Islam, personal

[MY HIJAB STORY]: 365 DAYS

070716_0537_myhijabstor1
Lokasi: Jawa Barat

Assalamu’alaykum,

Akhirnya saya bisa menyempilkan waktu untuk mengisi laman blog, di liburan yang singkat ini. By the way, Taqaballahu minna wa minkum shiyamana wa shiyamakum, Eid Mubarak 1 Syawal 1437. Semoga Allah mengampuni dosa kita yang telah lampau dan kita mampu meraih kemenangan yang sebenarnya. Allahumma aamiin.

Sedikit intro: mengapa saya bersemangat untuk menulis posting berjudul demikian, well karena seorang teman saya bernama Fathiya mengucapkan selamat atas berhijabnya saya ke yang 365 hari. Not exactly tapi saya mengenakan hijab pertama kali kurang lebih di pertengahan menjelang akhir bulan Ramadhan tahun lalu. Now when I think about it is not only how fast time’s past, that many things have changed, for good.

Continue reading “[MY HIJAB STORY]: 365 DAYS”

Literature, personal

[CERPEN]: JURNAL TENTANG KEKUATAN

tumblr_inline_nkfbezmsqg1rg49br
credit: tumblr.com

Wajah-wajah.

Di tiap sudut ruangan, taman, kampus, wajah-wajah yang beralih memandangku memunculkan segenap prasangka dan skenario dari A sampai Z tentang apa pun itu yang mereka pikirkan tentang aku.

Mereka tidak meringis, menyeringai, mencemooh, atau pun mengejek. Sekadar memandang. Tentu saja, bisa jadi, segalanya hanya terjadi di dalam kepalaku.

Aku tidak ingin mereka menatap padaku, abaikan saja. Tidak bisakah mereka membiarkanku menjalani hidup dengan tenang? Mereka pikir merupakan hal mudah untuk melewati hari-hari yang seolah semakin menghimpit dada yang sudah sesak ini?

Mereka tidak tahu. Mereka tidak mengerti

===

Terlalu banyak ketakutan dalam kehidupan dan sungguh sedikit keberanian yang kupunyai bahkan untuk sekadar menghadapi dunia. Bisa jadi karena aku hanya sendirian untuk berjuang—manusia lain memutuskan untuk abai karena merasa mereka yang memiliki kepentingan paling nomor wahid. Atau sesimpel mereka memang tidak peduli.

Selalu begitu.

Aku peduli dengan mereka yang di sekitarku. Aku selalu ingin mencoba membantu mereka yang mengalami kesulitan, yang terabaikan. Karena tidak ingin mereka merasakan yang aku rasakan

Tetapi setelahnya, mereka pun kembali abai. Dan meninggalkan.

Sungguh, aku takjub dengan manusia.

Tidak hanya cukup dengan mengecewakan, mereka pun meninggalkan sesama. Ini yang disebut sebagai persaudaraan? Katanya kita ini adalah keturunan anak-cucu Adam, nyatanya aku dan kamu bahkan enggan untuk saling mengulurkan tangan atau bahkan bertanya apakah kamu dan aku baik-baik saja.

Karena aku sedang tidak baik-baik saja.

Continue reading “[CERPEN]: JURNAL TENTANG KEKUATAN”