Gunung Hutan, personal

[CERITA PERJALANAN DAN INFO PENDAKIAN]: MERINDU LAWU Pt. 2

fotobersama.gif

Awalnya Fikri dan Shafrian telah bersiap-siap untuk turun menjadi bala bantuan membawakan carrier adik-adik kami sementara sisanya menyiapkan camp. Tak dinyana, ujung hidung Zebian muncul di antara malam yang merambat turun membawa carrier di punggung dan satu lagi di depan tubuh. Hembusan napas lega menyeruak di paru-paru yang sejak tadi tertahan seperti kentut menguar bercampur sulfur.

Kini, kami berpacu pada lembaran awan gelap yang tidak ingin membiarkan warna malam kelabu menghitam. Pokoknya malam harus kelam menyekam. Ditambah kilatan cahaya seperti lampu blitz dalam studio alam terbesar berbentuk lereng gunung. Bahkan saya dapat menghirup aroma hujan dari kejauhan. Awan-awan itu berarak mengancam dengan senapan selang air hujan.

Continue reading “[CERITA PERJALANAN DAN INFO PENDAKIAN]: MERINDU LAWU Pt. 2”

Advertisements
Gunung Hutan, personal

[CERITA PERJALANAN DAN INFO PENDAKIAN]: MERINDU LAWU Pt. 1

google-earth-gunung-lawu.png

Legenda dan mitos masih menyelimuti dari kaki hingga ke puncak gunung yang konon tertua di Pulau Jawa ini. Cerita yang beredar sarat dengan kebudayaan dan kearifan yang masih begitu terjaga kental. Di kelas sejarah kita mempelajari bagaimana kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha begitu Islam menancapkan pengaruhnya di pelosok pulau. Pada Prabu Brawijaya yang melarikan diri ke puncak Lawu untuk menghindari kejaran musuh dan orang-orang yang tidak menyukainya  hingga akhirnya raganya dibuat ‘raib’ di salah satu puncak Lawu yang cukup tersohor: Hargo Dalem.

Tak pelak, Lawu menjadi tempat untuk melaksanakan kegiatan ziarah dan bagi beberapa orang untuk bertapa. Salah satu upacara yang paling terkenal dilakukan pada tanggal 1 Syuro.

Namun yang membuat Lawu cukup populer di kalangan pendaki adalah pemandangan yang ditawarkan. Juga tujuan wisata yang terdiri dari: studio alam, air terjun, kawah, sabana. Gunung ini memang istimewa dengan keunikannya tersendiri. Dan pastinya dengan kualitas yang membuat rindu pendaki manapun. Sayangnya, saat kami melakukan pendakian hutan di sekitaran kaki gunung separuh gundul dan menghitam akibat kebakaran hutan.

Pendakian kali ini ditemani oleh squad yang saya sebut sebagai ‘The Lawu Squad’ sebuah fellowship yang terdiri dari empat belas pendaki yang berusaha mengisi liburan kuliah agar tidak terkesan begitu gabut.

Continue reading “[CERITA PERJALANAN DAN INFO PENDAKIAN]: MERINDU LAWU Pt. 1”

personal, Running

[REVIEW]: AONIJIE CALF SLEEVE COMPRESSION – SIZE S (Bahasa Indonesia)

 

20170816135753_49458
source: Aonijie

Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakaatuh,

Para tukang lari mana suaranyaaaaah~

Yang merasa kedua tungkai kaki gampang rewel akibat hobi menjajal jalanan, mari merapat.

Semua ini berasal dari saya yang kian kegandrungan kegiatan outdoor lari, baik di trackfield atau pun jalanan (road) sejak pertengahan 2017. Dan sepertinya badan saya sempat terkejut dari transisi 50K per bulan menuju angka 80K. Porsi yang kian intens mulai dari menu rutin yang disediakan aplikasi Nike+ untuk menambah performa lari berupa: tempo run, interval run, dan long run. Meskipun memang ‘mendobrak’ kondisi dan kemampuan fisik, tak ayal seharusnya saya lebih berhati-hati lagi.

Cidera yang sering muncul-hilang berawal dari sepanjang tengkuk, pinggang, hingga arah tulang ekor, biasanya di sisi kanan dan bisa berpindah ke kiri. Kemudian muncul lagi cidera baru setelah interval run pertama 4×200 dari sepanjang hamstring hingga pergelangan kaki (yang paling terasa di area betis). Alhamdulillah, setelah mengikuti berbagai tutorial di Youtube untuk mengurangi cidera tersebut, serta menjalani saran dari coach di komunitas lari yang saya ikuti (Fake Runners Depok FTW!), badan saya tidak terlalu rewel lagi. Plus tambahan dari gear yang satu ini.

Saya belum pernah menggunakan running gear apapun. Awalnya saya tertarik untuk mencoba compression tight dari EXPOWER untuk trial kesan pertama penggunaan gear lantaran merek yang lebih mumpuni memiliki harga yang membuat saya cekit-cekit. Macam seperti CWX, Skins, Compressport, dan X2U. Tetapi setelah melewati berbagai bacaan artikel, ulasan produk, dan juga memikirkan budget, akhirnya pilihan jatuh pada calf sleeve compression daripada compression tight itu sendiri.

Dengan kata lain: Takut rugi. Takut rugi banda dan takut tidak cocok secara fisiologis dan mekanis tubuh secara pribadi. Lagipula setelah dipikir (lagi) saya belum menjadi pelari elit. Hanya sekadar mencari kenyamanan dan keamanan selama berlari. Realistis dulu aja lah, tidak perlu langsung splurge sana-sini. Karena ternyata running gear ini dalam beberapa kasus butuh trial and error juga seperti memilih sepatu running yang cocok untuk jenis kaki.

Saya semakin penasaran karena pelari seperti Mas Sage Canaday dan pelari-pelari wanita yang di post akun instagram @runningterritory dan @runningfervor menggunakan calf sleeve ini.

KLAIM

Di website Aonijie tertera deskripsi produk: “The compression leg brace running leg riding off-road sport for men and women basketball calf support sleeve protectors Leggings To accelerate the decomposition of lactic acid can promote blood circu(lation).” [Aonijie Website]

Merek Aonijie ini berasal dari negeri Tiongkok. Bahasa Inggris dari website tersebut agak rancu sekalipun sudah klik pilihan English. Dikarenakan saya tidak bisa Bahasa China jadi berbekal dari tulisan yang saya highlight barusan kurang lebih mendeskripsikan kegunaan utama dari benda ini. Sebagaimana target dari pembuatan compression gear pada umumnya (sock, calf, tight, sleeve) ia mengklaim untuk meningkatkan sirkulasi darah pada area yang di-kompres sehingga produksi asam laktat dari kegiatan olahraga yang dilakukan dapat ‘terpompa keluar’ dari otot-otot yang dilibatkan bergerak.

Continue reading “[REVIEW]: AONIJIE CALF SLEEVE COMPRESSION – SIZE S (Bahasa Indonesia)”

Islam, personal

[JURNAL TENTANG KEKUATAN]: TRUE LOVE

99970032
credit: Pasthika. S (2015)

I have found true love in this emergency, dangerous, time. I have been torn in between, in pieces, out of my flesh and my own mind.

Never thought that I would find a way back. He has been very merciful ever since I could draw my first breath. He has always been near and it was me the one that got away. And I am very much thankful that He, in His infinite kindness, leads me to the right place.

I have found the form of true love. The very essence of it is wonder, kindness, mercy, love, fear, hope, and faith. The very ingredients of a believer.

Everybody must have been on the verge of dying, at least once in their lifetime, including when the grim reaper is knocking on their door. I forgot to turn on the light in this darkest hour but He reached down to me saying, “O child, the believer you are, this is how you should have lived your life. “

This is His will. There is no other way. The only way, the sole answer.

I have been thinking that one thing that had kept me away from expiry was to have that love, fear, and hope. The very ingredients of the believer, the one who holds the true faith, as a person who believes in one God, His messengers, the Holy Qur’an, the angels, the day of Judgment (the reckoning), and the Qada and Qadar.

To tell the truth, I feel ashamed that at such moment, this dark hour, I can actually, evidently, feel His present, the love, the gift. All my life, I have been bestowed in great wonders, with infinite supply of love and mercy. But why would I come to Him covered in blood and guts, salt and tears, begging for an easy walkthrough, as if my life has always been mine all along. Because it was never ever.

I am glad that He never ever abandons me after all this time, the hardest time of my life. I said that I want to find a way back and He showed me how, as simple as tracing down the line of one’s hand. Although for me, it almost feel like on the edge of dying–I’ve never been dying, anyway, so yea.

I wish you, friends, the people, would find a way to your true love, our Creator, our Benefactor, to collect the ingredients as a believer, to gain a closer advance to Him each day. And I pray that He shall lead you in such a path that will make you a true believer as well, it does not really have to be walking down my way, but our life has never been ours anyway.

I am still in the abyss. But I am not alone, never.

When I have this fears aching and clawing my core, then I shall whisper: “I have the Almighty with me. And He’s greater than all of them. “

14/03/2017

Literature, personal

[PERSONAL/CERPEN]: SAJAK BERANTAKAN

99970036
credit: Satria Pasthika (Mt. Argopuro, 2015)

Dikira mudah menjadi pujangga? Apa yang mengalir dari rongga hati menyusupi jemari menjelma tinta di atas kertas lusuh, atau dalam kasus saya, layar berpiksel sekian.

Dikira mudah menjadi pujangga? Apa yang menjalari relung hati, meresap sesak ke dalam nadi dan jantung berdegup, ekspresinya berupa lantunan huruf dan untaian suara bergemuruh rasa. Kilat di kala hujan bulan Juni bakal malu dibuatnya.

Dikira mudah menjadi pujangga dengan rasa penyair? Dikira mudah menjadi penyair dengan rasa pujangga? Memangnya suatu karya bisa mencapai parameter kelayakan hanya karena ia memiliki rima? Saat deretan kalimat menjulang setinggi gedung pencakar langit, berlari ke empat arah mata angin bak kompas kehilangan magnet, membuat pusing tujuh keliling sekalipun nirfaedah dan nihil arti.

Lantunan huruf dan untaian suara berkata itu datang dari peluh merajuk dan pacu adrenalin dan darah di dalam nadi. Apa yang dirasakan dalam fraksi momen tidak akan pernah sama seperti pada tiap butiran di dalam jam pasir. Itulah keistimewaan sang hati. Dan apapun yang tercipta dalam tiap fraksi momen akan terkristalisasi sempurna pada vial-vial mungil.

Sajak berantakan ini ditujukan bagi yang gemar berpikir dan menuangkan rasa, asa, dan isi kepala. Dikira menjadi pujangga dengan rasa penyair, atau pun sebaliknya, tidak membutuhkan segepok ilmu dan segenggam kesabaran dalam merajut prasasti keabadian diri?

Sang pujangga menitipkan sekeping hati pada tiap kisah yang terukir, momen yang tertangkap. Karena ia mengungkap lalu mengubur. Akankah kisah itu bakal bertahan hidup sebagaimana sang pujangga meniupkan ruh ke dalam jasad tinta dan kertas? Atau, dalam kasus saya, ke dalam layar berpiksel sekian.

Deretan sajak itu pantas menerima maaf dari mereka yang pelit untuk bersikap adil dengan memberinya tatanan bahasa dan rasa. Memangnya mereka tidak mampu berpikir sebagaimana kamu yang mengukir?

Sekarang, buka lembaran baru, kemudian lontarkan kata maaf. Lalu kita mulai lagi. Segalanya memang bukan tentang rasa, tetapi segalanya berawal darisana.


Note: Well, I do not mean to be a grammar Nazi but please if you are using your own native language, do it justice and serve it right. What we write is not only to attract the crowd, ut also to impress, enlighten, and bring joy for our own sake. Make a better quality of your creation, thrive for more, acquire for more. It’s never been about how far you can go to reach out the world, but it is how the way to inspire and touch the heart, the head, the mind, the soul. Once the idea is there, it can never be killed.

And no, I’m not even saying that I’m good enough. Here is a perpetual learner with razor-like brain and a sharper tongue to begin with. 

Literature, personal

[CERPEN]: THE NOMADS OF THE EAST

paul-almasy-gruppe-von-nomaden-in-einer-oase-sahara-afrika-1343919171_b
credit: Paul Almasy: Gruppe von Nomaden in einer Oase, Sahara, Afrika (1955)

We were the Nomads of the East.

I always thought that Earth was the loneliest place in the universe. The roads we took on, all the trees had gone from their roots to the tiniest twigs, the burning asphalt in the summer, the piercing cold of the water in the river everytime we took a sip, the blazing sun although illuminating thousands of iridescent glows could never lift up the shadows within each of our heart.

Say, I had always been on the edge of my non-existent-wooden chair in regard to know the world before us. And what was beyond us. Since I was born I had wanted to set my feet to every inch of the land, leaving traces of wherever I was. But, then, was not that how were living our lives? Wandering her and there, not belonging anywhere.

Until it was later, I found out that if there should be one single thing my heart so desperately desired to obtain, it was a place called home.

Continue reading “[CERPEN]: THE NOMADS OF THE EAST”

Islam

[JURNAL TENTANG KEKUATAN]: JURNAL RAMADHAN

COVER-1

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakaatuh, kawan-kawan!

Ramadhan tiba, Ramadhan tiba~

Masyaa Allah, tidak terasa Ramadhan sudah benar-benar memasuki ruang tamu rumah kita. Kali ini kita sedang duduk bersama, menghirup segelas teh manis hangat, sementara ia mengajukan diri untuk menginap; berikutnya, berniat melihat-lihat ke dalam keadaan rumah.

Karena Ramadhan adalah tamu istimewa, siapa pula yang bakal menolaknya?

Sayangnya, pemikiran itu sempat mampir di benak saya. Karena saya takut Ramadhan tiba namun diri ini masih begitu compang-camping dalam hal iman, kemampuan bersyukur, dan tingkat amalan. Betapa tidak tahu diri dan tidak pantas, sudah dua puluh Ramadhan tapi progres seperti langkah-langkah semut.

Satu hal yang membuat saya memilih tebal muka dan memeluk Ramadhan sehangat dekapan ibunda: tidak pernah ada yang tahu derajat manusia satu dengan lainnya kecuali Allah ‘Azza wa Jalla. Titik.

Dan saya berhasil mengadakan yang tidak ada serta membisakan yang tidak bisa. Tidak semua manusia mampu untuk melakukannya sekalipun ia hanyalah langkah kaki-kaki semut.

Continue reading “[JURNAL TENTANG KEKUATAN]: JURNAL RAMADHAN”