Literature

[KISAH]: JINGGA KALA SENJA – AKSARA

semar_3493a
credit: mabrurisirampog.wordpress.com

ACT I – AKSARA

SCENE I. An Apartment, San Francisco.

It was many and many a year ago,
In a kingdom by the sea,
That a maiden there lived whom you may know
By the name of ANNABEL LEE;
And this maiden she lived with no other thought
Than to love and be loved by me.

I was a child and she was a child,
In this kingdom by the sea;
But we loved with a love that was more than love-
I and my Annabel Lee;
With a love that the winged seraphs of heaven
Coveted her and me.

And this was the reason that, long ago,
In this kingdom by the sea,
A wind blew out of a cloud, chilling
My beautiful Annabel Lee;
So that her highborn kinsman came
And bore her away from me,
To shut her up in a sepulchre
In this kingdom by the sea.

The angels, not half so happy in heaven,
Went envying her and me-
Yes!- that was the reason (as all men know,
In this kingdom by the sea)
That the wind came out of the cloud by night,
Chilling and killing my Annabel Lee.

But our love it was stronger by far than the love
Of those who were older than we-
Of many far wiser than we-
And neither the angels in heaven above,
Nor the demons down under the sea,
Can ever dissever my soul from the soul
Of the beautiful Annabel Lee.

For the moon never beams without bringing me dreams
Of the beautiful Annabel Lee;
And the stars never rise but I feel the bright eyes
Of the beautiful Annabel Lee;
And so, all the night-tide, I lie down by the side
Of my darling- my darling- my life and my bride,
In the sepulchre there by the sea,
In her tomb by the sounding sea.

-Annabel Lee, Edgar Allan Poe

There we sat, not in the kingdom by the sea, but in his own room, the clock on the far wall was clicking unrelentingly thus making such eerie sound reverberating to each nook and cranny; it was rather a peculiar night: still, dissolved like diluted ink, almost disquieting in its serenity.

I was a child and he was a child, though people would address us as mere teens with our blissful and joyous adolescence days, but here we were, not in the kingdom by the sea, with I reading this poem to him. I did not have to make him to listen to my regular reading because he had always been conveniently fascinated by it, maybe it was my voice or somewhere between the verse. I would never know. I liked it when he would be completely captured in my reading, tilting his head to one side without uttering a word, his careful eyes bored into mine, we barely broke the staring-contest just because I had memorized each word by the heart.

When I reminisce to this memory, it was vivid and bright, perfectly clear. Just like a pictureperfect memory, there was only he and I, with the limitations reaching infinity, crystallized in this moment forever. I restored it in the secret box at the back of my head.

Continue reading “[KISAH]: JINGGA KALA SENJA – AKSARA”

Advertisements
Islam, personal

[RESPON]: Selfie Cantik Kekinian, Beneran, ah?

14671148_713285312154691_5562302968993739262_n
Sumber: @yanglagirame (Facebook Page)

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakaatuh.

[THIS IS A REPOST FROM PREVIOUSLY-PRIVATED BLOG]

Tepat baru saja kemarin (23/11) saya ditunjukkan mengenai selfie yang disebut kekinian dan telah mulai mendarah daging bagi kaum manusia, terutama digandrungi oleh makhluk Venus yang ditulis oleh Agan Satria Baja Hitam di blog beliau (kemarin saya mencoba untuk membuka laman tersebut tetapi dialihkan ke tulisan lain tulisan telah bisa kembali di akses).

fasa

Sebagai seseorang yang memiliki rasa ingin tahu sangat tinggi dan kecenderungan mencari sebuah validasi akan tiap argumen, saya mencari tahu forum yang disebutkan oleh beliau dengan bantuan Mbah Google. Ya, saya ketik keyword apapun itu yang tersebut dalam tulisan tadi.

Mengejutkan. Bahkan pikiran saya yang tidak lugu pun amat terkejut. Dan jijik.

Oke, mungkin saya memang lugu dan naif. Serta bersyukur belum pernah terpapar hal demikian, hingga pencarian yang mengantar ke laman tersebut. Semoga Allah Tabarakallahu Ta’Ala mengampuni saya akan kekhilafan dalam usaha yang tidak tahu benar atau salah.

Continue reading “[RESPON]: Selfie Cantik Kekinian, Beneran, ah?”

Literature

[CERPEN]: FIKSI

cerita-fiksi
source: google.com

Set: Theater!Universe
Genre: Coming-of-age/Drama/Romance
Mereka hanyalah aktor—menyampaikan kalimat-kalimat dalam sebuah skenario fiksi.

Warning! Ahead

ACT I. DRUPADI 

Scene I. Teater Koma

Hari ini adalah hari yang menyenangkan.

Langit-langit teater disepuh emas dan merah menggebu. Seperti pesta perayaan musim panas yang menghangatkan kalbu. Ribuan pasang mata itu mengikuti langkah para pemain di atas panggung kayu, menunggu dengan hati berdesir, mulut ternganga pada tiap kalimat yang meluncur tak ternyana. Bintang-bintang telah terlempar dari angkasa menghujani teater yang terselubungi kabut kental berduri merah kelabu.

Kristal adalah seorang aktris yang baik.

Serbuk bintang itu menyusup ke dalam bola matanya yang seperti kacang almond. Ia mengenakan kain sari berwarna merah, kulitnya yang cerah dibiarkan demikian adanya selain pulasan gincu yang menyala sama dengan kostum yang dikenakan. Menggambarkan dirinya sebagai Drupadi: putri kerajaan Panchala yang terlahir dari api. Suaranya bulat, di antara alto dan soprano, dan pastilah terdapat sihir dalam tiap melodi yang ia lantunkan. Sekalipun ia tidak bernyanyi. Kristal mengucapkan nada-nada.

Dan malam itu wajahnya bak rembulan. Delta tidak ingat kapan Kristal terlihat lebih cantik dari momen dimana ia melangkah ke atas panggung, membawakan monolog pertamanya.

Malam itu bukan hanya penonton yang tersihir. Delta yakin sepotong jiwa telah terbelenggu mantranya.

Drupadi telah jatuh cinta pada Arjuna—dirinya, tetapi apapun yang dimiliki seorang Pandawa maka menjadi miliki saudara Pandawa yang lain.

Penonton pun terbelenggu mantra yang sama. Para kritikus memuji mereka setinggi singgasana dewa-dewa. Mereka sudah mementaskan adaptasi ini di kota besar seluruh negeri. Dan Kristal pantas mendapat sorotan utama karena ia adalah seorang aktris yang baik.

Delta menatap kakak sulung yang ditakdirkan sebagai raja di antara raja, Yudhistira—mempertaruhkan harta, takhta, bahkan adik-adiknya di atas meja judi. Termasuk dirinya sendiri.

Sekelibatan jiwa yang tak biasa itu timbul tenggelam dari tingkap oval milik sang kakak sulung—Kai tidak pernah tampil lebih baik daripada malam ini. Delta hampir yakin bahwa itu bukanlah topeng belaka.

Yudhistira hanya memiliki satu pertaruhan terakhir: Drupadi. Segalanya atau tidak sama sekali.

Drupadi diseret bagai seekor kuda dan dipermalukan di istana terhormat itu. Sementara kelima suaminya serta para tetua hanya bisa terdiam. Ia berontak—memperjuangkan harkatnya sebagai seorang wanita yang dipertaruhkan oleh suaminya sendiri di meja judi. Apakah Yudhistira yang bahkan telah menggadaikan dirinya sendiri masih mempunyai hak atas dirinya?

Lolongan wanita itu memecah keheningan malam—sedetik kemudian para penonton tersentak. Kain yang membelit tubuhnya secara ajaib tidak habis tatkala para Kurawa berusaha menelanjanginya.

Mungkin penderitaan adalah jalan sunyi menuju keindahan yang lebih abadi…

Tirai beludru merah melingkupi panggung dalam bayangan gelap. Ketika pertunjukkan benar-benar akhir, para penonton berdiri memberikan standing ovation dan bersuit heboh. Puncakan auditorium itu nyaris bergetar oleh gema tepukan tangan yang kian tinggi desibelnya. Delta menempatkan diri di antara pemain lain sementara pemeran tambahan dan ekstra mulai mengular ke tengah panggung  saling beradu bahu.

“ Luar biasa. “ Kulitnya seraya beledu yang meluncur melewati bahunya yang resap oleh keringat eksitasi. Delta lebih dari sekadar mendengarnya—entitas Kai seolah hantu yang mengusap ujung kepalanya. Suaranya sarat runcing ujung anak panah dan seringai.

Tatkala tirai kembali terbuka, mereka membungkuk sekali lagi kepada penonton yang masih bertepuk tangan membahana.

Kai adalah supernova. Pertunjukan ini adalah tentang Drupadi. Tapi dia adalah bintangnya, setidaknya bagi Delta.

“ Terima kasih, “ Ia bergumam hingga hanya Kai yang mampu mendengarnya. Telapak tangannya meluncur hingga jemari mereka bertautan di antara kain yang membalut.

Para pemain memberikan satu bungkukan terakhir. Dan tatkala Delta mengangkat pandangannya ia yakin bahwa malam itu ia jatuh cinta.

Arjuna telah menemukan cintanya. Pada sang putri yang terlahir dari api.
Continue reading “[CERPEN]: FIKSI”