Literature, personal

[CERPEN]: THE NOMADS OF THE EAST

paul-almasy-gruppe-von-nomaden-in-einer-oase-sahara-afrika-1343919171_b
credit: Paul Almasy: Gruppe von Nomaden in einer Oase, Sahara, Afrika (1955)

We were the Nomads of the East.

I always thought that Earth was the loneliest place in the universe. The roads we took on, all the trees had gone from their roots to the tiniest twigs, the burning asphalt in the summer, the piercing cold of the water in the river everytime we took a sip, the blazing sun although illuminating thousands of iridescent glows could never lift up the shadows within each of our heart.

Say, I had always been on the edge of my non-existent-wooden chair in regard to know the world before us. And what was beyond us. Since I was born I had wanted to set my feet to every inch of the land, leaving traces of wherever I was. But, then, was not that how were living our lives? Wandering her and there, not belonging anywhere.

Until it was later, I found out that if there should be one single thing my heart so desperately desired to obtain, it was a place called home.

Continue reading “[CERPEN]: THE NOMADS OF THE EAST”

Advertisements
Gunung Hutan, Lingkungan Hidup

[CERPEN]: AJIAN GITA

drained
In frame: H. Trahasdani (during a recess, Mt. Argopuro, East Java)

Sinopsis:

Kau yang sedang mencinta, kembali lah kepada realita. Kepada yang hatinya terbelenggu dan tertambat, jangan tertukar antara racun dan obat. Kepada kau yang terjatuh dan tersesat, jangan kau lepas pegangan yang kian menguat.

Ketika Gita berkata bahwa ia merindukan Rengganis.

♫♪ || Banda Neira – Kau Keluhkan (Esok Pasti Jumpa); Ke Entah Berantah; Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti.


“ Kita bakal ikut. “

Aji tidak menyahut.

Apa yang ia pikirkan? Bahwa perjalanan lima hari empat malam menempuh trek puluhan kilometer bakal semudah itu? Dan kini ia berencana untuk melakukannya sendirian. Dia pasti sudah gila.

Sejurus kemudian ia bergumam, “ Gita ingin kesana. “

Lalu kenapa? Saya nyaris menyerukan kalimat itu tepat di telinganya. Ini adalah gunung dengan trek terpanjang di Pulau Jawa. Persetan bahwa ia telah menjelajahi Sindoro menyambung Sumbing dan Slamet. Atau menapaki hutan Lawu dengan keril terisi penuh seringan melangkahi jalanan beraspal. Atau dia sudah bolak-balik menyambangi Semeru, Kerinci, dan Latimojong bersama kawan sekolah atau konco kuliah. Atau ketika ia marathon Merapi-Merbabu hanya karena dorongan impulsif lantaran ia masih kuat untuk lanjut. Atau bahwa ia pernah melakukan ekspedisi ke belantara Kalimantan selama sekian minggu. Atau ketika ia tersesat di hutan lumut belantara Argopuro dua tahun lalu dengan kehabisan logistik dan hanya bermodalkan peta, kompas, dan korek api.

Pendakian tidak akan pernah sama. Walaupun itu adalah gunung dan trek yang sama. Atau bahkan kawan jalan yang sama. Hal-hal yang terjadi, momen yang terlewati, waktu yang dinanti, segalanya pasti berbeda. Apa yang ia pikirkan?

Continue reading “[CERPEN]: AJIAN GITA”