangan kau lepas pegangan yang kian menguat.

Ketika Gita berkata bahwa ia merindukan Rengganis.

♫♪ || Banda Neira – Kau Keluhkan (Esok Pasti Jumpa); Ke Entah Berantah; Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti.


“ Kita bakal ikut. “

Aji tidak menyahut.

Apa yang ia pikirkan? Bahwa perjalanan lima hari empat malam menempuh trek puluhan kilometer bakal semudah itu? Dan kini ia berencana untuk melakukannya sendirian. Dia pasti sudah gila.

Sejurus kemudian ia bergumam, “ Gita ingin kesana. “

Lalu kenapa? Saya nyaris menyerukan kalimat itu tepat di telinganya. Ini adalah gunung dengan trek terpanjang di Pulau Jawa. Persetan bahwa ia telah menjelajahi Sindoro menyambung Sumbing dan Slamet. Atau menapaki hutan Lawu dengan keril terisi penuh seringan melangkahi jalanan beraspal. Atau dia sudah bolak-balik menyambangi Semeru, Kerinci, dan Latimojong bersama kawan sekolah atau konco kuliah. Atau ketika ia marathon Merapi-Merbabu hanya karena dorongan impulsif lantaran ia masih kuat untuk lanjut. Atau bahwa ia pernah melakukan ekspedisi ke belantara Kalimantan selama sekian minggu. Atau ketika ia tersesat di hutan lumut belantara Argopuro dua tahun lalu dengan kehabisan logistik dan hanya bermodalkan peta, kompas, dan korek api.

Pendakian tidak akan pernah sama. Walaupun itu adalah gunung dan trek yang sama. Atau bahkan kawan jalan yang sama. Hal-hal yang terjadi, momen yang terlewati, waktu yang dinanti, segalanya pasti berbeda. Apa yang ia pikirkan?

Continue reading “[CERPEN]: AJIAN GITA”